Breaking News
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

05 Juli 2025

Hari Ini Aku Lulus, Tapi Siapa yang Akan Aku Peluk di Depan Sekolah?

hanapibani.com

Cerita: Kisah seorang anak yatim yang berdiri sendirian di hari kelulusannya.

Bab 1: Seragam yang Mulai Kekecilan, Tapi Tetap Kusetrika Rapi**

Namaku **Reno**, 12 tahun. Hari ini aku resmi lulus dari SD.

Pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya. Seragam putih biru yang mulai kekecilan tetap kusetrika sendiri dengan setrika tua di dapur. Sepatu usang yang bagian depannya mulai terbuka, kuikat lebih kencang.

> Karena ini hari penting.

> Hari yang katanya jadi kebanggaan semua orang tua.

Tapi sejak subuh tadi... **rumahku sepi.**

Tidak ada suara Ibu di dapur. Tidak ada Ayah yang memanggil dari ruang tengah.

Karena **Ayah sudah meninggal sejak aku kelas 3**. Dan **Ibu… baru saja pergi 3 bulan lalu karena sakit yang tak sanggup lagi disembunyikannya di balik senyum.**


Bab 2: Semua Anak Tertawa, Tapi Aku Menahan Air Mata**

Di halaman sekolah, ramai suara tawa, musik, dan kamera ponsel.

Teman-temanku berdiri rapi, mengenakan selempang kelulusan, bunga plastik, dan pita warna-warni.

Orang tua mereka bersorak, memeluk, mencium, bahkan meneteskan air mata bangga.

Aku berdiri sendiri.

Guruku, Bu Nani, menghampiri dengan senyum iba.

> “Reno, kamu kuat, ya. Ibu dan Ayahmu pasti bangga di surga sana…”

Aku tersenyum, tapi mataku mulai berkaca.

> Karena aku ingin sekali… hanya sekali… **memeluk seseorang hari ini.**


Bab 3: Satu Nama Tak Disebut**

Satu per satu nama dipanggil ke panggung.

Orang tua ikut naik. Anak-anak memeluk mereka erat. Ada yang sampai menangis. Ada yang melompat karena bahagia.

Lalu namaku disebut.

> “Reno Aditya… peringkat 4 besar, dan lulus dengan nilai sangat baik.”


Aku naik ke panggung. Langkahku kaku.

Dan saat aku berdiri di tengah panggung, **kursi untuk pendamping di sampingku kosong.**

Semua orang melihat.

Tapi aku menunduk. Aku menggenggam ijazah erat-erat.

Lalu, pelan… **aku memeluk ijazah itu seperti memeluk seseorang yang tak bisa hadir.**


Bab 4: Di Balik Pintu Gerbang, Semua Anak Berpelukan**

Selesai acara, suasana berubah jadi lautan pelukan.

Anak-anak memeluk ibunya. Ada yang digendong ayahnya. Ada yang difoto bersama keluarga besar.

Aku berdiri di dekat gerbang sekolah.

Kepalaku tertunduk. Aku mencoba kuat.

> “Hari ini aku lulus. Tapi… siapa yang akan aku peluk di depan sekolah?”


Tangan kecilku menggenggam gagang pagar.

Dan tiba-tiba, aku melihat **bayangan samar seperti Ibu berdiri di sisi kanan pagar**, tersenyum… lalu menghilang pelan-pelan.


Bab 5: Surat Terakhir Ibu, Terselip di Kotak Obat**

Malamnya, aku membuka laci tua peninggalan Ibu. Di sana, aku menemukan **sepucuk surat yang tak pernah kubaca sebelumnya**, diselipkan di bawah botol obat.

Tulisan tangan Ibu:

> *“Untuk Reno, anakku yang kuat…*

> Maaf kalau Ibu tak bisa hadir di hari kelulusanmu nanti.

> Tapi Ibu percaya, kamu akan berdiri tegak.

> Kalau hari itu datang, dan kamu merasa sendirian di depan sekolah, ingat ini:

> **Peluklah langit, Nak. Karena di sanalah pelukan Ibu berada…**

> Ibu selalu bersamamu, dalam langkah, dalam doa, dan dalam setiap keberhasilan yang kamu raih.

> Selamat lulus, anakku. Kamu sudah hebat. Maaf kalau Ibu tak bisa menunggu hari itu…”


Aku menangis tersedu.

Aku peluk surat itu sekuat mungkin, seolah-olah bisa menarik Ibu turun dari langit.


Bab 6: Sekarang Aku Tahu, Aku Tidak Sendiri**


Besoknya, aku kembali ke sekolah untuk mengambil foto bersama. Teman-teman mulai pamer rencana masuk SMP favorit.

Aku diam saja.

Tapi saat akan pulang, Bu Nani menyodorkan satu tas plastik.


> “Ini dari kami, guru-gurumu. Kami tahu kamu sendiri, Reno. Tapi kamu tak pernah benar-benar sendirian.”

Isinya?

Satu stel seragam SMP baru.

Dan kartu ucapan bertuliskan:

**“Untuk Reno, yang sudah kuat terlalu lama. Hari ini, kamu boleh menangis.”**


Bab 7: Hari Itu Aku Lulus—Dan Aku Memeluk Langit**


Aku berdiri di jalan kecil menuju rumah. Langit sore berwarna jingga. Aku mendongak ke atas.

> “Bu, Ayah… aku lulus hari ini.”

> “Aku berdiri sendirian di gerbang sekolah, tapi aku tahu… kalian memelukku dari jauh.”


Lalu aku tersenyum dalam air mata.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa pelukan itu benar-benar ada.


Bab 8: Pelukan yang Datang dari Arah yang Tak Kusayangka**


Tiga hari setelah kelulusan, aku tak ke mana-mana.

Ijazah masih kusimpan di laci kecil, bersama surat terakhir dari Ibu.

Aku hanya duduk di beranda, menatap jalanan, memikirkan satu hal:


> “Apa aku akan selalu sendiri?”


Sore itu, seseorang datang ke rumah.

**Pak Husen**, penjaga sekolah. Lelaki tua yang biasanya hanya menyapu dan menyalakan lampu kelas.


Dia berdiri di depan pagar dan berkata:

> “Nak Reno, boleh Pak Husen masuk sebentar?”


Aku mengangguk.

Di tangannya ada bungkusan plastik berisi dua nasi bungkus dan satu jaket sekolah berwarna abu-abu—seragam SMP.


> “Bapak tahu kamu gak punya siapa-siapa sekarang.

> Tapi... kamu anak baik. Kalau kamu gak keberatan, kamu bisa ikut Bapak tinggal.

> Rumah Bapak kecil. Tapi kita bisa makan bareng, belajar bareng, dan... kamu boleh peluk Bapak kapanpun kamu butuh.”


Aku tak menjawab.

Aku hanya berdiri... lalu **memeluk Pak Husen erat-erat**, menangis di dadanya.

Untuk pertama kalinya sejak kepergian Ibu... **aku merasa seperti anak kecil lagi.**


Bab 9: Setiap Malam, Aku Tetap Memeluk Langit**

Tinggal bersama Pak Husen bukan hal mudah. Kami hidup pas-pasan. Tapi **setiap pagi ada yang membangunkanku**, menyeduhkan teh, dan berkata:

> “Ayo, anak kuat. Berangkat sekolah.”


Di sekolah SMP baruku, aku diam saja. Tak banyak bicara.

Sampai suatu hari, guru meminta kami menggambar "Pelukan Terindah dalam Hidupmu".


Anak-anak menggambar ibu, ayah, nenek.

Aku menggambar: **langit.**


Saat guruku bertanya, aku menjawab:


> “Pelukan terindahku… tidak bisa kulihat. Tapi bisa kurasa setiap malam saat aku menutup mata.”


> “Pelukan itu datang dari orang yang kini tinggal di langit,

> dan dari orang yang tak pernah kulahirkan, tapi memilih memelukku seperti anak sendiri.”


Bab 10: Lulus Lagi, Tapi Kali Ini Aku Tak Sendiri**

Waktu berlalu. Hari kelulusan SMP datang.


Aku berdiri di lapangan, mengenakan seragam terakhirku, sudah mulai kekecilan lagi, tapi bersih dan rapi.


Namaku kembali dipanggil:

> "Reno Aditya. Lulus dengan nilai terbaik. Peraih beasiswa penuh."


Tapi kali ini, saat aku melangkah ke depan...


**Pak Husen berdiri di sampingku.**

Ia tak berkata apa-apa, hanya menepuk pundakku pelan.


Dan aku memeluknya…

Bukan karena sedih seperti dulu,

Tapi karena **akhirnya aku tahu: aku tidak benar-benar sendirian.**


Bab 11: Surat Untuk Ibu, dari Anak yang Sudah Tak Sendiri**


Malam itu, aku menulis surat dan menaruhnya di bawah bantal.


> “Ibu...

> Hari ini aku lulus lagi.

> Dan seperti hari itu, aku masih menatap langit dan berharap Ibu turun sebentar untuk kupeluk.

> Tapi tak apa. Aku sudah besar sekarang.

> Dan pelukan itu... kini hadir lewat tangan Pak Husen, lewat teman yang peduli, lewat guru-guru yang percaya padaku.

> Ibu, aku gak pernah lupa rasanya berdiri sendiri di depan gerbang sekolah.

> Tapi kini... aku tahu,

> **setiap langkah sepi yang dulu Ibu tinggalkan,

> telah berubah jadi jalan untukku menemukan keluarga yang baru.**

> Aku rindu, Bu. Tapi aku juga bahagia.”


Bab 12: Aku Melanjutkan Sekolah, Tapi Bukan Cuma untuk Diriku Sendiri**


Dengan bantuan beasiswa, aku masuk SMA terbaik di kota kecilku.

Setiap pagi, sebelum berangkat, Pak Husen selalu bilang:


> “Kalau kamu pintar, Nak… jangan cuma buat diri sendiri. Ingat rasa sepi itu.

> Suatu hari, kamu harus jadi pelukan untuk orang lain yang kehilangan.”


Kalimat itu terus melekat di hatiku.


Aku belajar lebih giat dari siapa pun. Tidak karena ingin dipuji. Tapi karena aku ingin **membuktikan pada langit, bahwa anak yatim pun bisa berdiri setinggi bintang.**


Bab 13: Di Hari Kelulusan SMA, Aku Membawa Dua Foto**

Hari itu, aku lulus SMA dengan nilai tertinggi.


Saat namaku dipanggil dan aku berdiri di atas panggung, aku mengambil sesuatu dari sakuku:


* Foto Ibu, tersenyum dengan kerudung kuning yang dulu ia pakai terakhir kali ke pasar.

* Foto Ayah, hitam putih, usang, tapi masih kukenali matanya yang hangat.


Aku angkat kedua foto itu di hadapan semua orang.


> “Ini pelukanku hari ini. Bukan dari tangan yang nyata,

> tapi dari cinta yang tak pernah mati… bahkan saat pemiliknya sudah pergi.”


Seluruh lapangan hening.


Dan Bu Nani—guru SD yang dulu memelukku saat aku sendiri—menangis di barisan kursi belakang.


Bab 14: Aku Kembali ke Sekolah Lama—Tapi Bukan Lagi Sebagai Murid**

Lima tahun kemudian, setelah lulus kuliah, aku kembali ke SD tempat aku dulu berdiri sendiri di gerbang.


Tapi kali ini, **aku datang bukan sebagai anak kecil yang kehilangan**.

Aku datang sebagai **guru muda**, mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam.


Anak-anak memanggilku, “Pak Reno!”


Dan setiap kali ada acara kelulusan, aku perhatikan satu hal:


> Siapa yang berdiri sendiri di pojok pagar?

> Siapa yang tidak dijemput?

> Siapa yang memandangi temannya memeluk orang tua sambil diam-diam menunduk?


Dan untuk anak-anak itu, **akulah pelukan itu sekarang.**


Bab 15: Pelukan yang Tertinggal di Langit, Kini Kuturunkan ke Bumi**

Suatu sore, aku membuka rumah kecil peninggalan Pak Husen yang kini sudah berpulang.


Kudekor sederhana, kuberi papan nama:


> **"Rumah Pelukan Reno" – Tempat Tinggal dan Belajar Gratis untuk Anak-anak Tanpa Pelukan."**

Anak-anak mulai berdatangan. Ada yang yatim. Ada yang ditinggal. Ada yang hanya ingin merasa disayangi.


Setiap sore, aku duduk di teras.

Dan satu per satu mereka datang, memelukku sambil berkata:


> “Pak Reno, hari ini aku lulus…”


Dan aku membalas, sambil menahan air mata:


> “Pelukan ini… buat siapa pun yang pernah berdiri sendirian di gerbang sekolah.”


🌤️ TAMAT – Tapi Kini, Pelukan Itu Telah Menjadi Rumah Bagi Banyak Anak yang Pernah Sendiri 🌤️



Cek Seragam sekolah sd celana panjang merah hijau putih coklat hitam sd seragam sekolah sd mi madrasah dengan harga Rp45.900. Dapatkan di Shopee sekarang! https://s.shopee.co.id/2VgOqVVHLp?share_channel_code=1

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan tentang "Panduan Masuk ke Pembelajaran Mandiri di Ruang GTK Kemenag", semoga bermanfa'at. 

Terimakasih atas kunjungannya, mohon doa' agar kami sekeluarga diberikan kesehatan dan blog ini terus berkembang serta berguna bagi semua orang.
Memberi manfa'at baik di dunia maupun di akhirat.

Untuk mendapatkan pemberitahuan langsung mengenai artikel terbaru di facebook dari website ini silakan klik suka pada halaman kami  HANAPI BANI 

atau gabung Group kami;

Youtube ;(Klik DISINI)
Instagram ; (Klik DISINI)
Telegram ; (Klik DISINI)
Bip ; (Klik DISINI)
Halaman FB 
(Klik DISINI)

WA 1 ; (Klik DISINI)
WA 2 ; (Klik DISINI)
WA 3 ; (Klik DISINI)
WA 4 ; (Klik DISINI)

WA 5 ; (Klik DISINI)
WA 6 ; (Klik DISINI)
WA 7 ; (Klik DISINI)
WA 8 ; (Klik DISINI)
WA 9 ; (Klik DISINI)
WA 10 ; (Klik DISINI)
WA 11 ; (Klik DISINI)
WA 12 ; (Klik DISINI)
WA 13 ; (Klik DISINI)
WA 14 ; (Klik DISINI)
WA 15 ; (Klik DISINI)
WA 16 ; (Klik DISINI)
Komunitas WA #1 ;(Klik DISINI)
Komunitas WA #2 ;(Klik DISINI)
Saluran WA tanpa Batas ; (Klik DISINI)

Ùˆ ØµÙ„Ù‰  Ø§Ù„له Ø¹Ù„Ù‰ سيدنا محمد Ùˆ على أله
 Ùˆ صحبه Ùˆ سلم أجمعين
ثم السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Protected by Copyscape 

Baca selengkapnya ...

29 Juni 2024

Pelatihan yang Tak Terlupakan


Aku adalah seorang guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Hulu Sungai Utara. Suatu hari, sebuah surat panggilan dari Kementerian Agama Kabupaten Hulu Sungai Utara datang. Surat itu mengabarkan bahwa ada salah seorang sahabat lama dan rekan kerja di madrasah lain yang bernama Hanapi, telah terpilih juga untuk mengikuti pelatihan Karya Tulis Ilmiah di Balai Diklat Keagamaan Banjarmasin. Aku merasa bangga dan antusias, sebab ini adalah kesempatan emas untuk menambah pengetahuan dan menjalin persahabatan dengan peserta dari berbagai daerah.

Pagi itu, suasana Balai Diklat Keagamaan Banjarmasin terasa penuh semangat. Aku dan Hanapi tiba bersama utusan dari seluruh Kalimantan: Tengah, Timur, Utara, dan tentu saja sesama dari Kalimantan Selatan. Kegembiraan menyelimuti ruangan besar tempat kami berkumpul. Setiap wajah membawa cerita dan semangat untuk belajar.

Hari-hari pelatihan berlangsung dengan penuh keasyikan. Kami dibekali ilmu tentang metodologi penelitian, teknik penulisan ilmiah, dan cara menyusun laporan yang baik. Meski padat, suasana kelas selalu diwarnai tawa dan diskusi yang hidup. Para instruktur sangat berpengalaman, mampu memecahkan suasana serius dengan candaan yang tepat, membuat kami semakin terlibat dalam setiap sesi pelatihan.

Di sela-sela kegiatan, kami sering duduk bersama di taman Balai Diklat, berbincang tentang pengalaman mengajar di daerah masing-masing. Para peserta dari Kalimantan Tengah, Timur, Utara, dan Selatan saling bertukar cerita tentang budaya lokal, tantangan dalam mendidik, dan cara-cara kreatif mengajar di madrasah. Aku menemukan betapa kaya dan beragamnya pengalaman mereka, dan betapa banyak pelajaran yang bisa dipetik dari perbedaan itu.

Namun, di balik semua pengalaman indah, ada satu momen yang hanya cukup untuk dikenang berdua. Satu malam, setelah sesi pelatihan yang melelahkan, Aku dan Hanapi memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Balai Diklat. Langit cerah dengan taburan bintang yang memukau. Kami berbicara panjang lebar tentang masa depan pendidikan dan cita-cita kami masing-masing. Percakapan itu menjadi sangat mendalam dan penuh makna, seolah waktu berhenti di antara obrolan kami.

Pada suatu titik, kami terhenti di tepi sebuah kolam kecil yang berkilauan di bawah cahaya bulan. Hanapi kemudian berkata, “Mungkin kita tak akan selalu berada di tempat yang sama, tapi momen ini akan selalu kita kenang.” Kata-katanya terasa begitu dalam. Itu adalah pengalaman yang tak akan pernah terlupakan, sebuah kenangan yang menjadi milik kami berdua selamanya.

Pelatihan pun berakhir, meninggalkan kesan mendalam di hati setiap peserta. Aku kembali ke Hulu Sungai Utara dengan semangat baru, pengetahuan yang lebih luas, dan sebuah kenangan berharga yang akan selalu aku bawa. Hanapi, dengan senyumnya yang khas, hanya berkata, “Ini baru awal, perjalanan kita masih panjang.” Aku setuju. Setiap perjalanan adalah bagian dari cerita panjang yang akan terus kami tulis bersama.

Catatan:
Cerita diatas adalah sebuah karangan fiksi yang mungkin bisa dijadikan referensi bagi peserta yang ingin menulis pengalamannya saat ikut pelatihan.

Baca selengkapnya ...

05 Februari 2020

Hijab Terakhir Untuk Suami

www.hanapibani.com

(Berdasarkan kisah nyata)

"Dek mbok kamu tu pakai hijab gitu lo biar kliatan santun di liatnya."

"Nanti ah mas, aku tu belum dapet hidayah aja, yang penting kan sholat 5 waktu gak tinggal mas."

"Kan hijab itu kewajiban dek, emang kamu gak takut apa mas masuk neraka gara-gara kamu telanjang kepala gitu."

"Apa sih mas, dosa gak berhijab mah tetap aku yang nanggung nantinya, aku juga suka masih kepanasan, nanti pasti aku pakai kok mas."

"Yasudah lah dek kalo kamu maunya kayak gitu, mas gak akan menyerah ngingetin kamu buat menutup aurat sesuai syaria'at agama."

Begitu terus menerus setiap hari, aku selalu berdebat dengan mas Ardi. Setiap setelah sholat mas ardi selalu memujiku akan anggun dan cantik nya aku saat terbalut mukenah.

"Kamu cantik dek, kalo pakai mukenah"

"Ber'arti aku gak cantik kalo gak pakai mukenah? Iya?"

"Ya cantik to dek, maka dari itu mas gak rela kecantikan mu itu banyak di nikmati banyak laki-laki  di luar sana"

"Alasan mas saja itu mah"

"Sungguh dek, bener demi Allah mas gak ridho kecantikan mu di nikmati banyak lelaki"

"Nanti mas nanti, nanti setelah hidayah itu datang pasti akai pakai hijab."



Sudah sering aku ber intonasi tinggi saat berbicara tentang ini dengan mas Ardi, sesungguhnya aku ingin sekali menurut dengan perintah mas ardi untuk berhijab, namun saja aku belum siap.

aku wanita karier yg bekerja di salah satu perusahaan suwasta terbesar di kota ini, pekerjaan yg super padat dan mengharuskan aku mondar-mandir ke sana ke mari mengurus berkas, dokumen hingga hal-hal lainya, membuatku mempertimbangkan keputusan ini.

Aku tak ingin berhijab hanya sesaat, aku tak mau berhijab hanya coba-coba atau mengikuti tren hijab kekinian, aku ingin berhijab saat aku benar-benar siap dan mantap.

Lagi-lagi mas Ardi mengajak ku berbicara, kali ini mas Ardi serius.

"Dek, aku denger di kantormu sudah banyak yg berhijab dan hal itu sudah legal?"

"Iya mas, iya, aku pusing kamu selalu bahas hijab hijab hijab terus, aku pusing"

"Astaghfirullah dek kamu....."

Kali ini mas Ardi berintonasi lebih tinggi dariku, segera aku meninggalkan nya pergi demi menghindari perkelahian.



Suatu malam dalam sujud, aku meminta kepada Allah agak membukakan pintu hatiku untuk berhijab, tak hentinya aku ber istighfar memohon ampun kepada Allah.

Sengaja tidak kubuka mukenah dan menuju cermin, kulihat wajah sembab ku di dalam cermin, aku menangis karna telah membantah perkataan mas Ardi.

Setelah sholat subuh, kusiapkan sarapan untuk kedua putri kembarku dan mas Ardi, khusus pagi ini aku memasak bihun goreng kesukaan mas Ardi dan telor dadar mentega kesukaan si kembar.

Setelah pulang dari masjid, mas Ardi membangunkan si kembar yg tertidur di mushola samping kamar tidurku, lalu kami sarapan bersama.

Kulihat wajah mas Ardi yang masih terlipat karna perkelahian kami semalam, mungkin mas Ardi mulai lelah.

Setalah si kembar di jemput mobil jemputan sekolah, aku bergegas ganti baju, mas Ardi memasukan laptop dan peralatan kerjanya.

"Dek, ayok udah siang ni"

"Sebentar mas, sebentar" teriakku dari dalam kamar.

"Cepat! mas keluarin motor dulu, hari ini kita naik motor ya, udah siang mas takut macet."

"Iya" aku masih berteriak dari dalam kamar

Mas Ardi memanaskan mesin motor kesayangannya, kulihat punggung mas Ardi yg sudah menggunakan jaket coklat kesayangannya.

"Ayok mas"

Mas Ardi menoleh ke arahku, kulihat wajah tercengangnya, ku lihat netranya berbinar dan bibirnya mengucap pujian Allah.

"Masya Allah laa haula waa laa quwwata illa billah."

Tak henti-hentinya mas Ardi memandangku, kudekati tubuh mas ardi dan meraih helem di tanganya.

"Sini mas pakaikan dek! adek cantik banget pakai hijab sampe mas tercengang, mas bahagia banget sayang"

"Aku juga seneng, kalo mas seneng, janji ya mas jangan brantem lagi, aku udah nurut perintah mas."

"Iya dek, tapi kamu iklas kan berhijab?"

"Insyaallah, pasti selalu siap mas, dan mulai detik ini aku mantap berhijab"

"Alhamdulillah, semoga istiqomah ya sayang"

"Aamiin"

"Pegangan yg erat mas mau ngebut hehe"

"Jangan ngebut mas, aku takut"

Mas Ardi tertawa cekikikan di atas motor, tangan kirinya meraih tanganku untuk memegang erat pinggangnya, kunikmati pagi ini dengan suka cita, terimakasih ya Allah atas berkah mu pagi ini.

Sesampainya di depan kantor, kucium tangan mas Ardi , mas Ardi memegangi kepalaku saat aku tertunduk mencium tangan nya.

"Mas ridho sayang"

"Makasih mas, aku masuk dulu"

Mas Ardi melaju berlahan meninggalkan halaman kantor, kulihat di balik kaca di dalam kantor, mas Ardiku , aku makin cinta dengan yang terjadi pagi ini.

Siang hari saat jam istirahat ku buka gawai dan terselip pesan chat dari suamiku

"Bidadariku, jangan lupa sholat, jangan lupa makan, nanti mas pulang agak telat, adek bisa kan pulang sendiri? Dan tolong masakin masakan yang enak buat kita makan malam nanti."

Ku balas chat nya hanya dengan emoticon love dan cium-cium  karna aku terburu-buru menuju kantin menyusul teman-temanku yang sudah menunggu.



Sore harinya aku pulang, aku sengaja mampir ke supermarket dekat rumah, ku beli beberapa bahan masakan, sesampainya di rumah gadis kembarku sudah mandi dan menonton tv.

"Nak, ibu mau masak, siapa mau bantu ibu memasak?"

Keduanya berebut menunjuk tangan tanda semangat. Saat sedang sibuk memasak, gawaiku berdering hingga 5 panggilan tak terjawab.

Kubuka gawai dan ku lihat, ternyata mas Ari teman kantor suamiku, ku hubungi mas Ari dengan segera.

Tut.... Tut.... Tut...

"Halo"

"Assalamualaikum mas ari"

"Wa'alaikumsalam"

"Kenapa mas Ari kok menelfon? Maaf tadi aku lagi sibuk di dapur jadi gak denger"

"Gini mbk, mbk bisa dateng ke rumah sakit **** "

"Memang ada apa ya mas?"

"Gini, mas Ardi tadi jatuh dari motornya di depan kantor saat akan putar balik"

Deg jantungku hampir copot. Aku berpamitan dengan ke 2 putri kembarku, semua kompor kumatikan, ku wanti-wanti si kembar untuk tidak meneruskan masakanya.

Aku meraih hijab yang tadi ku pakai, ku ambil kunci mobil mas Ardi yg tergantung di samping lemari tv , ku lajukan  mobil dengan kecepatan sedang.

Setalah sampai di rumah sakit, mbk Rina sepupu mas Ardi satu-satunya kerabat kami di kota ini menghampiriku dengan isak tangis, aku semakin kecut dan lemas.

"Knpa mbak? Kenpa? Mana mas Ardi?"

"Kamu yang tabah sari, suamimu sudah berpulang"

Dunia gelap......

Tersadar , Alhamdulillah cuma mimpi ternyata aku kelelahan bekerja dan aku tertidur gumamku.

Aku terbaring di kamarku, namun ku mendengar riuh dan tangis, aku lari keluar kamar, dan benar mas Ardi, mas Ardiku, mas Ardiku kenapa? Ku tanyai semua orang, ku suruh orang-orang membangunkannya.

Mbk Rina menenangkan ku.

"Ini barang Ardi sar, entah apa isinya coba kamu buka"
mbk Rina menyodorkan keresek putih yang berisikan sebuah kotak kado.

Kubuka kasar kertas kado itu, kulihat 4 helai hijab polos berwarna coklat,hitam, pic, dan ungu.

Tangisku pecah sekencang-kencangnya, kulihat masih ada kertas di dalamnya.

"Selamat hari pernikahan yang ke 12tahun dek, pagi ini kamu sudah kasih mas kejutan, mas bahagia sayang, tidak henti-hentinya mas memikirkan mu seharian ini, mas bahagia, mas sengaja belikan beberapa hijab untuk mu sayang, semoga kamu suka, tetep istiqommah sayang, karna kamu adalah cerminan ke dua buah hati kita"

"MAS ARDIIIIIIII"
 teriakku sekencang-kencangnya...

Untuk terakhir kalinya ku lihat jasad mas Ardi, tidak ada sedikitpun luka di tubuhnya, mas Ardiku pergi meninggalkan ku, mas Ardi pergi tepat di tahun ke 12 pernikahan kami.

mas Ardiku sudah tenang, dia pergi dengan melihat keinginannya yang telah terwujud,  mas Ardi maafkan segala kesalahan dan kekuranganku selama ini. Pesan mu tidak akan pernah ku lupakan.

Tunggu aku di sana mas, aku berjanji kita akan berkumpul di surga bersama gadis kembar kita.

NB ,cerita nyata dari salah satu sahabatku , jadi mbk sari (bukan nama asli) adalah teman sekantor sahabatku.



Oleh: Ayu Lestari
Baca selengkapnya ...

PERNIKAHAN SATU MALAM



Oleh. Dinda Pramesti

Kehidupan di desa memang lebih asri dan sejuk.
Tapi di saat seorang gadis sudah beranjak dewasa, dan belum menikah, jelas akan jadi guncingan para tetangga.

Padahal kan kita tau bahwa jodoh itu rahasia Tuhan.
Entahlah, sudah menjadi tradisi, meskipun usia belum genap 20 tahun kalau dia tidak mondok atupun tidak sekolah pastilah di suruh cepet-cepet menikah. Takut jadi perawan tua, katanya sih begitu.



Ayah memberi ku nama Vivi, setelah tamat Aliyah (SMA)  tidak melanjutkan sekolah.
Karena kasihan ibuku, harus banting tulang sendirian, untuk membiayai adik-adiku.

Ketika aku masuk Tsanawiyah, kontrak ayahku di dunia telah berakhir.

Sebenarnya pingin menimba ilmu di pesantren, tapi hanya bertahan dua tahun saja.

Dan akhirnya membantu ibu ngurus adik-adik, kadang juga ikut ke sawah, memetik sayuran yang paginya di jual ke pasar.

Begitulah kehidupan kami sehari-hari. Sederhana tapi membahagiakan berkumpul dengan keluarga.

Kegiatanku kalau pagi sampai siang menjelang dzuhur kerja jahit di konveksi sebelah rumah.

Kalau sore mengajar ngaji TPA di masjid kampung ku.

Niat dari awal adalah berjuang, tapi ternyata juga dapat uang saku dari pak kyai pemilik masjid.

Gunjingan tentang diriku yang belum menikah selalu ku dengar tiap hari.

Kadang sampai merasa kasihan sama ibuk dengan gunjingan itu.

Anak seorang janda, perawan sudah gede belum juga menikah. Itulah kata-kata yang sering ku dengar.



Pada suatu sore, om ku datang ke rumah bersama laki-laki lumayan tua.

Ternyata mereka mau menjodohkanku dengan laki-laki yang tak ku kenal.

Dua hari kemudian laki-laki yang akan di jodohkan denganku datang ke rumah untuk ta'aruf.

Ku akui dia lelaki yang tampan, tinggi berkulit putih. Tapi namanya juga belum kenal jadi ya begitu. Anehnya itu, aku merasakan sesuatu yang tidak beres.

Entah ada apa, dan menyembunyikan apa.
Aku tidak tau.

Setelah berunding, para orang tua setuju dengan perjodohan ini, tanpa minta persetujuanku. Dan akupun juga tidak bisa menolak. Terpaksa aku menerima perjodohan ini.

Semua keluarga dari pihak ibu dan ayahku mendukung, juga menyumbang kebutuhan untuk acara pernikahanku.

Tidak ada dekorasi mewah, hanya ijab qobul saja, itupun di mushola peninggalan orang tua ayahku.

Saat acara ijab qobul, aku duduk di rumah dengan bercucuran air mata.
Aku menyesali mengapa pernikahan ini harus terjadi.

Ya Allah, apa dia benar-benar jodoh pilihan-Mu.
Tapi kenapa perasaanku tidak enak begini.

"Kasihan mbak Vivi, harus menerima perjodohan." bisik-bisik berasal dari tamu.

Itulah tetangga, di saat aku menunda menikah, di gunjingkan.
Tapi ketika aku menikah, menerima perjodohan orang tua juga masih di gunjingkan.

Intinya aku selalu salah di mata mereka.
Panggah penak sing maido.

Acara ijab qobul telah usai, dan akupun sudah menanda tangani, entah apa yang aku tanda tangani, karena aku tak membacanya terlebih dahulu.

Semua tamu juga pulang, hanya tinggal keluarga dekat saja.

Nama suamiku adalah Abdul Rohman, tanggal dan tahun kelahiran kami sama persis, mungkin cuma beda jam.

Mungkin ini tandanya aku memang berjodoh dengan dia.
Berusaha menerima taqdir dengan ikhlas, meskipun belum bisa sepenuhnya.

Kami berdua berada di dalam kamar. Masih pakai baju yang di gunakan waktu ijab qobul.

"Ini dek Vivi." Dia menyerahkan karsus kecil berisi amplop yang di dapat dari teman-temanya.

"Ini apa? kenapa di kasihkan ke aku?" tanyaku penasaran.

"Ini uang dek, di kasih teman-teman tadi, itu hak adek." jawab dia.

"Maaf, saya mau ganti baju dulu." sambil membawa baju ganti aku keluar kamar, tanpa menunggu persetujuannya.

Aku ganti baju hanya sebentar, cuma satu jam saja.
Setelah aku kembali ke kamar, dia belum ganti baju, malah tiduran di atas ranjangku.

"Kenapa adek ganti bajunya tidak di sini saja?" tanyanya tiba-tiba.

"Malu." jawabku singkat.

"Kita kan sudah halal, kenapa malu." lanjutnya.

"Iya." lirih ku mengucapnya.

Tanpa ada perbincangan, aku langsung tidur karena lagi dapat tamu bulanan, jadi absen sholatnya.



Kami tidur dengan pembatas guling.
Sebelum sampai terlelap, tiba-tiba bude yang rumahnya sebelah memanggil namaku, katanya ada telephone dari seorang wanita mencari suamiku.

Yang jadi tanda tanya besar, dari mana wanita itu tau nomernya budeku?

Ada sedikit yang mengganjal, kenapa gak telephone ke hape nya suami langsung, malah telephone ke hapenya bude ngrepotin saja.

Bude menyerahkan hapenya, dan hapenya langsung bunyi pertanda ada panggilan masuk.

Telephone aku angkat, sambil aku kebingungan, menoleh ke bude dan menoleh ke suami.

"Assalamu 'alaikum." ucapku dengan yang di seberang sana.

Tak ada jawaban, hanya terdengar isak tangis seorang wanita.

Apa maksud nya ini? tanyaku dalam hati.

"Assalamu 'alaikum, ada yang bisa saya bantu?"  sambung ku lagi.

"Wa 'alaikum salam mbak, maaf sebelumnya, bukan bermaksud mengganggu kebahagiaan kalian." jawabnya di sela tangis wanita itu.

"Iya ada apa?" tanya ku lagi.

"Aku dea mbak, hamil tiga bulan mbak." terang wanita itu yang sangat membuat ku kaget.

Pyaaaaar....
Kepalaku rasanya seperti kesetrum.

"Ini anak mas Abdul mbak, aku ingin janin ini di akui sebagai anaknya." ucap wanita itu.

Luluh lantah, hancur berkeping-keping rasanya tubuh ini.
Sampai air mata ini tak mampu untuk keluar.

Ya Allah, kuatkan hati hamba, berilah kesabaran lebih atas segala apa yang menimpa diri ini.

Semua atas kehendak dan atas izin-Mu.

"Apa maksud dea tadi mas?" tanyaku pada suami.

"Apa benar semua yang di ucapkan Dea tadi mas?" sambungku.

Suamiku tidak menjawab sepatah katapun, diam sejuta bahasa.

Tiba-tiba dia mengambil hape, mungkin mau menelephone seseorang.

Benar apa dugaanku, mas Abdul sedang bicara dengan kakak kandungnya.

Mas Abdul menyuruh kakak nya untuk menjemput.

Kurang lebih 1 jam 30 menit, keluarga mas Abdul datang satu mobil.

Berita suamiku telah menghamili seorang wanita sebelum menikahi aku tersebar luas.

Gunjingan makin pedas yang aku terima. Pahit, pahit sekali.

Para keluarga berkumpul sampai menjelang pagi.
Om ku menjemput lelaki yang mengenalkan mas Abdul keluarga kami.

Dia terlihat sangat takut, mungkin karena malu dan entah apa.

Waktu menjodohkan dulu, lelaki itu bilang bahwa mas Abdul itu laki-laki baik, keturunan kyai, dan bla bla bla, pkoknya todak ada cacatnya.

Tapi pada kenyataanya mas Abdul telah menghamili seorang wanita. Sadis dan kejam.

Lelaki yang bersama omku bilang, kalau begini pernikahan tidak bisa di lanjutkan.

Aku hanya pasrah dengan keadaan. Bagai di tampar sampai kliyengan.

Keluarga mas Abdul memohon kepada ibuku, untuk mengizinkan aku di bawa ke rumah mas Abdul hanya untuk di kasih lihat orang tua mas Abdul.

Setelah mertuaku melihat menantunya, aku di izinkan pulang.

Alasan mereka , kalau mendengar pernikahan anak nya gagal, takut struknya kambuh.

Ibuku buru-buru ke belakang menemui aku.
Beliau bilang, terserah apa  alasan mu untuk menolak ajakann mereka, aku tidak ikhlas kamu di bawa ke rumah Abdul.

Dan akhirnya aku menjadi janda kembang.

Baca selengkapnya ...

Translate

Artikel Terbaru

Khutbah Jumat: Ghibah, Penyakit Masyarakat yang Wajib Dijauhi

السلام عليكم Ùˆ رحمة الله Ùˆ بركاته بسم الله Ùˆ الحمد لله اللهم صل Ùˆ سلم على سيدنا محمد Ùˆ على أله  Ùˆ صحبه أجمعين Salam Sahabat  Hanapi B...

Powered by BeGeEm - Designed Template By HANAPI