Breaking News

18 May 2017

Menulis Untuk Keangkuhan

Menulis untuk keangkuhan. Itulah benak yang sering melekat pada diri saya. Ingin menjadi penulis agar tenar, ingin menulis agar dipandang hebat dan pikiran lain yang erat di dalam jiwa. Bila akar pemikirannya seperti ini, maka buah yang dihasilkannya pun akan rasa kecewa, saat tulisan yang dibuat dengan kesungguhan namun mendapatkan respon yang belum sesuai harapan, dan semangat menulispun menjadi fluktuatif, kadang naik, kadang turun. naik bila mendapatkan banyak like, dan bisa langsung turun saat jumlah like sedikit.

Tetapi di kemudian hari, saya teringat kisah Imam Syafi'i. Berbeda dengan saya, yang menulis sebagai ambisi. Imam Syafi'i menjadikan tulisannya sebagai sebuah pembuktian cinta. Cinta yang memiliki akar kuat berupa ketulusan. Ya, beliau adalah seorang penulis yang hidup pada zaman teknologi sangat jauh belum berkembang pesat seperti sekarang. Zaman dimana facebook, blogspot, tumblr dabn berbagai media sosial tidak ada. Bahkan penerbitan buku sulit untuk ditemukan keberadaannya.

Maka, mungkin bila saya yang hidup di zaman itu, sepertinya tidak akan memiliki semangat untuk menulis. Untuk apa? Toh saya tidak akan tenar dan mendapatkan banyak jempol, apalagi mendapatkan uang dari buku yang saya buat. Karena penerbitan buku saja belum tentu ada. Tetapi berbeda dengan Imam Syafi'i, beliau tidak menjadikan menulis sebagai ambisi, namun sebagai cinta. Meskipun tidak ada media sosial yang memfasilitasi, meskipun buku yang beliau buat sendiri tanpa penerbit tidak akan menghasilkan uang yang berlimpah.

Buku merupakan pewaris nilai, entah itu nilai positif atau negatif. Hal tersebut merupakan pilihan. Betapa besarnya dampak dari sebuah kata. Karena sesungguhnya kata dapat merubah jiwa, dan didalam perubahan jiwa niscaya terdapat perubahan dunia. Jika suatu suatu kata yang mewariskan nilai positif diibaratkan sebagai pelita, maka pelita itu akan tetap bersinar, tidak hanya didunia, namun kelak di alam keabadian.

Jika kata adalah sepotong hati, seperti kata Abul hasan 'Ali An Nadwi, maka semoga tulisan adalah cinderajiwa. bagi mukmin sejati, ia adalah sekelumit manikam yang diuntai dari ketulusan terdalam. Ia adalah huruf-huruf yang mengenalkan makna dari prasasti nurani penulisnya. maka sucilah tulisan sebagaimana suci jiwa yang menuangkan inspirasinya. Maka abadilah tulisan, sebagaimana abadinya niat suci penulisnya. Meski, mereka masih manusia. Ada salah ada lupa.

Menulis adalah bentuk cinta

Manusia itu fana, maka kematian adalah keniscayaan

Ketika kita mati, maka yang dirangkai dengan niat penuh cinta akan tetap hidup.

Akan bersemayam di alam semesta sebagai pelita yang menerangi angkasa.

18 Mei 2017 pukul 09:22
Comments
0 Comments

No comments:

Translate

Artikel Terbaru

Surat Edaran Penggunaan Raport Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2020/2021

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته بسم الله و الحمد لله اللهم صلى على سيدنا محمد و على أله  و صحبه أجمعين Memasuki masa-masa akhir semester g...

Powered by BeGeEm - Designed Template By HANAPI