Breaking News

Monday, July 24, 2017

"Palestina", Salah Satu Negeri Paling Populer di Kolong Langit.

Hasil gambar untuk Palestina masjidil aqsa

Palestina adalah salah satu negeri yang paling populer di kolong langit. Betapa tidak, sejak zaman dahulu Palestina senantiasa diperebutkan banyak bangsa karena letaknya yang strategis. Negara ini dijadikan tempat suci oleh tiga agama terbesar di dunia yakni Islam, Kristen dan Yahudi.
Bagi umat Islam, Palestina memiliki arti penting sebab di sanalah Masjid al-Aqsha yang menjadi kiblat pertama umat Islam berdiri kokoh. Shalat di tempat suci ini setara dengan 500 kali pahala shalat di masjid lain, sehingga umat Islam merasa perlu untuk berkunjung ke masjid al-Aqsha. Bagi umat Kristiani, Kota Yerusalem dianggap ‘suci’ dan penting karena disanalah Yesus wafat dan dibangkitkan kembali. Sementara bagi umat Yahudi, Palestina adalah negeri yang dijanjikan Tuhan. Adanya kerajaan Yahudi yang didirikan oleh Raja Daud di masa lampau dan Kuil Sulaiman (Solomon Temple) yang dahulunya merupakan kuil termegah Yahudi, menjadi bukti bahwa Palestina adalah tanah air bangsa Israel. Memang, pada akhir-akhir ini orang-orang Yahudi Israel sangat getol mengklaim bahwa Palestina adalah hak milik mereka.
Klaim bangsa Israel ini dinilai berlebihan oleh para sejarawan. Secara historis, jauh sebelum bangsa Israel ada, Palestina yang dahulu dikenal dengan nama Kanaan sudah dihuni bangsa-bangsa kuno. Mereka mempunyai kebudayaan yang cukup maju. Penggalian arkeologis di beberapa Kota seperti Megiddo, Hazor, dan Sikhem, menghasilkan situs-situs, perabotan, keramik, dan permata. Benda-benda itu diperkirakan dibuat sebelum abad ke-17 SM.
Prof. Dr. Umar Anggara Jenie, kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menyatakan bahwa Kota Yerusalem merupakan bukti yang paling otentik akan keberadaan pemukiman-pemukiman bangsa Arab semistis purba di Palestina yang telah berada di sana jauh sebelum bangsa-bangsa lainnya datang. Kota ini didirikan oleh suku-suku Jebus, yaitu cabang dari bangsa Kanaan yang hidup sekitar 5000 tahun lalu.
Yang pertama mendirikan kota Yerusalem adalah seorang raja bangsa Jebus-Kanaan. Bangsa Kanaan kemudian membangun kota-kota, istana dan tempat-tempat peribadatan yang dihiasi dengan berhala-berhala yang megah. Mereka adalah penyembah dewa-dewa, terutama Dewa Badai yang mereka yakini sebagai pencipta manusia. Rumah-rumah bangsa ini dibangun dengan gaya arsitektur yang unik.
Belakangan negeri Palestina menjadi tempat diturunkannya sebagian nabi Allah SWT, salah satunya adalah Nabi Ibrahim AS. Risalah Nabi Ibrahim AS (1997-1822 SM) di Kanaan bertujuan menyebarkan paham tauhid dan mengikis praktik-praktik pemujaan terhadap dewa-dewa. Dalam buku Sejarah Nabi-nabi Allah, Ahmad Bahjat mengungkapkan bahwa saat itu Ibrahim AS menghadapi tiga kelompok penganut agama. Kelompok pertama menyembah patung-patung yang terbuat dari kayu dan batu. Kelompok kedua menyembah benda-benda langit. Dan kelompok ketiga menyembah raja-raja atau penguasa.
Dakwah Nabi Ibrahim AS kemudian disebarkan oleh putra-putranya, Nabi Ismail AS (1911-1774 SM) dan Nabi Ishak AS (1897-1717 SM), yang kelak melahirkan agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Putra Nabi Ishak, yaitu Nabi Ya’qub (1837-1690 SM) bergelar Israel, yang dalam bahasa Ibrani berarti Ruh Allah. Dialah yang menjadi nenek moyang Bani Israel.
Nabi Ya’qub AS dan putra-putranya hidup di Kanaan sebelum datangnya masa paceklik. Sejarah mencatat bahwa Nabi Ya’qub AS memiliki 12 putra yang menjadi embrio suku-suku Bani Israel di seluruh dunia. Sekitar tahun 1750 SM, ketika Kanaan dilanda paceklik, Nabi Ya’qub AS membawa 12 putranya berhijrah ke Mesir. Pada saat itu Nabi Yusuf AS sedang berkuasa sehingga mereka hidup makmur di Mesir dan terbentuklah Bani Israel di negeri itu.
Sewaktu Fir’aun berkuasa, kaum Bani Israel tertindas. Tak sedikit di antara mereka yang dijadikan budak. Pada sekitar tahun 1250 SM, mereka dibawa keluar dari Mesir oleh Nabi Musa AS menuju ke Palestina. Dalam pandangan mereka, Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan. Di negeri ini Nabi Musa AS menerima wahyu-wahyu Allah SWT yang terhimpun dalam kitab Taurat dan dijadikan sebagai pedoman umatnya.
Sekitar abad ke-13 atau ke-14 SM. suku-suku Ibrani di bawah pimpinan Yusak berhasil menguasai beberapa bagian kawasan Palestina. Ketika itu suku-suku Kanaan yang berasal dari Semenanjung Arabia telah menghuni kawasan tersebut. Bangsa Yahudi mencapai kejayaannya di masa Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS.
Ensiklopedi Islam mencatat bahwa Nabi Daud menduduki takhta kerajaan Israel selama 40 tahun. Selama masa itu, ia berhasil meraih kesuksesan besar. Ibu kota negaranya, Yerusalem, tidak lagi menjadi kota di negeri kecil semacam Kanaan, tetapi  menjadi ibu kota sebuah imperium yang sangat besar.
Ketika kerajaan Israel diperintah oleh Nabi Sulaiman pada tahun 970 SM, luas Yerusalem menjadi dua kali lipat. Nabi Sulaiman AS adalah salah seorang putra Nabi Daud. Sejak ayahnya memerintah, ia telah dipersiapkan menjadi putra mahkota dan dilatih untuk menangani berbagai persoalan pemerintahan. Nabi Daud AS memilih Nabi Sulaiman AS, karena ia anak yang paling cerdas.
Yerusalem menjadi sebuah kota kosmopolitan dan merupakan kota tempat berlangsungnya program pembangunan yang prestisius di masa Nabi Sulaiman. Kenyataan ini yang membuat Ratu Bilqis dan pasukannya menyerah kepada kekuasaan Nabi Sulaiman. Ratu Bilqis mengakui bahwa kerajaannya tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kerajaan Sulaiman AS.
Nabi Sulaiman AS meninggal dunia pada tahun 930 SM setelah memerintah selama 40 tahun. Sebelum wafat, Nabi Sulaiman AS mengkhawatirkan kerajaan Israel akan terpecah menjadi dua. Kekhawatiran ini menjadi nyata tidak lama setelah ia wafat. Yahudi memang terpecah ke dalam dua pemerintahan: Israil dan Yahuza.
Inilah titik awal melemahnya kekuasaan Bani Israel di Palestina. Pada tahun 586 SM, tentara Babilonia mengepung Yerusalem selama 18 bulan, sampai tembok pertahanan kota itu berhasil diterobos. Raja dan keluarganya dibunuh, dan komandan Babilonia menghancurkan Kota Yerusalem, membakar Kuil Sulaiman dan istana raja. Semua orang Israel diusir dari negeri itu. Yang tersisa hanya buruh, orang-orang desa, dan tukang bajak sawah. Namun demikian, mereka yang hidup di pengasingan selalu merindukan Kota Yerusalem. Para rabi (tokoh agama Israel) pun menciptakan mitos-mitos untuk mengidam-idamkan suatu kepulangan ke tempat mereka seharusnya tinggal. Bani Israel selanjutnya menyebar ke Maroko, Spanyol, Rusia dan Polandia.
Selanjutnya Palestina berturut-turut mendapat serangan dari Persia (Iran), Macedonia, Assyria (kota kuno di sekitar Mesopotamia, sekarang Irak) dan Babylonia (bagian selatan Mesopotamia). Pada tahun 64 SM, pemerintahan Romawi menguasai Yerusalem (al-Quds) kemudian melebarkan sayapnya ke seluruh kawasan Palestina yang ketika itu dihuni oleh bangsa-bangsa Yahudi, Adomia, Etoria, Ammania, dan Arab.
Sejahtera
Kontak awal Palestina dengan Islam terjadi ketika Baginda Nabi Muhammad SAW menempuh perjalanan Isra Mikraj dari Mekkah ke Yerusalem di waktu malam. Perjalanan ini termaktub dalam ayat suci Al-Quran,
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS Al-Israa 17;1)
Yang dimaksud Masjid Al-Aqsha pada ayat ini bukanlah bentuk fisik masjid yang sekarang, karena fisik masjid baru dibangun oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 705 H. Masjid yang dimaksud adalah sebuah haekal (tempat mulia) yang dibuat pada masa Nabi Sulaiman, yang di tengahnya terdapat sebongkah batu besar berwarna hitam yang disebut sakhra.
Palestina masuk ke dalam wilayah Islam pada masa Abubakar As-Shiddiq. Masuknya Palestina yang waktu itu penduduknya beragama Kristen tergolong sangat mudah. Hal ini lantaran Islam membawa prinsip toleransi dengan mengajak warga Yerusalem menandatangani perjanjian damai. Prinsip inilah yang membuat sebagian besar warga Palestina memutuskan masuk Islam. Mereka menikmati keamanan dan kesejahteraan bersama Islam. Bahkan di era Bani Umayah dan Abbasiyah mereka mendapat tempat di pemerintahan. Sebelum Islam masuk, mereka senantiasa dizalimi penguasa Bizantium Kristen.
Ketika dunia Islam mulai terpecah, Palestina menjadi rebutan dalam arena Perang Salib. Pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II menyerukan umat Kristen Eropa untuk merebut Yerusalem sehingga meletuslah Perang Salib I pada tahun 1096 dan 1144. Perang Salib II meletus pada tahun 1144 dan 1192, dan Perang Salib III berlangsung antara tahun 1193 dan 1291. Dalam perang ini, umat Kristen tak pernah sekali pun berhasil merebut Palestina dari tangan Islam.
Beberapa abad kemudian, akibat kegoncangan dan melemahnya kesultanan Turki Utsmani, Inggris berhasil menduduki Palestina. Pendudukan ini berlangsung pada tahun 1918 M. Mulai dari sinilah bangsa Israel yang sempat terusir dari tanah Palestina mendapat kesempatan untuk kembali ke Tanah Palestina. Mereka mendapat restu dan perlindungan sepenuhnya dari Inggris.
Penggagas gerakan Israel kembali ke Palestina adalah Theodore Herzl. Tak ayal lelaki ini pun ditahbiskan sebagai Bapak Zionis Yahudi. Herzl adalah seorang doktor hukum yang lancar berbahasa Jerman dan Prancis. Ia dikenal sekuler tulen, intelektual dan kosmopolitan. Ketika pada tahun 1894-1895 terjadi gelombang anti Yahudi di Eropa akibat pengkhianatan seorang kapten Yahudi-Prancis yang menjual ribuan rahasia Prancis pada Jerman, Herzl mengeluarkan gagasan negara Yahudi. Pada tahun 1896 ia menulis artikel tentang Der Judenstaat (Negara Yahudi) di bawah subtitel : An Attempt at a Modern Solution of the Jewish Question.
Bagi bangsa Israel, Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan (The Promised Land) kepada mereka. Tidak ada bangsa lain yang berhak menduduki Palestina kecuali umat pilihan Tuhan. Israel mengklaim diri sebagai umat pilihan Tuhan. Tidak perduli, apakah sebelum dan sesudah mereka hidup bangsa-bangsa lain di sana. Atas nama Tuhan, tanah Palestina adalah mutlak milik mereka.
Tatkala Nazi berjaya di Eropa, gelombang kedatangan Yahudi ke Palestina kian besar dan dukungan terhadap dibentuknya negara Israel semakin kuat. Pada 29 November 1947, Komisi Istimewa PBB untuk Palestina membagi wilayah Palestina menjadi negara Arab dan negara Yahudi, sementara Yerusalem berada di bawah pengawasan PBB. Keputusan ini disambut baik kaum Yahudi, akan tetapi ditolak oleh bangsa Arab. Puncaknya, pada bulan Mei 1948 orang-orang Yahudi memproklamasikan negara Israel dengan Yerusalem sebagai ibu kota.
Sejak saat itu sampai sekarang, Palestina senantiasa bergolak. Bangsa Israel merasa diri mereka sebagai makhluk pilihan Tuhan untuk menempati tanah Palestina. Oleh karena itu, tak mengherankan apabila mereka menghalalkan segala cara untuk mengusir umat Islam dari tanah ini. Dengan seenaknya mereka membantai warga Palestina tanpa memperdulikan korbannya adalah anak-anak dan kaum wanita yang lemah. Dunia hanya bisa menyaksikan dan prihatin, sebab saat ini kaum Yahudi memang sedang mencengkeram dunia dengan hegemoni mereka.
Comments
0 Comments

No comments:

Powered by BeGeEm - Designed Template By HANAPI