Breaking News
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

02 Desember 2022

Percakapan Nabi Sulaiman dan Tanaman, Ekologi Spiritual di Masa Kenabian

www.hanapibani.com

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
بسم الله و الحمد لله
اللهم صل و سلم على سيدنا محمد و على أله
 Ùˆ صحبه أجمعين

Salam Sahabat Hanapi Bani.

Nabi Sulaiman mengerti bahasa bermacam-macam makhluk hidup di alam semesta. Kisah yang terkenal di kalangan kaum muslimin adalah ketika Nabi Sulaiman berbicara dengan binatang. Namun, sebenarnya terdapat kisah lain yang menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman juga bisa berbincang dengan tanaman. Melalui perbincangan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dengan tanaman, muncul konsep ekologi spiritual kenabian pada masanya.


Ekologi spiritual menekankan pentingnya dimensi spiritual dalam merawat alam karena alam tidak layak dieksplorasi habis-habisan. Lingkungan alam yang meliputi makhluk hidup seperti tanaman, hewan, maupun benda mati seperti bebatuan, air, dan tanah sangat erat kaitannya dengan keperluan hidup manusia. Bagi manusia yang beragama, sumber daya alam merupakan bekal berharga yang menjadi sarana beribadah kepada Tuhannya dan dapat diwariskan untuk generasi berikutnya. 


“Sebuah hadits yang diriwayatkan dari Al-Hasan melalui Qatadah mengatakan bahwa ketika Nabi Sulaiman ‘alaihis salam selesai membangun Baitul Maqdis, dia memasuki tempat shalat dan tiba-tiba di hadapannya ada segerombol semak-semak yang berwarna hijau. Ketika Beliau selesai shalat, semak-semak itu bersuara, ‘Tidakkah engkau akan bertanya siapa aku ini?’ Nabi Sulaiman ‘alaihis salam menjawab, ‘Ya siapa engkau ini?’ Semak-semak itu menjawab, ‘Aku adalah semak-semak yang bernama ini dan itu, serta merupakan obat untuk penyakit ini dan itu,’” (Al-Hafiz Adz-Dzahabi, Thibbun Nabawi, [Beirut, Dar Ihyail Ulum: 1990], halaman 68).


Nabi Sulaiman juga menggunakan tanaman yang berkhasiat untuk kesehatan. Salah satu buktinya adalah tanaman yang pernah dimanfaatkan oleh Beliau juga digunakan untuk keperluan yang sama oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam Kitab Thibbun Nabawi, Al-Hafiz Adz-Dzahabi menjelaskan tentang khasiat Naurah, sejenis limau perontok rambut untuk area pribadi sebagai berikut:


“Telah diriwayatkan oleh Ummu Salamah radliyallahu ‘anha bahwa Nabi Muhammad shallalllahu ‘alaihi wa sallam mempergunakan Naurah sebagai perontok rambut. Beliau memulai dengan bagian-bagian yang pribadi. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah. Ada hadits marfu’ yang menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihis salam adalah orang pertama yang menggunakan Naurah, yaitu limau/jeruk perontok rambut sebelum mandi,” (Adz-Dzahabi, 1990: 200).


Upaya pemanfaatan limau perontok rambut tersebut ternyata dilanjutkan oleh Nabi Muhammad shallalllahu ‘alaihi wa sallam dan dianjurkan untuk umatnya. Riwayat tentang penggunaan limau perontok rambut tertulis sebagaimana catatan dari Al-Hafiz Adz-Dzahabi sebagai berikut:


“Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mempergunakan limau perontok rambut secara teratur dan bahwa suatu ketika Beliau bersabda, sebaiknya engkau juga mempergunakannya.”


Koleksi dan perbanyakan tanaman yang bermanfaat bagi manusia telah dilakukan oleh Nabi Sulaiman. Budidaya tanaman pangan maupun tanaman herbal yang berkhasiat obat merupakan konsep penting ekologi spiritual. Dalam riwayat yang lain, Nabi Sulaiman juga memiliki kebun koleksi tanaman yang bermanfaat untuk berbagai keperluan. Hasil dari tanaman kebun itu tidak hanya dapat dinikmati manusia, tetapi juga untuk hewan ternak dan hewan liar.


“Ibnu Jarir, Ibnu Hatim, dan lainnya meriwayatkan dari hadits Ibrahim bin Thuhman, dari Atha’ bin Sa’ib, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda Sulaiman, Nabi Allah, setiap kali shalat, ia melihat sebuah pohon tumbuh di hadapannya, lalu ia bertanya pada pohon itu, ‘Siapa namamu?’ Pohon menjawab, ‘Namaku ini dan itu.’ Sulaiman kemudian berkata, ‘Untuk apa kau tumbuh? Jika memang untuk menjadi tanaman, tumbuhlah, dan jika untuk makanan hewan, tumbuhlah,’” (Ibnu Katsir, Qashashul Anbiya, [Makkah, Maktabah Ath-Thalib Al-Jama’i: 1988 M], halaman 599).


Keunikan tanaman-tanaman bermanfaat yang tumbuh di berbagai belahan dunia selalu sesuai untuk mencukupi kebutuhan manusia di daerah tempat dia tumbuh. Misalnya, tanaman pangan di daerah tropis yang berbeda dengan tanaman pangan di daerah subtropis akan sesuai dengan kondisi kebutuhan energi manusia yang berbeda iklim lingkungannya tersebut.


Tanaman obat yang tumbuh di lingkungan berbeda-beda menjadi kajian etnomedisin bagi para ahli pengobatan. Bahkan, Hippocrates yang merupakan Bapak Ilmu Kedokteran pernah merekomendasikan agar setiap penderita sakit harus diobati dengan tumbuh-tumbuhan yang berasal dari negerinya sendiri.


Tanaman buah juga selalu memberikan nutrisi yang tepat sesuai dengan kebutuhan manusia dan musim yang dialami. Oleh karena itu, musim buah selalu berganti karena menyediakan kebutuhan gizi manusia yang selalu dinamis.


Akhir-akhir ini, para peneliti melalui aktivitas riset dan percobaan sedang berusaha menguak bahasa segala makhluk hidup yang ada di dunia, termasuk bahasa tanaman. Kita perlu mengapresiasi upaya dan ikhtiar-ikhtiar dalam bentuk riset dan eksperimen tersebut.


Sebagai bagian dari manusia yang beragama, kaum muslimin selayaknya berupaya untuk menerapkan ekologi spiritual. Gerakan menanam pohon masih sangat relevan untuk terus digalakkan. Selain mendukung ketersediaan tanaman sebagai sumber daya alam yang kaya manfaat. Upaya tersebut juga memiliki arti agar tanaman tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi di masa yang akan datang. 


Ustadz Yuhansyah Nurfauzi, apoteker dan peneliti farmasi.


Demikian informasi yang dapat kami sampaikan tentang "Percakapan Nabi Sulaiman dan Tanaman, Ekologi Spiritual di Masa Kenabian", semoga bermanfa'at. 

Terimakasih atas kunjungannya, mohon doa' agar kami sekeluarga diberikan kesehatan dan blog ini terus berkembang serta berguna bagi semua orang.
Memberi manfa'at baik di dunia maupun di akhirat.

Untuk mendapatkan pemberitahuan langsung mengenai artikel terbaru di facebook dari website ini silakan klik suka pada halaman kami  HANAPI BANI 

atau gabung Group kami;

Youtube ;(Klik DISINI)
Komunitas WA ;(Klik DISINI)
WA 1 ; (Klik DISINI)
WA 2 ; (Klik DISINI)
WA 3 ; (Klik DISINI)
WA 4 ; (Klik DISINI)

WA 5 ; (Klik DISINI)
WA 6 ; (Klik DISINI)
WA 7 ; (Klik DISINI)
WA 8 ; (Klik DISINI)
WA 9 ; (Klik DISINI)
WA 10 ; (Klik DISINI)
WA 11 ; (Klik DISINI)
WA 12 ; (Klik DISINI)
WA 13 ; (Klik DISINI)
WA 14 ; (Klik DISINI)
WA 15 ; (Klik DISINI)
Telegram ; (Klik DISINI)
Bip ; (Klik DISINI)
Halaman FB 
(Klik DISINI)

Ùˆ ØµÙ„Ù‰  Ø§Ù„له Ø¹Ù„Ù‰ سيدنا محمد Ùˆ على أله
 Ùˆ صحبه أجمعين
ثم السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Protected by Copyscape

Baca selengkapnya ...

30 Juli 2022

Sejarah Thibbun Nabawi pada Masa Nabi Adam dan Nabi Idris

www.hanapibani.com

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
بسم الله و الحمد لله
اللهم صلى و سلم على سيدنا محمد و على أله
 Ùˆ صحبه أجمعين

Salam Sahabat Hanapi Bani.

Perkembangan kehidupan dunia membutuhkan ilmu kesehatan untuk menjaga kelestarian hidup manusia. Sejak dahulu hingga sekarang, manusia senantiasa menghadapi masalah yang berkaitan dengan penyakit. Upaya-upaya untuk mencapai kesembuhan saat sakit dan menjaga kesehatan merupakan aktivitas penting manusia. Sebagai umat beragama, hal itu menyertai ibadah dalam rangka menghambakan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, penyakit yang dihadapi adalah penyakit di akhir zaman. Namun, upaya untuk mengobati penyakit dan menjaga kesehatan ternyata telah ada sejak zaman nabi Adam ‘Alaihissalam. Bagaimana transmisi keilmuan tentang pengobatan itu bermula?


Al-Hafiz Adz Dzahabi dalam kitab Thibbun Nabawi menjelaskan bahwa Nabi Adam mewariskan ilmu tentang pengobatan kepada Nabi Syits.


“Ada kaum yang berkata bahwa Nabi Syits ‘alaihissalam adalah orang pertama yang menemukan ilmu pengobatan. Ilmu ini dikenal setelah Beliau mewarisinya dari leluhurnya, yaitu Nabi Adam ‘alaihissalam. Beberapa orang mengatakan bahwa Beliau menerima ilmu ini berdasarkan pengalaman, sedangkan orang lain mengatakan bahwa Beliau menggunakan qiyas dengan olah pikirnya untuk menemukan ilmu itu” (Al-Hafiz Adz-Dzahabi, Thibbun Nabawi, Dar Ihyaul Ulum, Beirut, 1990: halaman 229)


Nabi Adam ‘alaihissalam sendiri merupakan manusia pertama yang mengalami berbagai ketidaknyamanan badan dalam kehidupan di Bumi. Saat mengalami ketidaknyamanan sebagai manusia Bumi, Beliau mengupayakan berbagai hal untuk mengatasinya. Saat lapar, Beliau berusaha mengatasinya dengan bercocok tanam. Ketika tubuh Beliau merasakan ketidaknyamanan, maka Beliau mengatasinya dengan suplemen dan nutrisi alami berupa buah-buahan. Pengetahuan Beliau untuk mengatasi berbagai hal di Bumi berdasarkan wahyu yang disampaikan melalui malaikat Jibril.


Nabi Adam mengetahui salah satu bahan herbal berupa buah yang berkhasiat. Buah yang kaya manfaat menjadi pilihan buah pertamanya yang dimakan di muka Bumi. Beliau memilih buah dari tanaman Bidara Cina atau tanaman Sidr yang dikenal dengan istilah buah Nabaq atau secara umum merupakan buah dari tanaman Bidara. Nama latin dari tanaman ini adalah Ziziphus jujuba.


www.hanapibani.com


“Ini buah dari Sidr, atau buah dari pohon Bidara yang bersifat dingin dan kering. Ia mengatur temperamen dan menyamak perut. Dalam kitab tentang obat dari Abu Nuaim, Beliau mengutip hadits yang terkenal bahwa ketika Nabi Adam diturunkan ke muka Bumi, buah pertama yang dimakan adalah buah Nabaq/buah Bidara.” (Al-Hafiz Adz-Dzahabi, Thibbun Nabawi, Dar Ihyaul Ulum, Beirut, 1990: halaman 198)


Pilihan Nabi Adam terhadap Bidara bukannya tanpa alasan. Buah ini mengandung berbagai manfaat untuk kesehatan. Pengetahuan Nabi Adam tentang berbagai nama buah, termasuk buah Bidara ini tidak lepas dari pengajaran tentang berbagai nama yang diterimanya sewaktu baru diciptakan di surga. 


Buah dari tanaman Bidara/Sidr itu mirip dengan buah yang ada di Sidratul Muntaha. Meskipun buah yang ada di surga berbeda dengan buah di muka Bumi, masih ada beberapa kemiripan sifat. 


Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah melihat buah Nabaq di surga ketika perjalanan Mi’raj (Editor: Sakho Muhammad, 2010, Ensiklopedi Kemukjizatan Ilmiah dalam Al-Quran dan Sunnah, PT Kharisma Ilmu, Jakarta: halaman 133).


Dalam kitab Dardir, Nabi Muhammad menyaksikan Sidratul Muntaha sebagai sebuah pohon besar. Buah Nabaq yang ada di surga lebih besar dari yang ada di Bumi.


“Adapun buah Nabaq dari pohon Sidratul Muntaha itu sebesar kendi-kendi Tanah Hajar (sebuah desa yang dekat dengan Madinah)”. (Sayyid Ahmad ad-Dardir, Ad-Dardir ‘ala Qisshatil Mi’raj, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, tanpa tahun: halaman 21)


Ukuran buah bidara di surga sangat besar, yaitu seukuran kendi. Di dunia, buah pohon bidara berukuran lebih kecil, yaitu sebesar buah zaitun atau buah kurma. Penampakan pohon bidara di surga berbeda dengan pohon bidara di dunia. Pohon bidara di surga sangat dimuliakan dan tidak berduri, sedangkan pohon bidara di dunia banyak berduri dan buahnya sedikit.


Buah bidara rasanya manis dan baunya harum. Buahnya bergizi dan bermanfaat untuk menyegarkan pernapasan, menjaga suhu tubuh, mengobati campak dan cacar air, serta menghentikan infeksi pada lambung (Editor: Sakho Muhammad, 2010, Ensiklopedi Kemukjizatan Ilmiah dalam Al-Quran dan Sunnah, PT Kharisma Ilmu, Jakarta: halaman 134). 


Semua manfaat buah bidara diperoleh oleh Nabi Adam yang baru saja menjalani masa adaptasi dengan iklim di bumi setelah sebelumnya berada dalam kenyamanan surga. Udara yang dihirup Beliau di surga tentu berbeda dengan di dunia. Demikian juga dengan iklim dan suhu bumi, tentu sangat berbeda dengan keadaan surga. Nabi Adam ‘alaihissalam memilih konsumsi buah bidara untuk mengkondisikan tubuhnya agar tetap seimbang selama berada dalam masa peralihan tersebut.


Setelah memiliki keturunan, Nabi Adam ‘alaihissalam menularkan pengetahuan tentang penyembuhan dengan menggunakan bahan-bahan berkhasiat kepada Nabi Syits ‘alaihissalam. Setelah periode Nabi Syits, Nabi Idris ‘alaihissalam mewarisi keilmuan tentang pengobatan atau kedokteran tersebut.


“Sebagian orang mengatakan bahwa Nabi Idris ‘alaihissalam yang menemukan ilmu pengobatan” (Al-Hafiz Adz-Dzahabi, Thibbun Nabawi, Dar Ihyaul Ulum, Beirut, 1990: halaman 229)


Kenabian merupakan salah satu jalan tersampaikannya wahyu untuk manusia. Ilmu pengobatan atau kedokteran pada masa Nabi Idris dikembangkan berdasarkan petunjuk wahyu yang Beliau terima.


Nabi Idris dikenal sebagai nabi yang membawa banyak ilmu pengetahuan baru yang bermanfaat untuk manusia pada zamannya. Mulai dari pembahasan tulisan hingga ilmu-ilmu lain yang secara praktis dibutuhkan oleh manusia dikuasai oleh Beliau.


 Al-Hafiz Adz-Dzahabi menjelaskan proses transmisi keilmuan pengobatan itu dalam kitabnya Thibbun Nabawi.


“Bagaimanapun, yang lebih memungkinkan adalah bahwa ilmu pengobatan ini diwahyukan oleh Allah Yang Maha Kuasa kepada para Nabi-Nya. Memang demikianlah sesungguhnya. Hipotesis dan pengalaman saja tidak cukup.” (Al-Hafiz Adz-Dzahabi, Thibbun Nabawi, Dar Ihyaul Ulum, Beirut, 1990: halaman 229)


Kelak, keilmuan tersebut akan disempurnakan bersama turunnya wahyu kepada nabi-nabi setelahnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila para nabi mampu membawa pengetahuan tentang pengobatan, yang dikenal dengan Thibbun Nabawi, yang belum diketahui oleh umat-umat sebelumnya.


Demikian informasi mengenai "Sejarah Thibbun Nabawi pada Masa Nabi Adam dan Nabi Idris" yang dapat kami sampaikan pada postingan kali ini. Semoga bermanfaat.

atau gabung Group kami;

Youtube ;(Klik DISINI)
WA 1 ; (Klik DISINI)
WA 2 ; (Klik DISINI)
WA 3 ; (Klik DISINI)
WA 4 ; (Klik DISINI)

WA 5 ; (Klik DISINI)
WA 6 ; (Klik DISINI)
WA 7 ; (Klik DISINI)
WA 8 ; (Klik DISINI)
WA 9 ; (Klik DISINI)
WA 10 ; (Klik DISINI)
WA 11 ; (Klik DISINI)
WA 12 ; (Klik DISINI)
WA 13 ; (Klik DISINI)
WA 14 ; (Klik DISINI)
Telegram ; (Klik DISINI)
Bip ; (Klik DISINI)
Halaman FB 
(Klik DISINI)

Ùˆ ØµÙ„Ù‰  Ø§Ù„له Ø¹Ù„Ù‰ سيدنا محمد Ùˆ على أله
 Ùˆ صحبه أجمعين
ثم السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Protected by Copyscape

Baca selengkapnya ...

10 Januari 2021

MUI Tetapkan Kehalalan Vaksin, Wamenag: Bentuk Ketaatan Regulasi, Hentikan Polemik


السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
بسم الله و الحمد لله
اللهم صلى على سيدنا محمد و على أله
 Ùˆ صحبه أجمعين

Jakarta (Kemenag) --- Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menetapkan Vaksin Covid-19 produksi Sinovac, halal dan suci. Penetapan ini diambil setelah Komisi Fatwa MUI Pusat menggelar rapat pleno secara tertutup di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (08/01).

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi mengapresiasi komisi fatwa MUI yang telah menyelesaikan seluruh prosedur dan tahapan pemeriksaan vaksin hingga sampai pada penetapan halal dan suci. "Kami tentu mengapresiasi Komisi Fatwa MUI. Penetapan halal ini juga bagian dari bentuk ketaatan terhadap amanat regulasi," terang Wamenag di Jakarta, Ahad (10/01).

Indonesia memiliki UU No 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH). Pasal 33 UU JPH mengatur bahwa penetapan kehalalan produk dilakukan oleh MUI melalui pelaksanaan Sidang Fatwa Halal. Ketentuan yang sama ditegaskan juga dalam pasal 33 UU Cipta Kerja, bahwa penetapan kehalalan produk dikeluarkan oleh MUI melalui Sidang Fatwa Halal.

"MUI sudah menetapkan kehalalan vaksin Sinofac. Saya harap masyarakat menghentikan polemik tentang halal dan haram vaksin ini," pesan Wamenag.

"Apalagi, fatwa MUI menegaskan bahwa vaksin Sinofac halal dan suci. Artinya, bahan yang digunakan dalam proses pembuatan vaksin terbebas dari unsur najis," lanjutnya.

Meski sudah ada fatwa halal dan suci dari MUI, lanjut Wamenag, namun penggunaannya masih harus menunggu keputusan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebab, pihak BPOM lah yang berwenang melakukan pemeriksaan terkait keamanan (safety), kualitas (quality), dan kemanjuran (efficacy). 

"Fatwa halal dan suci sudah diterbitkan MUI. Tinggal menunggu aspek thayyib nya. Ini yang kita tunggu dari BPOM," jelasnya.

Wamenag menambahkan bahwa proses sertifikasi halal ini juga sudah berjalan di Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemenag. Ada tujuh proses yang harus dilalui, yaitu permohonan, pemeriksaan, penetapan, pengujian, pengecekan, fatwa, terakhir yakni penerbitan sertifikasi halal.

"Setelah ada keputusan BPOM terkait aspek penggunaan, MUI akan mengeluarkan penetapan kehalalan produk. Penetapan itu akan dijadikan dasar BPJPH mengeluarkan Sertifikat Halal," jelas Wamenag.

"BPJPH berperan dalam menerbitkan sertifikat berdasarkan keputusan penetapan kehalalan produk yang ditetapkan MUI," tandasnya.

Terimakasih atas kunjungannya, untuk dapatkan pemberitahuan langsung mengenai artikel terbaru di facebook silakan klik suka pada halaman kami HANAPI BANI

    ثم السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

    Protected by Copyscape
    Baca selengkapnya ...

    05 Januari 2021

    Unduh Juknis Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)


    السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
    بسم الله و الحمد لله
    اللهم صلى على سيدنا محمد و على أله
     Ùˆ صحبه أجمعين

    Pemerintah telah menetapkan pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) sebagai bencana non-alam. Sejak diumumkannya kasus konfirmasi pertama pada Maret 2020, dalam rentang waktu satu bulan, seluruh provinsi telah melaporkan kasus konfirmasi. Penyebaran COVID-19 tidak hanya terjadi di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan kota padat penduduk lainnya, namun telah menyebar hingga ke pedesaan di daerah terpencil. Sampai dengan tanggal 27 Desember 2020, sebanyak 706.837 kasus konfirmasi COVID-19 telah dilaporkan di Indonesia dan tercatat sejumlah 20.994 orang meninggal.


    Pandemi COVID-19 memberi tantangan besar dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia dan berdampak terhadap sistem kesehatan Indonesia yang terlihat dari penurunan kinerja pada beberapa program kesehatan. Hal ini disebabkan prioritasi pada penanggulangan pandemi COVID-19 serta adanya kekhawatiran masyarakat dan petugas terhadap penularan COVID-19. Di beberapa wilayah, situasi pandemi COVID- 19 bahkan berdampak pada penutupan sementara dan/atau penundaan layanan kesehatan khususnya di posyandu dan puskesmas. 

    Pandemi COVID-19 juga memberi dampak besar bagi perekonomian yaitu: 
    (1) Membuat daya beli masyarakat, yang merupakan penopang perekonomian sebesar 60 persen, jatuh cukup dalam. Hal ini dibuktikan dengan data dari BPS yang mencatatkan bahwa konsumsi rumah tangga turun dari 5,02 persen pada kuartal I tahun 2019 menjadi 2,84 persen pada kuartal 1 tahun 2020 ini; 
    (2) Menimbulkan adanya ketidakpastian yang berkepanjangan pada dunia usaha sehingga investasi ikut melemah dan berimplikasi pada terhentinya usaha; dan 
    (3) Seluruh dunia mengalami pelemahan ekonomi sehingga menyebabkan harga komoditas turun dan ekspor Indonesia ke beberapa negara juga terhenti. Selain itu, pandemi COVID-19 yang melanda dunia, juga memberikan dampak yang terlihat nyata dalam berbagai sektor di antaranya sektor sosial, pariwisata, dan pendidikan. Sementara itu, tingkat kerentanan masyarakat semakin meningkat yang disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap penerapan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak minimal 1 – 2 meter. Tanpa intervensi kesehatan masyarakat yang cepat dan tepat, diperkirakan sebanyak 2,5 juta kasus COVID-19 akan memerlukan perawatan di rumah sakit di Indonesia dengan angka kematian yang diperkirakan mencapai 250.000 kematian.

    Oleh karena itu, perlu segera dilakukan intervensi tidak hanya dari sisi penerapan protokol kesehatan namun juga diperlukan intervensi lain yang efektif untuk memutuskan mata rantai penularan penyakit, yaitu melalui upaya vaksinasi. Upaya telah dilakukan oleh berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk mengembangkan vaksin yang ideal untuk pencegahan infeksi SARS-CoV-2 dengan berbagai platform yaitu vaksin inaktivasi /inactivated virus vaccines, vaksin virus yang dilemahkan (live attenuated), vaksin vektor virus, vaksin asam nukleat, vaksin seperti virus (virus-like vaccine), dan vaksin subunit protein.

    Vaksinasi COVID-19 bertujuan untuk mengurangi transmisi/penularan COVID-19, menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat COVID-19, mencapai kekebalan kelompok di masyarakat (herd immunity) dan melindungi masyarakat dari COVID-19 agar tetap produktif secara sosial dan ekonomi. Kekebalan kelompok hanya dapat terbentuk apabila cakupan vaksinasi tinggi dan merata di seluruh wilayah. Upaya pencegahan melalui pemberian program vaksinasi jika dinilai dari sisi ekonomi, akan jauh lebih hemat biaya, apabila dibandingkan dengan upaya pengobatan.

    Pelayanan vaksinasi COVID-19 dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yaitu dengan menerapkan upaya Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dan menjaga jarak aman 1 – 2 meter, sesuai dengan Petunjuk Teknis Pelayanan Vaksinasi Pada Masa Pandemi COVID-19. Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan puskesmas harus melakukan advokasi kepada pemangku kebijakan setempat, serta berkoordinasi dengan lintas program, dan lintas sektor terkait, termasuk organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, tokoh masyarakat dan seluruh komponen masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan vaksinasi COVID-19. Petugas kesehatan diharapkan dapat melakukan upaya komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada masyarakat serta memantau status vaksinasi setiap sasaran yang ada di wilayah kerjanya untuk memastikan setiap sasaran mendapatkan vaksinasi COVID-19 lengkap sesuai dengan yang dianjurkan.

    Download Juknis Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)

    Untuk mengunduh Juknis Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) ini bisa Sobat download dibawah ini:

    Demikian informasi mengenai Juknis Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang dapat kami sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat.

    Terimakasih atas kunjungannya, untuk dapatkan pemberitahuan langsung mengenai artikel terbaru di facebook silakan klik suka pada halaman kami HANAPI BANI

      ثم السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

      Protected by Copyscape
      Baca selengkapnya ...

      09 Juli 2020

      Covid 19, Istiqlal Tidak Gelar Salat Idul Adha 1441H

      السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
      بسم الله و الحمد لله
      اللهم صلى على سيدنا محمد و على أله و صحبه أجمعين

      Jakarta (Kemenag) --- Masjid Istiqlal tidak akan menggelar Salat Idul Adha. Menag Fachrul Razi mengatakan, keputusan ini diambil setelah mencermati perkembangan pandemi Covid-19 di Indonesia, khususnya DKI Jakarta.

      "Istiqlal tidak menggelar Salat Idul Adha 10 Zulhijjah 1441H," tegas Menag di Jakarta, Kamis (09/07) usai rapat bersama dengan Menko PMK, Menteri Kesehatan, BNPB, dan Imam Besar Masjid Istiqlal. Rapat membahas persiapan Idul Adha 1441H di masa pandemi Covid-19.

      Menurut  Menag, keputusan ini diambil karena alasan kesehatan. Sebagai Masjid Negara, Salat Idul Adha di Istiqlal selama ini diikuti puluhan ribu peserta. Hal tersebut akan menyulitkan penerapan protokol kesehatan di tengah pandemi.

      "Jika jemaah harus tes suhu misalnya, tentu akan butuh waktu lama jika harus dilakukan pada puluhan ribu jemaah," ujar Menag. 

      "Prosesnya juga tidak mudah karena akses keluar masuk juga harus dibatasi seiring penerapan protokol kesehatan," lanjutnya.

      Menag menambahkan, proses renovasi di Istiqlal masih terus berlangsung. Saat ini sudah memasuki tahap finalisasi.

      Menag berharap situasi pandemi segera berakhir sehingga masyarakat bisa beribadah di rumah ibadah dengan nyaman.

      Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat awal Zulhijjah 1441H pada 21 Juli 2020.

      ثم السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

      Baca selengkapnya ...

      05 Juli 2020

      Sembuh, Siti Aminah (Salah Satu Warga HSU) berharap Masyarakat tetap Patuhi Protokol Kesehatan Covid-19.



      AMUNTAI – Penyebaran Virus Corona atau Corona Virus Disease 19 (Covid-19) sepertinya tidak mereda bahkan belum bisa dihentikan, hal ini terlihat semakin tingginya angka penderita Covid-19 baik secara global ataupun nasional. Namun demikian pasien sembuh juga mengalami kenaikan yang tentunya juga memberikan dampak psikologi terutama bagi pasien dan keluarganya.

      Seperti yang dialami oleh Siti Aminah, salah satu pasien sembuh Covid-19 yang berasal dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) dan merupakan salah satu petugas kesehatan yang mengabdi di salah satu puskesmas di HSU yang sempat diisolasi di Bapelkes Banjarbaru karena dinyatakan positif terpapar Covid-19 dengan status orang tanpa gejala (OTG) setelah Pamerintah Kabupaten HSU melakukan rapid dan swab tes kepada para ASN beberapa waktu yang lalu.

      Melihat aktivitas Aminah sebagai tenaga kesehatan rasanya sesuatu yang luar biasa dirinya terpapar Covid-19, mengingat selama menjalankan tugas dia selalu mengutamakan keselamatan kerja dengan mematuhi protokol kesehatan.

      “Saya sempat tidak percaya dan tidak percaya setelah tahu hasil rapid dan swab tes yang telah dilakukan beberapa saat lalu. Seingat saya, rasanya saya telah mematuhi prosedur kesehatan baik saat bertugas ataupun saat di rumah berkumpul keluarga, bermacam perasaan ada di diri saya, namun saya sadari mungkin ini adalah resiko yang harus saya terima karena pekerjaan ini menuntut saya harus berinteraksi secara langsung, harus bersentuhan dengan orang, termasuk orang yang menyebarkan virus ini ke saya, baik orang tersebut pasien atau orang lain,” ungkapnya.

      Diketahui, Covid-19 mempunyai beberapa gejala apabila tertular kepada orang tua atau orang yang mempunyai riwayat penyakit tertentu. Hal ini dapat membahayakan bahkan dapat menimbulkan kematian yang diakibatkan oleh penyakit yang menyertainya. Covid-19 juga dapat menularkan orang tanpa gejala apapun sehingga bagi seseorang yang mempunyai daya tahan tubuh yang prima hal ini tidak mempengaruhi aktivitas tubuhnya, namun dampak atau bahaya yang akan ditimbulkannya sangat besar, orang tersebut bisa menularkan virus yang ada ditubuhnya kepada semua orang dengan tidak sengaja karena ketidaktahuannya melalui bersosialisasi dengan banyak orang, lebih lebih kepada keluarga sendiri yang tentunya memberikan dampak yang cukup besar secara psikologi. Hal ini juga dirasakan Siti Aminah.

      “Setelah saya menyadari keadaan saya saat itu, muncul dampak psikologi buat saya dimana saya harus meninggalkan keluarga yang selama ini selalu bersama, dan harus berpisah untuk beberapa waktu, ada perasaan was was apakah keluarga saya juga terpapar akibat saya, bagaimana anak-anak tanpa saya, itu yang selalu terpikirkan. Selama perawatan, saya selalu diberi dorongan moral, baik dari keluarga juga dari teman-teman sejawat yang tentunya doa selalu saya panjatkan,” ujarnya.

      Menurut pengakuannya, dirinya bersama beberapa orang lainnya dirawat di Balai Pelatihan Kesehatan (BAPELKES) di Banjarbaru yang disiapkan Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan sebagai tempat isolasi pasien Covid-19, dimana fasilitas dan pelayanannya sesuai dengan standar pelayanan pasien Covid-19.

      “Setiap harinya kami selalu mengikuti kegiatan yang dilaksanakan seperti senam pagi, makanan yang mengandung gizi tinggi, serta istirahat yang nyaman. Kami tetap masih bisa berkomunikasi dengan keluarga. Setelah beberapa hari mengikuti seluruh kegiatan di saat karantina, akhirnya saya dinyatakan sembuh setelah dilakukan swab tes, dan saya bisa berkumpul dengan keluarga serta dapat beraktivitas seperti biasa yang tentunya harus tetap menjaga kesehatan dan menjalankan protokol kesehatan Covid-19,” terangnya.

      Aminah mengharapkan agar seluruh masyarakat supaya tidak menganggap remeh Covid-19, sehingga mengabaikan protokol kesehatan serta tidak menghiraukan kesehatan diri sendiri dengan tidak menerapkan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

      “Saya tidak ingin ada lagi korban-korban lainnya disebabkan prilaku yang tidak mempedulikan kesehatan diri sendiri,” tutupnya. (Rahman)

      Baca selengkapnya ...

      Translate

      Artikel Terbaru

      Khutbah Jumat: Ghibah, Penyakit Masyarakat yang Wajib Dijauhi

      السلام عليكم Ùˆ رحمة الله Ùˆ بركاته بسم الله Ùˆ الحمد لله اللهم صل Ùˆ سلم على سيدنا محمد Ùˆ على أله  Ùˆ صحبه أجمعين Salam Sahabat  Hanapi B...

      Powered by BeGeEm - Designed Template By HANAPI