Breaking News

Friday, April 19, 2019

Wahai Ujian Nasional, Sesakral Itukah Dirimu?

 www.hanapibani.com

Naif rasanya menganggap nilai dalam Ujian Nasional tidak penting-penting amat. Meski, tidak semua hal bisa diukur hanya dengan angka-angka.
Saya punya seorang murid, cowok, sebut sana namanya HD. Dia sekarang kelas 6 dan lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan Ujian Nasional. Nah, dari nilai Try Out, si HD ini selalu berada di urutan bawah. Sebab itulah, saya merasa punya kewajiban untuk berkunjung ke rumahnya untuk bersua dengan orang tuanya. Seperti menggali informasi bagaimana keseharian HD ini di rumah. Bagaimana model belajarnya, bagaimana pergaulannya, dan seterusnya.
Dari segi tingkah laku, si HD ini tidak ada masalah. Malah, dia termasuk salah satu murid paling manis, sopan, penurut, dan tidak suka neko-neko. Satu lagi, dia bahkan bisa ngomong bahasa Inggris dengan ngewes dan fasih betul. Tentang ngomong bahasa Inggris ini, malah dia yang jadi guru buat saya. Tapi ya itu tadi, soal nilai akademiknya seakan-akan membutuhkan pertolongan Tuhan.
Nah, kembali lagi, lantas apa yang kemudian saya obrolkan dengan orang tua si HD ini? Jadi, begitu sampai di rumah HD, saya melihat dia sedang bermain dengan dua orang temannya. Ia membawa sepotong kayu berbentuk senapan yang entah untuk apa. Mungkin untuk perang-perangan, pikir saya.
Begitu melihat saya memarkirkan motor di muka rumahnya, HD menghambur mendekati saya, dia tersenyum, lantas bersalam dan mencium tangan saya. Lalu pergi menemui teman-temannya lagi. Setelah pemanasan dengan bertanya kabar dan basa-basi lain, akhirnya orang tua HD—yang juga seorang guru, mulai bercerita. Bahwa HD ini memang tidak suka belajar, kecuali ia benar-benar menghendaki atau menyukai sebuah materi pelajaran tertentu.
Di keseharian, HD lebih suka bekerja aktif-kreatif. Seperti membuat jebakan tikus, membuat sesuatu dari barang-barang bekas, membetulkan perkakas rumah yang rusak. Termasuk momong kedua adiknya yang masih kecil-kecil.
Ketika orang tua HD ini menjelaskan perihal pentingnya belajar untuk Ujian Akhir, supaya mendapatkan nilai bagus, HD malah mengajak orang tuanya berdebat. Kurang lebih begini percakapan HD dengan orang tuanya….
“Kamu itu belajarnya belum serius, Nak, buktinya nilai-nilaimu masih kurang.”
“Saya sudah serius, Ma, buktinya saya sekolah dari pagi sampai sore. Kadang, malam masih disuruh belajar.”
“Lha buktinya, nilaimu masih di bawah lima koma.”
“Memangnya kenapa kalau nilaiku jelek, Ma?”
“Ya kalau nilaimu jelek, kamu bisa tidak lulus. Kalaupun lulus, kamu tidak bisa diterima di sekolah yang bagus.”
“Oh, cuma gitu aja. Nggak papa, saya kan masih bisa mondok,” balas HD tanpa beban.
Orang tua HD juga bercerita, suatu ketika HD pernah pulang sekolah sambil menangis. Ketika ditanya kenapa, si HD bilang, bahwa dia sakit hati karena diejek temannya sebagai siswa bodoh. “Padahal kan, saya tidak bodoh, Ma. Saya bisa bikin karya ini… karya itu… sedangkan dia nggak bisa. Waktu kerja kelompok bikin karya, saya kerja, dia cuma diam saja. Lalu siapa yang bodoh?” Ujar HD sambil sesenggukan.
Sampai di sini, saya ingat kata-kata Einstein yang kurang lebih begini: adalah tidak adil menilai seekor ikan dari kepandaiannya memanjat pohon.
Saya pulang dari rumah HD terus mengingat-ingat bahwa waktu Ujian Nasional tinggal hitungan pekan, bahkan hari. Dan saya menggerutu pada diri saya sendiri: apakah Ujian Nasional, nilai-nilai, angka-angka, sesakral itu?
Saya jadi ingat zaman saya SD dulu. Zaman saya namanya Ebtanas, zaman sekarang namanya Ujian Nasional. Zaman saya, Ebtanas hanyalah sebuah kegiatan tahunan yang harus dilewati, hanya harus dilewati. Tidak ada bedanya dengan ulangan atau latihan harian. Hanya saja, ketika Ebtanas, terdapat sebuah papan tulis yang dipajang di tengah lapangan dengan tulisan kapur: HARAP TENANG, ADA UJIAN.
Zaman sekarang, ujian semacam itu telah menjadi resepsi sakral saban akhir tahun. Resepsi yang butuh latihan berbulan-bulan yang disebut Try Out. Resepsi yang seakan-akan menentukan hidup dan mati. Bahkan, seandainya hari itu kau harus opname di rumah sakit, maka kau harus melaksanakan ujian di atas ranjang. Sesakaral itukah? Iya.
Buktinya adalah, jika waktu ujian tertera dua jam, jam 10.00 – 12.00, misalnya. Maka dalam waktu dua jam itu, kau harus duduk manis di bangkumu. Kau tak boleh ke mana-mana sebelum waktu selesai, kecuali harus pergi ke kamar mandi.
Jadi, jika kau berhasil menyelesaikan soal ujian dalam waktu 15 menit. Maka waktu 1 jam 45 menit sisanya, kau harus jadi patung di bangkumu. Tak boleh tidur. Apalagi gaduh. Masih tak percaya kalau Ujian Nasional itu sakral?
Kalau masih tak percaya, coba saja ketika waktu ujian masih berlangsung dan kau dengar kumandang azan zuhur, kau pamit ke pengawas. Bilang begini, “Pak, Buk, saya sudah dengar azan dhuhur, bolehkan saya izin buat salat zuhur dulu?”
Kira-kira, apa yang terjadi? Apakah kau akan diizinkan? Bisa jadi kau dizinkan. Tapi jelas setelah itu, kesalihanmu akan menjadi perdebatan panjang. Lantas, nama gurumu, nama sekolahmu, bakal jadi taruhannya.
Zaman saya, Ebtanas ya Ebtanas aja, tak perlu Try Out-Try Out-an. Tak butuh latihan soal tiap pekan. Berhadapan dengan soal-soal ujian tiap hari itu membosankan, tahu! Berhadapan dengan rumus-rumus tiap pekan itu sungguh mengerikan. Siapa coba yang mampu memahami ini? Jelas para guru dan orang tua memahami ini, tapi mereka tidak bisa berbuat banyak. Sebab, Ujian Nasional ini teramat sakral.
Jangan berani coba-coba. Jangan berani main-main. Begitu nilaimu jelek, di bawah standar kelulusan. Maka koitsudah namamu, nama orang tuamu, nama gurumu, nama sekolahmu.
Sebagai seorang guru, berkali-kali saya menegaskan ke anak-anak, bahwa nilai itu bukanlah hal utama. Bukanlah sesuatu yang penting. Sebab nilai bagus bukanlah jaminan keberhasilan dalam mengarungi kehidupan (aduh, duh, bijaknya).
Tapi, berkenaan dengan Ujian Nasional ini, nasehat saya kepada anak-anak ada sedikit ralat, jadi begini: Nilai memang tidak penting, Nak, tapi kalau sampai nilaimu jelek, habislah kau. Saya menyampaikan itu sambil membayangkan berita-berita yang pernah saya baca di media sosial. Perihal murid-murid yang depresi karena tidak lulus ujian, bahkan beberapa dari mereka ada yang sampai nekat mengakhiri hidupnya.
Karena apa? Karena tidak lulus ujian. Kenapa tidak lulus ujian? Karena nilainya jelek. Nah lho! Apa iya harus saya koarkan lagi ke bocah-bocah, bahwa nilai itu tidak penting.
Kalau sudah begitu, siapa yang mau bertanggung jawab? Orang tua? Guru? Sekolah? Dinas pendidikan? Menteri Pendidikan? Pak Presiden?
Adalah klise di atas klise membahas sistem pendidikan kita yang masih saja memandang keberhasilan dari angka-angka. Begitu kuno. Begitu konvensional. Tapi ya memang demikian adanya. Lantas, mengapa bisa demikian? Bisa bermacam-macam sebabnya. Bisa saja para pemangku kebijakan di area pendidikan kita merupakan para sesepuhyang nuwun sewurapati milenial dalam berbagai hal. Atau bisa juga berkaitan dengan “proyek birokrasi” dan lain-lain, mengingat banyak sekali yang terlibat dalam agenda tahunan ini. Entahlah.
Kadang, saya membayangkan diri saya sebagai murid yang sedang dihadapkan pada Try Out dan persiapan ujian yang begitu hiruk-pikuk dan berkepanjangan. Tiada hari tanpa pilihan ganda. Tiada hari tanpa uraian. Tiada hari tanpa menyilang dan mengurek-urek jawaban. Tiada hari tanpa memelototi teks-teks mungil dalam lembar kertas buram. Dari waktu ke waktu.
Oh Mai Gat, akankah saya bertahan? Akankah kelopak mata saya tidak bengkak? Akankah rambut saya tidak botak? Akankah kepala saya tidak meledak?
Semoga Tuhan menyelamatkan kalian semua dari ujian ini. Ya, Ujian Nasional ini.
Baca selengkapnya ...

Thursday, April 18, 2019

Rakyat yang Baik, Dapat Pemimpin yang Baik?



Besarkan hatimu saat merayakan Pemilu! Apabila kamu merasa baik, pasti Tuhan akan memberimu pemimpin yang baik. Bukankah Allah telah berfirman: "Golongan yang baik adalah milik golongan yang baik pula..." (QS. An-Nuur: 26).
Terkecuali, kita sendiri menyangka menjadi bagian rakyat yang tidak baik (?) Dalam hadits qudsi yang diriwayatkan Abu Hurairah dikatakan: Sesungguhnya Allah berfirman: "Aku bersama dalam sangkaan hamba kepada-Ku. Jika ia berbaik sangka padaku, maka baik juga padanya. Jika ia berburuk sangka kepadaku, maka buruk juga untuknya" (HR. Ahmad).
Pengertiannya, jika kita memiliki pikiran baik dalam merayakan pesta demokrasi maka hasilnya juga baik. Akan tetapi jika berpikiran buruk terhadap penyelenggaraan Pemilu maka nasib kita juga akan buruk. Besarkan hati kita! Toh hasil akhir pada dasarnya semua yang menentukan adalah Allah Swt.
Allah telah berfirman: "Dan Allah berkuasa (memenangkan) terhadap urusan-Nya tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti" (QS. Yusuf: 21). Jadi, seandainya pilihan kita kalah,  asalkan kita berusaha menjadi rakyat yang baik maka yakinlah kita akan dipimpin orang baik!
Terkecuali sebagai rakyat, kita sendiri mulai bertindak tidak baik dan melakukan kesalahan-kesalahan, seperti disebutkan hadits Rasulullah dalam kitab Kasyful Ghummah. Rasulullah Saw bersabda: "Sebagian tanda-tanda dari kehancuran yang akan terjadi pada umatku adalah: jika amanat sudah digadaikan (dengan imbalan), zakat dirampas (oleh yang bukan berhak menerimanya), muncul seorang penggembala lalu dinobatkan sebagai pemimpin." 
Apakah kesalahan-kesalahan yang disinggung Rasulullah itu telah kita lakukan? Silahkan kita jawab sendiri! Pada dasarnya jika kita ingin memiliki pemimpin yang baik, kita sebagai rakyat juga harus baik pula.
Dulu, di zaman dinasti Mu'awiyah, banyak rakyat yang mencaci kebijakan Mu'awiyah ketika mengangkat Yazid sebagai putra mahkota. Yazid dikenal memiliki peringai buruk, sehingga banyak pihak yang mengkritik. Dalam menyikapi protes rakyatnya itu, Mu'awiyah menjawab:
"Jika kalian menginginkan aku mengeluarkan kebijakan sebagaimana Abu Bakar dan Umar dalam mengangkat khalifah: Abu Bakar menunjuk Umar, dan begitupun Umar memilih menetapkan tim formatur, termasuk di antaranya putra beliau bernama Abdullah, maka kalian juga seharusnya hidup sesuai dengan kehidupan sahabat di masa Abu Bakar dan Umar!" 
Ada pula riwayat yang menyebut pernyataan Mua'wiyah sebagai berikut: "Jika kalian merindukan kepemimpinan seperti yang dijalankan Abu Bakar dan Umar, maka sekarang kalian juga harus hidup mengikuti cara sahabat di masa beliau-beliau itu!"
Walhasil, pemimpin yang baik lahir dari rakyat yang baik pula. Sebaliknya pemimpin yang buruk muncul dari kondisi rakyat yang buruk pula. Jadi, sekarang ini kita merasa sudah menjadi rakyat yang baik atau belum?
Baca selengkapnya ...

Wednesday, April 17, 2019

Jelang Pemilihan Pengganti Umar bin Khattab



Umar bin Khattab adalah pemimpin Islam yang mengenalkan cara pemilihan pemimpin (khalifah) melalui pengambilan suara terbanyak. Gagasan ini beliau sampaikan pada tahun terakhir kekhilafahan, guna menentukan siapa pemimpin pengganti beliau.
Sebetulnya, dalam pandangan pribadi Umar bin Khattab sudah dipetakan dan diperhitungkan siapa yang layak memimpin umat Islam setelah dirinya. Kandidat terkuat ialah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Tapi, jika beliau mengikuti jejak Abu Bakar dengan cara menunjuk pemimpin penggantinya, maka hal itu sulit dilakukan. Sebab, Utsman maupun Ali adalah dua tokoh kepercayaan Rasulullah untuk mencatat firman-firman Allah.
Atas dasar pertimbangan itulah beliau menunjuk tokoh-tokoh di antara sahabat Nabi yaitu: Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Talhah bin Ubaid, Zubayr bin al-Uwam, Sa'd bin Abu Wa'i. Umar tidak melibatkan dalam tim formatur itu, Abdurrahman bin Auf. Sebagaimana beliau tidak menunjuk Said bin Zaid bin Amr bin Nafil karena alasan masih sepupu khalifah sendiri. Padahal Said bin Zaid adalah salah satu dari sepuluh yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah. 
Namun, oleh sahabat yang lain, dimintakan satu perwakilan dari khalifah Umar. Lalu disepakatilah Abdullah bin Umar: Dengan catatan ia memiliki hak suara tapi tidak memiliki hak untuk dipilih.
Umar bin Khattab berpesan kepada mereka: "Aku tidak menerima perintah untuk menunjuk penggantiku baik di waktu  hidupku maupun matiku (dengan cara berwasiat). Namun yang pasti aku akan mati. Maka untuk kelangsungan masa depan umat Rasulullah Saw, aku kumpulkan kalian untuk menentukan masa depan kalian."
Umar bin Khattab tampaknya sudah memprediksi proses pemilihan khalifah penggantinya akan berlangsung ketat dan alot. Untuk itu, beliau berwasiat agar Suhaib bin Sinan al-Rumi berkenan memimpin shalat jamaah dan berdoa selama tiga hari, sesudah wafat beliau dan sampai ada kesepakatan siapa khalifah pengganti beliau.
Ramalan Umar itu terbukti. Sahabat-sahabat yang ditunjuknya membutuhkan waktu tiga hari untuk menyelesaikan tugas memilih khalifah ke-3. Pada hari pertama dan kedua, dari 6 orang yang telah ditunjuk semua hadir, terkecuali Talhah bin Ubaid. Sahabat yang lain sempat ragu dan bertanya-tanya tentang sikap Thalhah. Tapi keragu-raguan itu akhirnya terjawab sesudah Thalhah hadir di tengah-tengah mereka.
Mula-mula dari tokoh yang hadir, tiga di antaranya memilih Zubair. Tapi Zubair menolak dan melimpahkan tiga suara yang didapatnya kepada Ali. Menantu Rasulullah yang rendah hati inipun menolak dan melimpahkan suara yang diperolehnya kepada Sa'ad. Tapi lagi-lagi karena ketawadhuan Sa'ad beliau malah "melemparkan" suaranya kepada Abdurrahman bin Auf.
Hari pertama rapat menghasilkan keputusan yang belum bulat sebab di antara peserta justru memilih tokoh yang tidak termasuk dalam tim formatur yang telah disepakati.
Pada hari kedua, tim formatur menghadap Abdurrahman bin Auf untuk menyampaikan hasil keputusan sementara mereka. Tapi Abdurrahman sendiri ketika dikonfirmasi menolak penunjukan dirinya menjadi khalifah. Beliau justru berkata: “Di antara kita yang lebih berhak menjadi khalifah ialah Utsman dan Ali." 
Tim formatur tak puas dengan jawaban Abdurrahman. Sa'ad bin Abu Wa'y selaku juru bicara mendesak agar Abdurrahman memilih salah satu di antara dua tokoh: Utsman atau Ali. Setelah banyak pertimbangan, akhirnya Abdurrahman memilih Utsman bin Affan. Sekalipun sudah ada penegasan Abdurhman tapi ada yang mempertanyakan bagaimana dengan hak suara Thalhah yang belum juga hadir sampai hari kedua rapat?
Untunglah pada hari ketiga Thalhah yang sudah dinanti-nanti hadir dalam forum musyawarah sahabat-sahabat Nabi. Ketika ditanya pilihannya, beliau spontan menjatuhkan pilihan kepada Utsman bin Affan. Dengan demikian, suara terbanyak telah menunjuk Utsman bin Affan sebagai khalifah pengganti Umar bin Khattab. Pemilihan ini diikuti dengan pembaitan yang dilakukan oleh 50 sahabat terkemuka kepada khalifah terpilih.
Demikianlah kisah pertamakali pemilihan secara langsung al-khalifatur-rasyidun ke-3 dalam sejarah Islam. Walaupun berjalan alot, tapi demi kepentingan bersama, suksesi kepemimpinan dapat dilakukan secara aman dan damai. Semoga kisah ini memberikan inspirasi bagi umat Islam Indonesia dalam menyalurkan hak suara pada Pemilu 2019.
Baca selengkapnya ...

Tuesday, April 16, 2019

Pengajuan Bantuan Sarpras Madrasah 2019

 www.hanapibani.com


Dengan hormat kami sampaikan, dalam rangka implementasi program sarana dan prasarana madrasah Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI tahun anggaran 2019,  dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Untuk meningkatkan mutu layanan aksesibilitas sarana dan prasarana madrasah Sistem Informasi Sarana dan Prasarana (SIM Sarpras) diganti menjadi DP-SPM (Data Pokok Sarana Prasarana Madrasah).
  2. Pengajuan proposal banruan sarana dan prasarana madrasah tahun anggaran 2019 secara online melalui http://dpspm.subditkskk.website/
  3. Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan Madrasah tidak menerima proposal bantuan secara langsung dan tidak melakukan pungutan dalam bentuk apapun.
  4. Madrasah wajib melaporkan oknum yang melakukan pungutan kepada Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI.


Silahkan klik dibawah ini untuk download:

Baca selengkapnya ...

Penambahan Kuota Haji, Menag: Kami Akan All Out


Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyatakan Kementerian Agama akan all out untukmerealisasikan penambahan 10 ribu kuota haji yang diberikan kerajaan Arab Saudi pada musim haji tahun ini.
"Kami di Kemenag akan all out untuk merealisasikan penambahan kuota 10 ribu meskipun implikasinya tidak sederhana. Penambahan kuota 10 ribu ini terjadi tatkala pemerintah sudah melakukan persiapan akhir pelaksanaan musim haji tahun ini," kata Menag Lukman dalam sebuah program khusus di salah satu media televisi pada Senin malam (15/04).
Ia menyampaikan, bagi jajaran Kementerian Agama, penambahan kuota ini merupakan sebuah kehormatan. Karena, sejak awal jajaran Kemenag khususnya petugas haji Indonesia telah menyiapkan diri untuk melayani para tamu Allah Dhuyufurrahman.
"Saya mengajak seluruh jajaran Kemenag dan petugas haji sejak awal pasang niat untuk melayani. Jadi sebenarnya dengan adanya penambahan, sebenarnya ini adalah medan amal bagi kita untuk melayani dengan baik,” sambung Menag.
Penambahan kuota secara mendadak disampaikan Raja Kerajaan Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud kepada Presiden Joko Widodo dalam pertemuan di Riyad pada Minggu, (14/04).
Menag mengaku pihaknya sudah berkoordinasi dengan sejumlah kalangan termasuk muasasah yang akan membantu kepada jemaah haji Indonesia di Arab Saudi nantinya. Koordinasi ini dilakukan mengingat muasasah merupakan pihak yang akan berhubungan dengan pelayanan jemaah di tataran implementatif.
"Alhamdulillah mereka sudah tahu ada penambahan kuota. Bahkan penambahan kuota ini telah masuk ke dalam sistem e-Hajj. Karena seluruh sistem pelayanan jemaah haji harus berada pada satu sistem berhasis elektronik yang dikenal dengan e-Hajj," lanjut Menag.
Menag Lukman mengaku sangat bersyukur dan berbahagia mendengar kabar yang sangat baik bahwa Raja Salman menyetujui permintaan umat Islam Indonesia yang sebenarnya memang sudah cukup lama.
"Beberapa waktu lalu permintaan serupa juga dikabulkan oleh Raja Salman. Ini adalah untuk kali kedua Raja Salman menyetujui permintaan kita untuk penambahan kuota. Meskipun dari sisi waktu ini mendesak. Mungkin kalau satu bulan sebelumnya tentu persiapannya lebih panjang, sebab impilkasinya tidak sederhana," jelas Menag.
Terlepas dari itu semua Menag mengajak umat Islam di Indonesia untuk lebih mengedepankan rasa syukur bahwa ini adalah sesuatu yang sangat bermakna dan ini menunjukan betapa pemerintah Arab Saudi itu memberikan posisi yang sangat istimewa bagi Indonesia.
"Meskipun persiapan haji yang dilakukan pemerintah saat ini sudah di ujung dari persiapan akhir. Namun demikian, karena implikasinya tidak sederhana maka kami pemerintah tidak bisa melangkah sendiri dan kami harus mendapat persetujuan dari Komisi VIII DPR RI dan BPKH," tutur Menag.
"Saya sangat optimis dengan komitmen yang ditunjukan oleh DPR apalagi ini adalah aspirasi umat. Kami sudah bermohon agar Komisi VIII DPR segera mengadakan rapat kerja untuk membahas dan menyetujui terkait penambahan kuota haji dan anggaran,” papar Menag.
Baca selengkapnya ...

Emis Versus Sispena

 www.hanapibani.com


Assalaamu'alaikum Sahabat Hanapibani.com

EMIS merupakan akronim dari Education Management Information System adalah sistem informasi lembaga pendidikan yang berbasis komputer. EMIS adalah basis data yang dikelola oleh lembaga pendidikan islam dibawah naungan Kemenag.

Sedangkan Sispena adalah suatu sistem informasi untuk penilaian akreditasi sekolah yang berbasis website. ProgramSispena sendiri dibuat dalam bentuk aplikasi yang dapat diakses dari mana saja dan kapan saja dengan syarat memiliki koneksi internet untuk login Sispena.

Untuk menyingkronkan keduanya yuk simak dibawah ini:


Untuk download filenya silahkan Sobat klik dibawah ini:
 www.hanapibani.com

Baca selengkapnya ...

Monday, April 15, 2019

Cara Cepat Cek Caleg Perdaerah Seluruh Indonesia

 www.hanapibani.com


Buat yang mau tahun nama, wajah serta profil caleg untuk daerah Sobat, silahkan klik gambar dibawah ini:
 www.hanapibani.com
Setelah itu tinggal sobat masukkan nama Kecamatan, tinggal geser kekanan dan kekiri.
Di situ akan tahu siapa aja caleg untuk Dapil kita berdasarkan kecamatan, kota, provinsi dimana kita domisili, jadi bisa lebih terfokus milihnya.

Dan yg penting bisa nentuin pilihan jauh sebelum masuk bilik suara saat hari pencoblosan nanti.
✔🤝
Baca selengkapnya ...

Sunday, April 14, 2019

Pentingnya Penanaman Karakter dalam Keluarga






Hakim Pengadilan Negeri Sampang akhirnya menjatuhkan vonis bersalah kepada MH (17) pelajar SMAN 1 Torjun Sampang yang menganiaya Ahmad Budi Cahyanto, guru kesenian di sekolah tersebut, hingga tewas, Selasa (6/3/2018). Pelajar itu dijatuhi vonis 6 tahun penjara. Para majelis hakim sepakat menyatakan MH terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan hingga pembunuhan sesuai dengan isi Pasal 338 KUHP. Bhirawa (7/3/2018).
Tulisan ini tentu tidak sedang ingin mendiskusikan apakah vonis tersebut pantas dijatuhkan atau tidak, biarlah itu menjadi wilayah para ahli hukum. Penulis lebih ingin mengajak semua pihak untuk bisa memetik pesan dari kasus tersebut agar tragedi memilukan tersebut tidak kembali terulang.
Kejadian yang menimpa salah seorang guru honorer mata pelajaran seni rupa Ahmad Budi Cahyono, S.Pd. di SMA 1 Torjun, Sampang, Madura pada awal Februari lalu menjadi tragedi kemanusiaan. Bagaimana tidak, guru yang seharusnya dihormati sebagaimana orang tua, meninggal di tangan muridnya sendiri. Sungguh memprihatinkan dan menyentak sisi terdalam hati nurani.
Keberadaan guru di sekolah adalah sebagai pengganti orang tua. Untuk itu hendaknya dihormati dan ditaati selama dalam koridor kebenaran. Namun, apa yang terjadi ketika peserta didik sudah tak menghormati bahkan mengancam jiwa gurunya?
Salah satu tugas dan kewajiban guru adalah menegur ketika muridnya melakukan kesalahan, penyimpangan, atau tidak mengindahkan peraturan di sekolah. Proses demikian mencerminkan tanda sayang. Setiap guru menginginkan muridnya tumbuh menjadi pembelajar sejati. Tidak hanya pintar dalam akademik, tetapi juga memiliki sikap dan sosial yang baik.
Kepergian Pak Guru Budi meninggalkan perih dan kekhawatiran di dunia pendidikan. Apa yang ada di benak murid saat menganiaya gurunya sendiri hingga babak belur? Di mana rasa hormat dan menghargai guru? Apakah dalam keluarganya tidak pernah tertanam bagaimana cara memberlakukan gurunya? Peristiwa ini hendaknya menjadi bahan renungan dan evaluasi bersama sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali. Kejadian demi kejadian kriminal yang menimpa guru, haruskan membuat guru menguasai ilmu bela diri? Bukankah lebih elok jika guru menguasai jurus ikhlas?
Benarkah urusan pendidikan itu selalu menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan formal, dalma hal ini sekolah? Apakah jika sudah sekolah serta merta anak menjadi pribadi yang baik? Banyak orang tua yang “pasrah bongkokan” nasip anaknya pada sekolah. Seolah jika sudah memilihkan sekolah yang baik, “habis perkara”.
Padahal, rumah adalah basis utama pendidikan. Rumah merupakan tempat pertama kali seorang manusia mendapatkan ilmu dan pengalaman. Hendaklah sebagai orang tua menanyakan kembali pada diri masing-masing sesebanrnya apa alasan menyekolahkan anaknya.
Sekolah memang dapat mengembangkan pengetahuan manusia, karena di sekolah ada banyak guru dengan latar keilmuan yang berbeda-beda. Lain halnya dengan orang tua yang mungkin hanya menguasai satu atau dua mapel bidang ilmu, setidaknya ilmu yang dimiliki kedua orang tuanya. Namun demikian, perihal karakter anak, orang tua haruslah yang pertama kali menanamkannya.
Berikut ini solusi yang bisa ditawarkan untuk menumbuhkembangkan karakter pada diri anak didik. Ada tiga hal yang saling berkaitan, yaitu keluarga (dalam hal ini keluarga), sekolah, dan masyarakat. Pertama, pihak orang tua hendaknya menyadari peran pentingnya sebagai basis utama pendidikan anaknya. Keberadaan anak adalah sebuah amanah yang kelak dimintai pertangungjawaban oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Keluarga hendaknya menanamkan nilai-nilai karakter sejak dini bahkan jauh sebelum memasuki bangku sekolah. Orang tua tidak bisa memasrahkan begitu saja pendidikan anaknya kepada pihak sekolah. Bagaimanapun, orang tua adalah guru pertama bagi anaknya.
Istadi (2016: 336-342) dalam buku Mendidik dengan Cinta mengemukakan bahwa orang tua tak bisa menghindarkan diri sebagai pemikul utama tanggung jawab pendidikan. Ini adalah tugas keluarga. Lembaga prasekolah dan sekolah hanya berperan sebagai mitra pembantu. Tugas penting orang tua ini akan sangat terdukung jika mampu menciptakan suasana rumah menjadi tempat tinggal sekaligus basis pendidikan. Tugas berat, memang. Namun, ada banyak cara untuk melakukannya. Rumah sebagai basis pendidikan akan dapat dicapai dengan memperhatikan hal-hal berikut ini. (1) melengkapi fasilitas pendidikan melalui tempat belajar yang menyenangkan, media informasi dalam hal ini melalui surat kabar, majalah, dapat pula denganponsel atau laptop dengan koneksi internet, dan ketersediaan perpustakaan keluarga. (2) budaya ilmiah misalnya budaya belajar semua anggota keluarga, jam baca keluarga, gairah berbagi pengetahuan, dan juga gairah rasa ingin tahu. Tentu saja orang tua harus mencontohkannya. Bukankah guru terbaik adalah keteladanan?
Kedua, pihak sekolah harus bersinergi dengan pihak keluarga dalam hal ini orang tua. Sekolah perlu memikirkan cara agar orang tua proaktif menjalin komunikasi dengan pihak sekolah. Jangan sampai ketika ada masalah pada anak orang tua malah mengintimidasi gurunya. Hendaknya duduk bersama untuk mencari solusi terbaik. Tentunya pihak sekolah berharap agar orang tua jangan sungkan menanyakan kabar anak ke sekolah. Harapan yang ingin diwujudkan adalah apa yang disampaikan guru di sekolah dan orang tua di rumah akan seiring sejalan serta bahu membahu mewujudkan karakter pada anaknya. Jika komunikasi dua arah sudah terjadi dengan baik dan mempunyai pijakan yang sama antara orang tua dan guru maka anak akan memiliki muara karakter yang sama.
Kisah menarik diceritakan oleh Alifi (2017: 121-122) dalam bukunya Rockstar Teacher bahwa walimurid di MIT AR-Roihan, Kabupaten Malang mampu menggerakkan walimurid untuk ambil bagian di kegiatan-kegiatan sekolah. Walimurid datang ke sekolah tidak hanya untuk urusan antar jemput anaknya atau sekadar menghadiri pertemuan orang tua seperti pengambilan rapot atau rapat komite sekolah. Ketika menerima kunjungan studi banding dari luar daerah misalnya, walimurid bahkan bertindak sebagai guide menjelaskan tiap bagian sekolah. Dari cara menjelaskan, walimurid tidak lagi sebagai outsider di sekolah tersebut. Mereka tuntas sekali dalam mengetahui dan memahami seluk-beluk sekolah. Hanya hal-hal yang berurusan dengan istilah-istilah akademik—seperti RPP, silabus, dan metode mengajar—saja yang mereka serahkan kepada guru-guru. Rupanya, ada kiat yang mereka terapkan, yaitu menjalin hubungan yang intens antara guru-karyawan dan orang tua. Hubungan tersebut layaknya keluarga, bukan sekadar seperti wali murid dan sekolah. Aplikasi whatsap dapat diberdayagunakan. Sekolah pun membentuk paguyuban dan sebulan sekali pasti berkumpul entah arisan atau kegiatan lainnya.
Ketiga masyarakat hendaknya dapat bertindak sebagai kontrol atas jalannya pendidikan karakter. Jika terjadi sebuah kasus atau masalah, masyarakat tidak boleh tinggal diam. Justru masyarakat mempunyai kekuatan yang lebih besar. Karena keluarga dan sekolah otomatis menjadi bagian dari sebuah masyarakat. Untuk itu, pihak sekolah perlu menjalin simbiosis mutualisme dengan pihak keluarga dan masyarakat. Masyarakat perlu dilibatkan dalam kegitan-kegiatan di sekolah. Pun keluarga sebagai bagian dari masyarakat harus mendukung apa-apa yang dicanangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Masyarakat dalam hal ini kumpulan keluarga perlu memikirkan nasib pendidikan warganya. Keberadaan RT, PKK, Dasawisma, Pedukuhan perlu dimaksimalkan untuk berperan secara aktif memikirkan pendidikan dalam rangka menanamkan karakter.
Dengan demikian, pendidikan karakter tidak hanya tanggung jawab guru di sekolah, tetapi juga keluarga di rumah. Jika setiap keluarga melakukan perannya dengan baik dalam menanamkan pendidikan karakter, nantinya akan tercipta masyarakat yang berkarakter. Pada tahapan selanjutnya, masyarakat yang berkarakter akan membentuk warga negara yang berkarakter. Semoga generasi penerus bangsa memiliki karakter yang kuat sehingga tidak akan muncul lagi kasus guru Budi yang lain.
(Tulisan ini pernah dimuat di Koran Bhirawa, edisi 12 Maret 2018)
Penulis : Yeti Islamawati, S.S. Guru di MTsN 9 Bantul. (surel yetiislamawati@gmail.com; IG: @yetiislamawati; FB: Yeti Islamawati)
Baca selengkapnya ...

Nama Madrasah Kembali Harum dalam Event Pencak Silat Tingkat Nasional

 www.hanapibani.com


Ali Fikri dan Eko Apriyansa, dua siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Bengkulu mengharumkan nama madrasah. Keduanya meraih juara pada event pencak silat tingkat nasional bertajuk “National Open Tournament Lampung Championship 2019”.
National Open Tournament Lampung Championship 2019 berlangsung di GOR Saburai Lampung, 23 - 24 Maret 2019. Ali Fikri meraih Medali Emas, sedang Eko Apriyansa meraih Medali Perak. Keduanya turun di Kelas Remaja SMA/MA.
“Kami berjuang untuk meraih target juara di event nasional yang diikuti pesilat se-Indonesia itu. Ini juga berkat pihak Madrasah yang selalu mendukung kami untuk melaksanakan latihan intensif,” ujar kedua pesilat ini sebagaimana dikutip dari laman Kanwil Kemenag Bengkulu, Sabtu (13/04)
Terpisah, Kepala MAN 2 Kota Bengkulu, Karmila, mengatakan bahwa kegiatan ekstrakurikuler yang ada di madrasahnya, selain memberikan ruang bakat, juga untuk mengasah mental para siswa.
“Saya juga berharap tidak hanya atlet pencak silat yang mampu meningkatkan dan mempertahankan prestasi yang telah diraih. Namun, untuk semua cabang ekstra kurikuler dan bidang akademik, sesuai dengan jargon kita “Madrasah Hebat Bermartabat,” Pungkas Karmila. 
Baca selengkapnya ...

Saturday, April 13, 2019

Lebih 12ribu Siswa Ikuti Seleksi Nasional Masuk Madrasah Tahun 2019

 www.hanapibani.com


Kementerian Agama menggelar Seleksi Nasional Peserta Didik Baru (SNPDB) Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Seleksi digelar serentak selama dua hari, 13-14 April 2019.
Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan,  dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah A Umar mengatakan, SNPDB digelar serentak untuk tiga jenis madrasah, yaitu: MAN Insan Cendekia (MAN IC),  MAN Program Keagamaan (MAN PK), dan MA Kejuruan Negeri (MAKN). 
Menurut A Umar, ikut dalam SNPDB MAN ini, 13.976 pendaftar. Jumlah ini terdiri atas 7.694 siswa dari madrasah dan 5.961 dari sekolah umum. Pendaftar tersebut kemudian diseleksi secara administrasi untuk bisa ikut tahap selanjutnya. 
"Data kami, 12.347 siswa dinyatakan berhak ikuti seleksi, terdiri dari 10.596 pendaftar MAN IC, 1.619 pendaftar MAN PK,  dan 132 pendaftar MAKN," terang A Umar di Jakarta, Sabtu (13/04).
"SNPDB MANIC-MANPK-MAKN ini merupakan salah satu instrumen untuk menjaring calon peserta didik yang potensial ditinjau dari sisi akademik, kepribadian, dan kesehatan, sehingga diharapkan dapat mengikuti pendidikan secara optimal di madrasah dengan sistem berasrama," lanjutnya. 
Menurut Umar, materi seleksi terdiri atas Tes Potensi Belajar (TPB), dan Tes Akademik yaitu : Matematika, Bahasa Arab, Bahasa Inggris, PAI, IPA (Fisika dan Biologi). Seleksi digelar dengan mekanisme computer based test (CBT) pada 69 madrasah yang tersebar di 32 provinsi. Khusus pilihan MAN PK, akan dilakukan juga tes wawancara. 
"Tahun ini, kali pertama penerimaan siswa baru MAN secara Computer Based Test (CBT). Pendaftaran, upload dokumen persyaratan  dan mencetak tanda pengenal dapat dilakukan oleh siswa masing-masing," tuturnya. 
"Hasil seleksi ini rencananya akan diumumkan pada 30 April 2019, melalui website Kementerian Agama," tandasnya. 
Baca selengkapnya ...

PPG Madrasah Kini Bisa Diikuti Guru Hingga Angkatan 2015



Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK)  Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama membuka pendaftaran Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi guru madrasah dengan TMT (Tahun Mulai Tugas) sebelum 31 Desember 2015. 
Ini kebijakan baru karena PPG sebelumnya hanya bisa diikuti guru madrasah dengan TMT sebelum 31 Desember 2005. Kebijakan ini diambil untuk memberi kesempatan yang lebih luas bagi guru madrasah mengikuti proses sertifikasi. 
"Kami memberi peluang yang lebih luas dan harapannya guru bisa lebih kompetitif," ujar Direktur GTK Madrasah, Suyitno, di Jakarta, Jumat (12/04).
Menurut Suyitno, pendaftaran PPG dimulai dari 10 - 28 April 2019, secara online melalui situs simpatika.kemenag.go.id. Cara mendaftarnya dengan menggunakan akun masing-masing guru.
"Pendaftaran secara online melalui simpatika agar lebih terbuka dan transparan. Ini sejalan dengan era revolusi industri 4.0," kata Suyitno.
Suyitno menambahkan, proses pendaftaran dimulai dari pemetaan linieritas pendidikan S1/D-IV, pendaftaran peserta, seleksi administrasi dan terakhir seleksi akademik. Syarat yang harus dipenuhi oleh pendaftar, sudah diangkat sebagai guru madrasah sejak tahun 2015.
"Syaratnya sudah terdaftar sebagai guru sejak 31 Desember 2015," jelas Suyitno.
Pelaksanaan seleksi akademik, kata Suyitno, juga akan dilakukan secara online. Seleksi tersebut meliputi: tes potensi akademik, tes pedagogik, tes bidang studi, serta tes bakat dan minat. 
"Bagi guru yang belum lulus tes seleksi akademik tahun sebelumnya diperbolehkan mendaftar ulang untuk mengikuti seleksi akademik," tambah Suyitno 
Pengumuman tempat pelaksanaan seleksi akademik di Tempat Ujian Kompetensi (TUK), akan diumumkan beberapa hari ke depan. 
Baca selengkapnya ...

Thursday, April 11, 2019

Daftar Linieritas Kualifikasi S-1/D-IV PPG dalam Jabatan Tahun 2019

Assalaamu'alaikum Sahabat Hanapibani.com

Menyikapi adanya beberapa Sahabat yang bertanya mengenai kelinieran ijazahnya dengan program studi / mata pelajaran yang ingin dipilih pada PPG Madrasah tahun 2019 ini maka kami berinisiatif untuk menerbitkan artikel singkat ini dengan harapan dapat dijadikan panduan bagi Sobat yang membutuhkannya.

Linier yang dimaksud diaini adalah kesesuaian antara program studi pada ijazah S-1/D-IV dengan program studi PPG dalam Jabatan sebagai berikut.

A. Guru Mata Pelajaran Rumpun Agama di MI,  MTs,  MA,  MAK


Fikih
Mata pelajaran fikih berkodekan 237.
Untuk mengambil mapel ini saat PPG maka Sobat harus merupakan lulusan S-1/D-4 dari:
  • Pendidikan Agama Islam
  • Pendidikan Agama
  • Pendidikan Ilmu Agama 
  • Akhwalus Syakhsiyah
  • Peradilan Agama
  • Perbandingan Madzhab
  • Jinayah Siyasah
  • Pidana Islam
  • Mu'amalah
  • Ilmu Falak
  • Dirasah Islamiyahx
  • Perbandingan Madzhab dan Hukum
  • Tafsir Hadits (Syariah) 
  • Syari'ah Islamiyah
  • Syari'ah Wal Qonun

Berikut tabelnya:


Alqur'an Hadits
Bagi Sobat yang ingin mengambil mapel yang berkodekan 236 ini maka Sobat mesti merupakan lulusan dari S-1/D-4 berikut:
  • Pendidikan Agama Islam
  • Pendidikan Agama
  • Pendidikan Ilmu Agama
  • Tafsir Hadits
  • Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
  • Ilmu Hadits
  • Dirasah Islamiyah
  • Tafsir Ulumul Qur'an
  • Hadits Ulumul Hadits

Berikut tabelnya:


Akidah Akhlak
Berkodekan 235, mapel ini bisa diambil untuk PPG bagi Sobat yang punya ijazah berikut:
  • Pendidikan Agama Islam
  • pendidikan Agama
  • Pendidikan Ilmu Agama
  • Aqidah Filsafat
  • Aqidah Filsafat Islam
  • Akhlak Tasawuf
  • Ilmu Tasawuf
  • Tasawuf dan Psikoterapi
  • Dirasah Islamiyah
  • Perbandingan Agama
  • Aqidah Filsafat 

Berikut tabelnya


Sejarah Kebudayaan Islam
Mapel terakhir yang termasuk PAI ini diberi kode 238. Bagi Sobat yang berminat maka mesti merupakan lulusan berikut:
  • Pendidikan Agama Islam
  • Pendidikan Agama 
  • Pendidikan Ilmu Agama
  • Sejarah Kebudayaan Islam
  • Sejarah Peradaban Islam
  • Ilmu Sejarah
  • Sejarah
  • Pendidikan Sejarah

Berikut tabelnya:

B.  Guru Mapel Umum 

Guru Kelas RA
  • Pendidikan Guru RA
  • Pendidikan Islam Anak Usia Dini
  • Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini
  • Pendidikan Anak Usia Dini


Guru Kelas MI
  • PGSD
  • Psikologi
  • PGMI
  • Pendidikan Matematika
  • Pendidkan Bahasa Indonesia
  • Pendidikan IPA
  • Pendidikan Kimia
  • Pendidikan Fisika
  • Pendidikan Biologi
  • Pendidikan PKn
  • Pendidikan IPS
  • Pendidikan Sejarah
  • Pendidikan Geografi 
  • Pendidikan Ekonomi
  • Matematika 
  • Bahasa Indonesia 
  • Fisika
  • Kimia
  • Biologi
  • Sejarah
  • Ekonomi 
  • Geografi
  • Tadris IPS
  • Tadris Bahasa Indonesia
  • Tadris Matematika
  • Tadris IPA
  • Tadris Biologi
  • Tadris Fisika
  • Tadris Kimia


Untuk mapel lainya silahkan simak dibawah ini:


untuk download filenya silahkan klik dibawah ini:
 www.hanapibani.com
Adapun mengenai tata cara pengajuannya di SIMPATIKA silahkan klik DISINI 
Baca selengkapnya ...

Surat Edaran Persiapan Pelaksanaan PPG dalam Jabatan Tahun 2019

 www.hanapibani.com


Assalaamu'alaikum Sahabat Hanapibani.com

Sehubungan dengan pelaksanaan Program Pendidikan Profesi Guru dalam Jabatan Tahun 2019, bersama ini kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Tahapan Persiapan
  2. Calon peserta PPG dalam jabatan adalah guru madrasah yang diangkat sampai dengan tanggal 31 Desember 2015.
  3. Guru calon peserta PPG dalam Jabatan yang memenuhi syarat mendaftarkan diri melalui SIMPATIKA  mulai tanggal 10 April - 28 April 2019.
  4. Pelaksanaan Seleksi Akademik akan dilakukan melalui tes online yang meliputi Tes Potensi Alademik (TPA), tes pedagogik,  tes bidang studi,  danbtes bakat dan minat. 
  5. Guru yang belum lulus seleksi akademik di tahun sebelumnya dapat mendaftar ulang kembali untuk mengikuti pelaksanaan seleksi akademik ditahun ini. 
  6. Pelaksanaan seleksi akademik akan dilaksanakan di Tempat Ujian Kompetensi (TUK)  yang waktu dan tempatnya akan ditentukan kemudian. 
  7. Hanya guru yang lulus passing grade seleksi akademik yang dapat mengisi kuota Peserta PPG 2019.
Selengkapnya lihat dibawah ini:


Untuk download filenya silahkan klik dibawah ini:

Baca selengkapnya ...

Cara Ajuan PPG Madrasah 2019 di SIMPATIKA

Dalam Rangka Persiapan Pelaksanaan Sertifikasi Guru Madrasah Dalam Jabatan melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG) Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah, Guru dapat mengajukan PPG melalui layanan SIMPATIKA. 

Untuk tahun 2019 pendaftaran PPG melalui SIMPATIKA berlangsung pada tanggal 10 – 28 April 2019

Berikut syarat agar Guru dapat mengajukan PPG melalui layanan SIMPATIKA :
  1. Memiliki NUPTK
  2. Memiliki Ijazah D4/S1
  3. Memiliki NPK (Nomor Pendidik Kemenag)
  4. Berusia Maksimal 58 Tahun
  5. Guru yang diangkat sampai dengan tanggal 31 Desember 2015.
Berikut langkah singkat ajuan PPG oleh Guru :
  1. Login menggunakan akun Guru melalui layanan http://simpatika.kemenag.go.id/ LOGIN PTK-ADMIN
  2. Pada halaman beranda Guru, pilih menu PPG dalam Jabatan, selanjutnya klik tombol Ajukan PPG. klik-ajukan-ppg 
  3. Namun jika prayarat tidak terpenuhi, maka pada laman menu PPG dalam Jabatan akan 
Baca selengkapnya ...
Powered by BeGeEm - Designed Template By HANAPI