Breaking News

27 June 2017

Adab Bertamu untuk Silaturrahim

9

Kita kaum muslimin adalah kaum beradab, bukan kaum barbar, bukan masyarakat tak beraturan. Agama kita mengatur dengan cukup rinci tata-cara bertamu. Aturan itu di antaranya tercantum dalam Al-Quran sebagaimana terukir indah dalam firman-Nya:
وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا
Artinya: Bukanlah kebajikan itu mendatangi rumah dari arah belakang, tetapi kebajikan adalah orang bertakwa. Datangilah (masukilah) rumah dari pintu-pintunya.
Seorang muslim tidak boleh bersikap urakan, tidak sopan. Bila bertamu ke rumah orang, ia harus melewati pintu, bukan melompat dari jendela. Dia tidak boleh mengintai-intai ke dalam rumah. Dia juga tidak boleh nyelonong begitu saja, masuk ke dalam. Dia harus mengucap salam terlebih dulu, sebagaimana diperintahkan Allah dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya: Wahai orang-orang beriman, janganlah masuk ke rumah-rumah yang bukan rumah kalian sampai kalian meminta izin dan mengucap salam pada penghuninya. Itulah yang lebih baik bagi kalian supaya kalian menjadi ingat. (An-Nur: 27)
Ayat ini turun berkenaan dengan pertanyaan seorang wanita dari kaum Anshar kepada Nabi Muhammad SAW. Begini pertanyaannya, “Ya Rasulallah, saya berada dalam rumah dalam kondisi di mana saya tidak suka ada seorang pun melihatnya. Tidak bapak, tidak pula anak. Lalu masuklah ayah saya (ke dalam rumah), dan begitulah selalu keluarga saya masuk ke dalam rumah saya sementara saya dalam kondisi seperti itu. Wahai Rasul, apa yang harus saya perbuat?”
Dengan demikian, larangan untuk nyelonong langsung masuk ke dalam rumah tanpa minta izin dan mengucap salam terlebih dulu dalam ayat tersebut terkait dengan keadaan orang-orang yang berada di dalamnya, yakni untuk menghormati privasi mereka. Siapa tahu, ada di antara mereka yang sedang berpakaian minim atau sedang melakukan sesuatu yang mereka tidak mau dilihat orang lain.
Jadi, sekali lagi, sebelum masuk rumah, mintalah izin terlebih dulu. Ketuklah pintunya atau lakukan hal-hal lain untuk memberi tahu tentang kedatangan anda seperti memencet bel bila ada.
Suatu kali Abu Ayyub Al-Anshari RA bercerita. Dia dan sahabat-sahabat lain pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulallah, soal salam kami sudah tahu. Terus, apakah itu minta izin?”
Beliau menjawab, “Seorang lelaki berbicara dengan mengucap tasbih, takbir, tahmid (Alhamdulillah), berdehem atau memberi tahu penghuni rumah.”
Diceritakan, suatu kali Ali bin Ashim Al-Wasithi melancong ke Bashrah. Di sana dia mendatangi rumah Syu’bah RA. Dia mengetuk pintu rumahnya. Orang di dalam rumah itu bertanya, “Siapa?”
Ana (saya),” jawab Ali.
“Aku tidak punya kawan yang benama Ana,” terdengar suara dari dalam.
Lantas si empunya rumah keluar dan memberi nasihat melalui cerita. Dia menyitir cerita Jabir bin Abdullah RA ketika bertandang ke rumah Rasulullah SAW dan mengetuk pintu. Rasulullah SAW bertanya dari dalam, “Siapa?” Jabir menjawab, “Ana (saya).” Beliau bersabda, “Ana, ana,” seolah-olah beliau tidak menyukainya.
Alhasil, mengetuk pintu dibolehkan. Ketika penghuni rumah bertanya, jawablah dengan menyebut nama anda. Setelah itu, kalau penghuni rumah keluar atau membuka pintu, ucapkanlah salam.  Jadi salam dan minta izin untuk masuk adalah dua hal yang berbeda.
Boleh pula dipahami bahwa minta izin dan mengucapkan salam itu satu. Artinya, begitu anda sampai di depan pintu rumah, anda boleh langsung mengucap salam. Bila tidak ada respon dari dalam, ucapkan salam lagi. Kalau masih belum juga ada respon, ucapkan sekali lagi. Kalau tuan rumah tidak menjawab dan tidak pula membuka pintu, pulanglah. Begitulah tuntunan Al-Quran dalam firman-Nya:
فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلَا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
Artinya:  Jika kalian tidak menemukan seorang pun didalamnya, janganlah kalian memasukinya sebelum kalian diberi iizin. Bila dikatakan pada kalian Pulanglah, maka pulanglah, karena itu lebih membersihkan (hati) kalian. Allah mengetahui apa yang kalian perbuat. (An-Nur: 28)
Tiga kali adalah batas maksimal mengucap salam.  Dalam hadits yang cukup panjang disebutkan bahwa Umar RA mencela Ubay bin Ka’ab RA. “Mengapa kamu tidak datang ke rumah kami?” katanya.
Ubay menjawab, “Aku sudah datang ke rumahmu, lalu aku mengucap salam. Hingga tiga kali mengucap salam, tidak pula aku disahuti, maka aku pulang karena Rasulullah SAW telah bersabda, Jika seorang dari kalian telah meminta izin (masuk), tapi tidak juga diizini, maka hendaklah dia pulang.
Mengapa dibatasi tiga kali? Tiga kali itu sudah cukup banyak. Kalau anda sudah mengucap salam tiga kali dan tidak ada jawaban, berarti penghuni rumah sedang tidak berada di rumah atau tidak berkenan menerima kedatangan anda…..(*)
Comments
0 Comments

No comments:

Translate

Artikel Terbaru

Menteri Agama Terkonfirmasi Positif Covid-19, Kondisinya Baik

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته بسم الله و الحمد لله اللهم صلى على سيدنا محمد و على أله و صحبه أجمعين Menteri Agama Fachrul Razi terkonfir...

Powered by BeGeEm - Designed Template By HANAPI