Breaking News

28 February 2021

Hukum Puasa Sebulan Penuh di Bulan Rajab

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
بسم الله و الحمد لله
اللهم صلى على سيدنا محمد و على أله
 و صحبه أجمعين

Salam Sahabat Hanapi Bani.

Kesunnahan puasa Rajab telah dirumuskan oleh para ulama dalam beberapa literatur fiqih klasik. Mereka hampir dalam titik sepakat mengenai anjuran berpuasa Rajab, sebab dalil-dalinya sudah jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Syekh Ibnu Hajar al-Haitami sampai menentang keras kepada pihak yang menuduh bahwa puasa Rajab adalah bid’ah. Argumen utuh Syekh Ibnu Hajar telah kami jelaskan dalam sebuah tulisan yang berjudul “Tanggapan Syekh Ibnu Hajar atas Tuduhan Bid’ah Puasa Rajab.”

Berkaitan dengan anjuran berpuasa Rajab, masih ada yang bertanya-tanya bagaimana bila puasa Rajab dilakukan sebulan penuh? Realitas di masyarakat ada yang memiliki wadhifah (rutinan) berpuasa penuh di bulan Rajab.

Anjuran berpuasa Rajab di antaranya dirumuskan berdasarkan hadits sahabat Abdullah bin al-Harits al-Bahili. Beliau sangat rajin berpuasa. Beliau hanya makan di malam hari, sampai badannya kurus dan lemah. Nabi sampai ‘pangling’ (tidak mengenali) al-Bahili karena perubahan drastis pada kondisi fisik tubuhnya, padahal baru satu tahun tidak berjumpa. Nabi akhirnya memperikan petunjuk agar al-Bahili mengurangi frekuensi puasanya. Nabi menyarankan agar al-Bahili berpuasa pada waktu-waktu tertentu, di antaranya adalah di bulan-bulan mulia (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Nabi menganjurkan kepada al-Bahili agar berpuasa di bulan-bulan mulia dilakukan dengan jeda, sehari berpuasa sehari berbuka atau tiga hari berpuasa tiga hari berbuka.

Berikut ini adalah bunyi lengkap haditsnya:
عَنْ مُجِيبَةَ الْبَاهِلِيَّةِ عَنْ أَبِيهَا أَوْ عَمِّهَا أَنَّهُ أَتَى رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ انْطَلَقَ فَأَتَاهُ بَعْدَ سَنَةٍ وَقَدْ تَغَيَّرَتْ حَالُهُ وَهَيْئَتُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ الله أَمَا تَعْرِفُنِي قَالَ وَمَنْ أَنْتَ قَالَ أَنَا الْبَاهِلِيُّ الَّذِي جِئْتُكَ عَامَ الْأَوَّلِ قَالَ فَمَا غَيَّرَكَ وَقَدْ كُنْتَ حَسَنَ الْهَيْئَةِ قَالَ مَا أَكَلْتُ طَعَامًا إِلَّا بِلَيْلٍ مُنْذُ فَارَقْتُكَ فَقَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَ عَذَّبْتَ نَفْسَكَ ثُمَّ قَالَ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا مِنْ كُلِّ شَهْرٍ قَالَ زِدْنِي فَإِنَّ بِي قُوَّةً قَالَ صُمْ يَوْمَيْنِ قَالَ زِدْنِي قَالَ صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ قَالَ زِدْنِي قَالَ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ وَقَالَ بِأَصَابِعِهِ الثَّلَاثَةِ فَضَمَّهَا ثُمَّ أَرْسَلَهَا

“Dari Mujibah al-Bahiliyyah, dari bapaknya atau pamannya, bahwa ia mendatangi Nabi. Kemudian ia kembali lagi menemui Nabi satu tahun berikutnya sedangkan kondisi tubuhnya sudah berubah (lemah/kurus). Ia berkata, ‘Ya Rasul, apakah engkau mengenaliku?’ Rasul menjawab, ‘siapakah engkau?’ Ia menjawab, ‘Aku al-Bahili yang datang kepadamu pada satu tahun yang silam.’ Nabi menjawab, ‘Apa yang membuat fisikmu berubah padahal dulu fisikmu bagus (segar).’ Ia menjawab, ‘Aku tidak makan kecuali di malam hari sejak berpisah denganmu.’ Nabi berkata, ‘Mengapa engkau menyiksa dirimu sendiri? Berpuasalah di bulan sabar (Ramadhan) dan satu hari di setiap bulannya.’ Al-Bahili berkata, ‘Mohon ditambahkan lagi ya Rasul, sesungguhnya aku masih kuat (berpuasa).’ Nabi menjawab, ‘Berpuasalah dua hari.’ Ia berkata, ‘Mohon ditambahkan lagi ya Rasul.’ Nabi menjawab, ‘Berpuasalah tiga hari.’ Ia berkata, ‘Mohon ditambahkan lagi ya Rasul.’ Nabi menjawab, ‘Berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah, berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah, berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah.’ Nabi mengatakan demikian seraya berisyarat dengan ketiga jarinya, beliau mengumpulkan kemudian melepaskannya.” (HR. Abu Daud).

Mengomentari redaksi “Nabi mengatakan demikian seraya berisyarat dengan ketiga jarinya, beliau mengumpulkan kemudian melepaskannya”, Syekh Abu al-Thayyib Syams al-Haq al-Adhim mengatakan:

أَيْ صُمْ مِنْهَا مَا شِئْتَ وَأَشَارَ بِالْأَصَابِعِ الثَّلَاثَةِ إِلَى أَنَّهُ لَا يَزِيْدُ عَلَى الثَّلَاثِ الْمُتَوَالِيَاتِ وَبَعْدَ الثَّلَاثِ يَتْرُكُ يَوْمًا أَوْ يَوْمَيْنِ وَالْأَقْرَبُ أَنَّ الْإِشَارَةَ لِإِفَادَةِ أَنَّهُ يَصُوْمُ ثَلَاثًا وَيَتْرُكُ ثَلَاثًا وَاللهُ أَعْلَمُ  قَالَهُ السِّنْدِيُّ

“Maksudnya, berpuasalah dari bulan-bulan mulia sekehendakmu. Nabi berisyarat dengan ketiga jarinya untuk menunjukan bahwa al-Bahili hendaknya berpuasa tidak melebihi tiga hari berturut-turut, dan setelah tiga hari, hendaknya meninggalkan puasa selama satu atau dua hari. Pemahaman yang lebih dekat adalah, isyarat tersebut untuk memberikan penjelasan bahwa hendaknya al-Bahili berpuasa selama tiga hari dan berbuka selama tiga hari. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Syekh al-Sindi. Wallahu A’lam.” (Syekh Abu al-Thayyib Syams al-Haq al-Azhim, ‘Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, juz 7, hal. 58).

Dalam hadits tersebut Nabi memerintahkan kepada Sahabat al-Bahili agar puasa di bulan Rajab tidak dilakukan secara terus-menerus, akan tetapi diberi jeda waktu. Bisa tiga hari berpuasa, tiga hari berbuka. Atau tiga hari berpuasa berturut-turut, selanjutnya diberi jeda satu atau dua hari untuk berbuka, kemudian memulai lagi berpuasa tiga hari.

Pertanyaannya kemudian, apakah anjuran Nabi untuk membuat jeda puasa Rajab tersebut juga berlaku untuk semua orang? Atau perlu diarahkan konteksnya?

Ulama menegaskan bahwa anjuran Nabi tersebut konteksnya hanya berlaku bagi orang yang tidak mampu berpuasa penuh di bulan Rajab, seperti al-Bahili. Di dalam awal hadits ditegaskan bahwa al-Bahili memang tidak kuat berpuasa, ia memaksakan diri hingga menimbulkan dampak yang buruk untuk kesehatannya. Sehingga wajar bila Nabi membatasi frekuensi puasa Rajab al-Bahili. Adapun orang yang mampu berpuasa penuh di bulan Rajab, maka sunah bagi dia untuk melakukannya.

Syekh Abdul Hamid al-Syarwani mengutip statemen Syekh Ibnu Hajar al-Haitami:

وَفِيهِ أَيْضًا رَوَى أَبُو دَاوُد وَغَيْرُهُ «صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ» وَإِنَّمَا أَمَرَ الْمُخَاطَبَ بِالتَّرْكِ؛ لِأَنَّهُ كَانَ يَشُقُّ عَلَيْهِ إكْثَارُ الصَّوْمِ كَمَا جَاءَ التَّصْرِيحُ بِهِ فِي أَوَّلِ الْحَدِيثِ 

“Dan di dalam kitab al-I’ab juga disebutkan, Abu Daud dan lainnya meriwayatkan, ‘Berpuasalah dari bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah.’ Nabi memerintahkan al-Bahili untuk meninggalkan puasa, sebab memperbanyak puasa baginya berat, sebagaimana yang disebutkan dalam awal hadits.” 

أَمَّا مَنْ لَا يَشُقُّ عَلَيْهِ فَصَوْمُ جَمِيعِهَا لَهُ فَضِيلَةٌ وَمِنْ ثَمَّ قَالَ الْجُرْجَانِيُّ وَغَيْرُهُ يُنْدَبُ صَوْمُ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ كُلِّهَا اهـ

“Adapun orang yang tidak berat berpuasa, maka berpuasa di sepanjang bulan-bulan mulia merupakan keutamaan. Karena itu, Syekh al-Jurjani dan lainnya mengatakan sunah berpuasa penuh di bulan-bulan mulia.” (Syekh Abdul Hamid al-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani ‘ala al-Tuhfah, juz 3, hal. 461).

Walhasil, hukum berpuasa penuh di bulan Rajab adalah sunah bagi orang yang kuat menjalankannya. Sedangkan bagi yang memiliki kendala kesehatan atau ketahanan fisik, maka dianjurkan berpuasa semampunya.

Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.

Terimakasih atas kunjungannya, untuk dapatkan pemberitahuan langsung mengenai artikel terbaru di facebook silakan klik suka pada halaman kami HANAPI BANI

atau gabung Group kami;

Youtube ;(Klik DISINI)
WA 1 ; (Klik DISINI)
WA 2 ; (Klik DISINI)
WA 3 ; (Klik DISINI)
Telegram ; 
(Klik DISINI)
Bip ; 
(Klik DISINI)

    و صلى على سيدنا محمد و على أله
     و صحبه أجمعين
    ثم السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

    Protected by Copyscape
    Read more ...

    27 February 2021

    Tanggapan Syekh Ibnu Hajar atas Tuduhan Bid’ah Puasa Rajab

    السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
    بسم الله و الحمد لله
    اللهم صلى على سيدنا محمد و على أله
     و صحبه أجمعين

    Salam Sahabat Hanapi Bani.

    Sebagian kalangan menganggap bahwa puasa di bulan Rajab adalah bid’ah. Mereka berdalih bahwa hadits yang menerangkan tentang puasa Rajab tidak bisa dibuat dalil. Mereka menganggap tradisi berpuasa di bulan Rajab ini adalah terlarang.

    Beberapa syubuhat (propaganda) mereka lancarkan di berbagai media untuk menghentikan tradisi berpuasa Rajab yang telah turun temurun diakui oleh para kiai dan ajengan di Nusantara. Benarkah puasa Rajab dilarang oleh agama?

    Fenomena pelarangan puasa Rajab sebenarnya bukan hal yang baru. Dahulu ada seorang ustadz di zaman Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dengan lantangnya menyuarakan pelarangan puasa Rajab. Ia seakan merasa lebih alim dari ulama pada waktu itu yang secara keilmuan jauh lebih luas darinya. Ia berargumen begini:

    أَحَادِيثُ صَوْمِ رَجَب مَوْضُوعَةٌ وقد قال النَّوَوِيُّ الْحَدِيثُ الْمَوْضُوعُ لَا يُعْمَلُ بِهِ وقد اتَّفَقَ الْحُفَّاظُ على أَنَّهُ مَوْضُوعٌ  

    “Hadits-hadits tentang puasa bulan Rajab adalah maudlu’ (palsu), al-Imam al-Nawawi mengatakan hadits maudlu’ tidak bisa diamalkan. Sedangkan para huffazh sepakat bahwa hadits tersebut palsu.”

    Dengan argumen tersebut, secara frontal ia mengharamkan dan membid’ahkan masyarakat setempat yang menjalankan puasa Rajab. Hal ini membuat masyarakat resah atas fatwa haram tersebut, hingga akhirnya persoalan tersebut dihaturkan kepada Syekh Ibnu Hajar al-Haitami untuk memberikan solusi jawaban atas fatwa tersebut.

    Jawaban Syekh Ibnu Hajar al-Haitami atas fatwa bid’ah berpuasa Rajab tersebut setidaknya dapat disimpulkan sebagai berikut:

    Pertama, memang betul terdapat beberapa hadits puasa Rajab yang maudlu’ (palsu), hanya saja para ulama dalam menetapkan kesunahan berpuasa Rajab sama sekali tidak berpegangan pada hadits tersebut. Beliau menegaskan:


    نَعَمْ رُوِيَ في فَضْلِ صَوْمِهِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ مَوْضُوعَةٌ وَأَئِمَّتُنَا وَغَيْرُهُمْ لم يُعَوِّلُوا في نَدْبِ صَوْمِهِ عليها حَاشَاهُمْ من ذلك وَإِنَّمَا عَوَّلُوا على ما قَدَّمْته وَغَيْره

    “Betul demikian, terdapat banyak hadits palsu yang menerangkan keutamaan berpuasa Rajab, hanya saja para imam kita dan yang lain tidak berpedoman pada hadits-hadit tersebut, dan sungguh tidak mungkin bila hal tersebut tetjadi. Akan tetapi mereka berpegangan pada argumen yang telah saya sampaikan dan dalil-dalil lainnya.”

    (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatâwâ al-Fiqhiyyah al-Kubrâ, Beirut, Dar al-Fikr, 1983, juz 2, halaman 53)

    Kedua, kesunahan puasa Rajab sudah tercakup dalam hadits yang menganjurkan berpuasa secara umum, seperti hadits qudsi:

    يقول الله كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ له إلَّا الصَّوْمَ

    “Allah berfirman, seluruh amal Ibnu Adam diperuntukan kepadanya kecuali puasa.”

    Atau hadits Nabi tentang puasa Daud:

    إنَّ أَفْضَلَ الصِّيَامِ صِيَامُ أَخِي دَاوُد كان يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا 

    “Sesungguhnya puasa yang paling utama adalah puasanya saudaraku Daud, ia berpuasa satu hari dan berbuka satu hari berikutnya.”

    Dalam hadits tersebut, Rasulullah tidak mengecualikan bulan tertentu, termasuk Rajab. Ibnu Hajar menegaskan:

    وكان دَاوُد يَصُومُ من غَيْرِ تَقْيِيدٍ بِمَا عَدَا رجب من الشُّهُورِ

    “Dan Nabi Daud berpuasa tanpa ada batasan pengecualian di bulan Rajab.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatâwâ al-Fiqhiyyah al-Kubrâ, Beirut, Dar al-Fikr, 1983 M, juz 2, halaman 53)

    Ketiga, kesunahan puasa Rajab sudah tercakup dalam hadits yang menganjurkan berpuasa di bulan-bulan haram. Dan sudah sangat maklum, Rajab termasuk dari bulan-bulan haram, bahkan tergolong yang paling mulia di antara bulan-bulan haram tersebut. Seperti dalam hadits riwayat Abi Daud, Ibnu Majah dan lainnya:

    عن الْبَاهِلِيِّ أَتَيْت رَسُولَ اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم فَقُلْت يا رَسُولَ اللَّهِ أنا الرَّجُلُ الذي أَتَيْتُك عَامَ الْأَوَّلِ قال فما لي أَرَى جِسْمَك نَاحِلًا قال يا رَسُولَ اللَّهِ ما أَكَلْت طَعَامًا بِالنَّهَارِ ما أَكَلْته إلَّا بِاللَّيْلِ قال من أَمَرَك أَنْ تُعَذِّبَ نَفْسَك قُلْت يا رَسُولَ اللَّهِ إنِّي أَقْوَى قال صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمْ الْأَشْهُرَ الْحُرُمَ

    “Dari al-Bahili, aku mendatangi Nabi, dan berkata: ‘Ya Rasul, aku adalah laki-laki yang mendatangimu di tahun yang lalu.’ Rasul menjawab, ‘Aku lihat badanmu semakin kurus.’ Ia menjawab, ‘Ya Rasul, aku tidak makan di siang hari, aku makan hanya di malam hari.’ Rasul berkata, ‘Siapa yang memerintahmu untuk menyiksa dirimu?’ Aku berkata, ‘Ya Rasul sesungguhnya aku kuat (berpuasa).’ Rasul berkata, ‘Berpuasa di bulan sabar dan tiga hari setelahnya, berpuasalah di bulan-bulan mulia.”

    وفي رِوَايَةٍ صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَيَوْمًا من كل شَهْرٍ قال زِدْنِي فإن لي قُوَّةً قال صُمْ يَوْمَيْنِ قال زِدْنِي فإن لي قُوَّةً قال صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بَعْدَهُ وَصُمْ من الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ من الحرم وَاتْرُكْ وقال بِأُصْبُعِهِ الثَّلَاثِ يَضُمُّهَا ثُمَّ يُرْسِلُهَا

    “Dalam riwayat lain disebutkan, berpuasalah di bulan sabar dan satu hari di setiap bulannya. Al-Bahili menjawab, ‘Tambahkan lagi ya Rasul, sesungguhnya aku masih sanggup.’ Rasul berkata, ‘Berpuasalah dua hari.’ Al-Bahil berkata, ‘Tambahkan lagi ya Rasul, sesungguhnya aku masih sanggup.’ Rasul berkata, ‘Berpuasalah tiga hari setelahnya, berpuasalah dari bulan haram, tinggalkanlah dari bulan haram, berpuasalah dari bulan haram dan tinggalkanlah darinya.’ Nabi berisyarah dengan ketiga jarinya seraya mengumpulkan dan melepaskannya.”

    Setelah mengutip hadits di atas, Syekh Ibnu Hajar menegaskan:

    فَتَأَمَّلْ أَمْرَهُ صلى اللَّهُ عليه وسلم بِصَوْمِ الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ في الرِّوَايَةِ الْأُولَى وَبِالصَّوْمِ منها في الرِّوَايَةِ الثَّانِيَةِ تَجِدهُ نَصًّا في الْأَمْرِ بصوم رَجَب أو بِالصَّوْمِ منه لِأَنَّهُ من الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ بَلْ هو من أَفْضَلِهَا

    “Renungkanlah perintah Nabi dengan berpuasa penuh di bulan haram dalam riwayat pertama, dan berpuasa di sebagian hari bulan haram dalam riwayat kedua, maka engkau akan menemukan dalil nash yang tegas tentang anjuran berpuasa di sepanjang bulan Rajab atau beberapa hari darinya, sebab Rajab termasuk bulan-bulan mulia, bahkan termasuk yang paling utama di antara bulan-bulan mulia tersebut.”

    (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatâwâ al-Fiqhiyyah al-Kubrâ, Beirut, Dar al-Fikr, 1983 M, juz.2, hal.53)

    Keempat, terdapat beberapa hadits dla’if yang menganjurkan berpuasa di bulan Rajab secara khusus, di antaranya hadits riwayat al-Baihaqi dari sahabat Anas:

    إنَّ في الْجَنَّةِ نَهْرًا يُقَالُ له رَجَبٌ أَشَدُّ بَيَاضًا من اللَّبَنِ وَأَحْلَى من الْعَسَلِ من صَامَ من رَجَبٍ يَوْمًا سَقَاهُ اللَّهُ من ذلك النَّهْرِ 

    “Sesungguhnya di dalam surga terdapat sungai yang disebut Rajab, lebih putih dari susu, lebih manis dari madu. Barang siapa berpuasa dari bulan Rajab satu hari, maka Allah kelak memberinya minum dari sungai tersebut.” 

    Hadits ini tergolong hadits mauquf atas Abi Qilabah, seorang tabi’in.

    Dalam hadits lain disebutkan:

    عن أبي هُرَيْرَةَ أَنَّ النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم لم يَصُمْ بَعْدَ رَمَضَانَ إلَّا رَجَبَ وَشَعْبَانَ 

    “Dari Abi Hurairah, sesungguhnya Nabi tidak berpuasa setelah Ramadlan kecuali di bulan Rajab dan Sya’ban.”

    Sanad hadits ini adalah lemah (dla’if).

    Meski tergolong dla’if, namun hadits di atas dapat dipakai dalam konten yang berkaitan dengan keutamaan amal (fadlail al-a’mal), dan berpuasa Rajab termasuk dalam konteks ini. Syekh Ibnu Hajar menegaskan:

    وقد تَقَرَّرَ أَنَّ الحديث الضَّعِيفَ وَالْمُرْسَلَ وَالْمُنْقَطِعَ وَالْمُعْضَلَ وَالْمَوْقُوفَ يُعْمَلُ بها في فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ إجْمَاعًا وَلَا شَكَّ أَنَّ صَوْمَ رَجَبٍ من فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ فَيُكْتَفَى فيه بِالْأَحَادِيثِ الضَّعِيفَةِ وَنَحْوِهَا وَلَا يُنْكِرُ ذلك إلَّا جَاهِلٌ مَغْرُورٌ

    “Dan merupakan ketetapan bahwa hadits dla’if, mursal, munqathi’, mu’dlal dan mauquf dapat dipakai untuk keutamaan amal menurut kesepakatan ulama. Tidak diragukan lagi bahwa berpuasa Rajab termasuk dalam keutamaan amal, maka cukup memakai hadits-hadits dla’if dan sesamanya. Dan tidak mengingkari kesimpulan ini kecuali orang bodoh yang tertipu.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatâwâ al-Fiqhiyyah al-Kubrâ, Beirut, Dar al-Fikr, 1983 M, juz.2, halaman 53)

    Demikian penjelasan mengenai tanggapan atas syubuhat (propaganda) mengenai pelarangan puasa Rajab. Klaim bid’ah atau haram atas tradisi berpuasa Rajab tidak memiliki dasar yang kuat, bahkan menurut Syekh Ibnu Abdissalam sebagaimana dikutip Syekh Ibnu Hajar, pihak yang berfatwa demikian adalah orang bodoh. Ditegaskan dalam kitab al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra:

    وَاَلَّذِي يَنْهَى عن صَوْمِهِ جَاهِلٌ مَعْرُوفٌ بِالْجَهْلِ وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُقَلِّدَهُ في دِينِهِ

    “Orang yang melarang berpuasa Rajab adalah orang bodoh yang dikenal kebodohannya. Dan tidak halal bagi orang muslim untuk mengikutinya dalam urusan agama.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatâwâ al-Fiqhiyyah al-Kubrâ, Beirut, Dar al-Fikr, 1983 M, juz.2, halaman 53).

    Semoga penjelasan ini bermanfaat. Dan mari kita senantiasa berhati-hati untuk gegabah memvonis bid’ah atau haram, terlebih tradisi yang sudah diamini oleh banyak ulama secara turun temurun tanpa ada pengingkaran dari mereka. Wallahu a’lam. 

    Terimakasih atas kunjungannya, untuk dapatkan pemberitahuan langsung mengenai artikel terbaru di facebook silakan klik suka pada halaman kami HANAPI BANI

    atau gabung Group kami;

    Youtube ;(Klik DISINI)
    WA 1 ; (Klik DISINI)
    WA 2 ; (Klik DISINI)
    WA 3 ; (Klik DISINI)
    Telegram ; 
    (Klik DISINI)
    Bip ; 
    (Klik DISINI)

      و صلى على سيدنا محمد و على أله
       و صحبه أجمعين
      ثم السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

      Protected by Copyscape
      Read more ...

      Kumpulan Kisi-kisi UM Mapel PAI dan Bahasa Arab Jenjang MA Tahun 2021

       


      السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
      بسم الله و الحمد لله
      اللهم صلى على سيدنا محمد و على أله
       و صحبه أجمعين

      Salam Sahabat Hanapi Bani.

      Kisi-kisi soal Ujian Madrasah merupakan program dalam menyusun sebuah soal yang akan di ujikan pada peserta didik tingkat akhir di jenjang pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA)

      Penyusunan kisi-kisi soal Ujian Madrasah (UM) untuk jenjang pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) ini di susun oleh guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab dengan memperhatikan beberapa ketentuan dalam penyusunan kisi-kisi dan soal yang akan di gunakan dalam Ujian Madrasah nanti, seperti yang sudah di jelaskan dalam Surat Pengantar Kisi-kisi Ujian Madrasah Tahun 2021

      Tujuan penyusunan kisi-kisi soal Ujian Madrasah dalam menyusun sebuah soal ujian adalah untuk menentukan sebuah ruang lingkup materi yang akan dijadikan sebuah soal ujian serta sebagai sebuah petunjuk dalam penulisan soal-soal ujian madrasah

      Manfaat yang diperoleh dari penyusunan kisi-kisi ujian madrasah ini adalah dijadikan sebagai sebuah pedoman dalam menyusun dan menulis soal-soal ujian, selain itu dalam format yang ada dalam kisi-kisi tersebut memuat beberapa tabel yang berisi perincian materi dan nomor soal yang akan di gunakan dalam membuat soal-soal Ujian Madrasah.

      Kisi-kisi Soal Ujian Madrasah Mapel PAI dan Bahasa Arab MA

      Kisi-kisi soal Ujian Madrasah yang akan kami bagikan ini merupakan kisi-kisi soal Ujian Madrasah yang kami dapatkan resmi dari Kementerian Agama yang tertuang dalam Surat Pengantar Kisi-kisi Ujian Madrasah Tahun 2021 

      Kisi-kisi Ujian Madrasah yang sudah tersusun meliputi mata Pelajaran Al-Qur'an Hadis untuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) yang mengacu pada KMA 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab

      Untuk itu bagi rekan-rekan yang membutuhkan kisi-kisi soal Ujian Madrasah Mapel PAI dan Bahasa Arab Jenjang MA baik untuk sekedar referensi atau untuk keperluan ujian, silahkan anda mengunduhnya pada tautan yang sudah kami sediakan di bawah ini.

      Download Kisi-kisi UM Mapel PAI dan Bahasa Arab MI


      Untuk mengunduh kisi-kisi soal Ujian Madrasah mapel Mapel PAI dan Bahasa Arab jenjang MA silahkan Sobat klik tautan yang sudah kami persiapkan berikut ini;

      1. Al-Qur'an Hadits ; DOWNLOAD
      2. Fikih ; DOWNLOAD
      3. SKI ; DOWNLOAD
      4. Akidah Akhlak ; DOWNLOAD
      5. Bahasa Arab ; DOWNLOAD

      Baca Juga: POS Ujian Madrasah (UM) Tahun 2020-2021

      Terimakasih atas kunjungannya, untuk dapatkan pemberitahuan langsung mengenai artikel terbaru di facebook silakan klik suka pada halaman kami HANAPI BANI

      atau gabung Group kami;

      Youtube ;(Klik DISINI)
      WA 1 ; (Klik DISINI)
      WA 2 ; (Klik DISINI)
      WA 3 ; (Klik DISINI)
      Telegram ; 
      (Klik DISINI)
      Bip ; 
      (Klik DISINI)

        و صلى على سيدنا محمد و على أله
         و صحبه أجمعين
        ثم السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

        Protected by Copyscape
        Read more ...

        Unduh Kisi-kisi UM Bahasa Arab Jenjang MA Tahun 2021

         


        السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
        بسم الله و الحمد لله
        اللهم صلى على سيدنا محمد و على أله
         و صحبه أجمعين

        Salam Sahabat Hanapi Bani.

        Kisi-kisi soal Ujian Madrasah merupakan program dalam menyusun sebuah soal yang akan di ujikan pada peserta didik tingkat akhir di jenjang pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA)

        Penyusunan kisi-kisi soal Ujian Madrasah (UM) untuk jenjang pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) ini di susun oleh guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab dengan memperhatikan beberapa ketentuan dalam penyusunan kisi-kisi dan soal yang akan di gunakan dalam Ujian Madrasah nanti, seperti yang sudah di jelaskan dalam Surat Pengantar Kisi-kisi Ujian Madrasah Tahun 2021

        Tujuan penyusunan kisi-kisi soal Ujian Madrasah dalam menyusun sebuah soal ujian adalah untuk menentukan sebuah ruang lingkup materi yang akan dijadikan sebuah soal ujian serta sebagai sebuah petunjuk dalam penulisan soal-soal ujian madrasah

        Manfaat yang diperoleh dari penyusunan kisi-kisi ujian madrasah ini adalah dijadikan sebagai sebuah pedoman dalam menyusun dan menulis soal-soal ujian, selain itu dalam format yang ada dalam kisi-kisi tersebut memuat beberapa tabel yang berisi perincian materi dan nomor soal yang akan di gunakan dalam membuat soal-soal Ujian Madrasah.

        Kisi-kisi Soal Ujian Madrasah Bahasa Arab MA

        Kisi-kisi soal Ujian Madrasah yang akan kami bagikan ini merupakan kisi-kisi soal Ujian Madrasah yang kami dapatkan resmi dari Kementerian Agama yang tertuang dalam Surat Pengantar Kisi-kisi Ujian Madrasah Tahun 2021 

        Kisi-kisi Ujian Madrasah yang sudah tersusun meliputi mata Pelajaran Al-Qur'an Hadis untuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) yang mengacu pada KMA 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab

        Untuk itu bagi rekan-rekan yang membutuhkan kisi-kisi soal Ujian Madrasah Mapel Bahasa Arab Jenjang MA baik untuk sekedar referensi atau untuk keperluan ujian, silahkan anda mengunduhnya pada tautan yang sudah kami sediakan di bawah ini.

        Download Kisi-kisi UM Bahasa Arab MA


        Untuk mengunduh kisi-kisi soal Ujian Madrasah mapel Bahasa Arab jenjang MA silahkan Sobat klik tautan yang sudah kami persiapkan berikut ini;

        Baca Juga: POS Ujian Madrasah (UM) Tahun 2020-2021

        Terimakasih atas kunjungannya, untuk dapatkan pemberitahuan langsung mengenai artikel terbaru di facebook silakan klik suka pada halaman kami HANAPI BANI

        atau gabung Group kami;

        Youtube ;(Klik DISINI)
        WA 1 ; (Klik DISINI)
        WA 2 ; (Klik DISINI)
        WA 3 ; (Klik DISINI)
        Telegram ; 
        (Klik DISINI)
        Bip ; 
        (Klik DISINI)

          و صلى على سيدنا محمد و على أله
           و صحبه أجمعين
          ثم السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

          Protected by Copyscape
          Read more ...

          Translate

          Artikel Terbaru

          Solusi Bagi Madrasah yang Bermasalah pada Emis Rilis 2021

          السلام عليكم و رحمة الله و بركاته بسم الله و الحمد لله اللهم صلى على سيدنا محمد و على أله  و صحبه أجمعين Salam Sahabat  Hanapi Bani . Bagi S...

          Powered by BeGeEm - Designed Template By HANAPI