Breaking News

05 February 2020

PERNIKAHAN SATU MALAM



Oleh. Dinda Pramesti

Kehidupan di desa memang lebih asri dan sejuk.
Tapi di saat seorang gadis sudah beranjak dewasa, dan belum menikah, jelas akan jadi guncingan para tetangga.

Padahal kan kita tau bahwa jodoh itu rahasia Tuhan.
Entahlah, sudah menjadi tradisi, meskipun usia belum genap 20 tahun kalau dia tidak mondok atupun tidak sekolah pastilah di suruh cepet-cepet menikah. Takut jadi perawan tua, katanya sih begitu.



Ayah memberi ku nama Vivi, setelah tamat Aliyah (SMA)  tidak melanjutkan sekolah.
Karena kasihan ibuku, harus banting tulang sendirian, untuk membiayai adik-adiku.

Ketika aku masuk Tsanawiyah, kontrak ayahku di dunia telah berakhir.

Sebenarnya pingin menimba ilmu di pesantren, tapi hanya bertahan dua tahun saja.

Dan akhirnya membantu ibu ngurus adik-adik, kadang juga ikut ke sawah, memetik sayuran yang paginya di jual ke pasar.

Begitulah kehidupan kami sehari-hari. Sederhana tapi membahagiakan berkumpul dengan keluarga.

Kegiatanku kalau pagi sampai siang menjelang dzuhur kerja jahit di konveksi sebelah rumah.

Kalau sore mengajar ngaji TPA di masjid kampung ku.

Niat dari awal adalah berjuang, tapi ternyata juga dapat uang saku dari pak kyai pemilik masjid.

Gunjingan tentang diriku yang belum menikah selalu ku dengar tiap hari.

Kadang sampai merasa kasihan sama ibuk dengan gunjingan itu.

Anak seorang janda, perawan sudah gede belum juga menikah. Itulah kata-kata yang sering ku dengar.



Pada suatu sore, om ku datang ke rumah bersama laki-laki lumayan tua.

Ternyata mereka mau menjodohkanku dengan laki-laki yang tak ku kenal.

Dua hari kemudian laki-laki yang akan di jodohkan denganku datang ke rumah untuk ta'aruf.

Ku akui dia lelaki yang tampan, tinggi berkulit putih. Tapi namanya juga belum kenal jadi ya begitu. Anehnya itu, aku merasakan sesuatu yang tidak beres.

Entah ada apa, dan menyembunyikan apa.
Aku tidak tau.

Setelah berunding, para orang tua setuju dengan perjodohan ini, tanpa minta persetujuanku. Dan akupun juga tidak bisa menolak. Terpaksa aku menerima perjodohan ini.

Semua keluarga dari pihak ibu dan ayahku mendukung, juga menyumbang kebutuhan untuk acara pernikahanku.

Tidak ada dekorasi mewah, hanya ijab qobul saja, itupun di mushola peninggalan orang tua ayahku.

Saat acara ijab qobul, aku duduk di rumah dengan bercucuran air mata.
Aku menyesali mengapa pernikahan ini harus terjadi.

Ya Allah, apa dia benar-benar jodoh pilihan-Mu.
Tapi kenapa perasaanku tidak enak begini.

"Kasihan mbak Vivi, harus menerima perjodohan." bisik-bisik berasal dari tamu.

Itulah tetangga, di saat aku menunda menikah, di gunjingkan.
Tapi ketika aku menikah, menerima perjodohan orang tua juga masih di gunjingkan.

Intinya aku selalu salah di mata mereka.
Panggah penak sing maido.

Acara ijab qobul telah usai, dan akupun sudah menanda tangani, entah apa yang aku tanda tangani, karena aku tak membacanya terlebih dahulu.

Semua tamu juga pulang, hanya tinggal keluarga dekat saja.

Nama suamiku adalah Abdul Rohman, tanggal dan tahun kelahiran kami sama persis, mungkin cuma beda jam.

Mungkin ini tandanya aku memang berjodoh dengan dia.
Berusaha menerima taqdir dengan ikhlas, meskipun belum bisa sepenuhnya.

Kami berdua berada di dalam kamar. Masih pakai baju yang di gunakan waktu ijab qobul.

"Ini dek Vivi." Dia menyerahkan karsus kecil berisi amplop yang di dapat dari teman-temanya.

"Ini apa? kenapa di kasihkan ke aku?" tanyaku penasaran.

"Ini uang dek, di kasih teman-teman tadi, itu hak adek." jawab dia.

"Maaf, saya mau ganti baju dulu." sambil membawa baju ganti aku keluar kamar, tanpa menunggu persetujuannya.

Aku ganti baju hanya sebentar, cuma satu jam saja.
Setelah aku kembali ke kamar, dia belum ganti baju, malah tiduran di atas ranjangku.

"Kenapa adek ganti bajunya tidak di sini saja?" tanyanya tiba-tiba.

"Malu." jawabku singkat.

"Kita kan sudah halal, kenapa malu." lanjutnya.

"Iya." lirih ku mengucapnya.

Tanpa ada perbincangan, aku langsung tidur karena lagi dapat tamu bulanan, jadi absen sholatnya.



Kami tidur dengan pembatas guling.
Sebelum sampai terlelap, tiba-tiba bude yang rumahnya sebelah memanggil namaku, katanya ada telephone dari seorang wanita mencari suamiku.

Yang jadi tanda tanya besar, dari mana wanita itu tau nomernya budeku?

Ada sedikit yang mengganjal, kenapa gak telephone ke hape nya suami langsung, malah telephone ke hapenya bude ngrepotin saja.

Bude menyerahkan hapenya, dan hapenya langsung bunyi pertanda ada panggilan masuk.

Telephone aku angkat, sambil aku kebingungan, menoleh ke bude dan menoleh ke suami.

"Assalamu 'alaikum." ucapku dengan yang di seberang sana.

Tak ada jawaban, hanya terdengar isak tangis seorang wanita.

Apa maksud nya ini? tanyaku dalam hati.

"Assalamu 'alaikum, ada yang bisa saya bantu?"  sambung ku lagi.

"Wa 'alaikum salam mbak, maaf sebelumnya, bukan bermaksud mengganggu kebahagiaan kalian." jawabnya di sela tangis wanita itu.

"Iya ada apa?" tanya ku lagi.

"Aku dea mbak, hamil tiga bulan mbak." terang wanita itu yang sangat membuat ku kaget.

Pyaaaaar....
Kepalaku rasanya seperti kesetrum.

"Ini anak mas Abdul mbak, aku ingin janin ini di akui sebagai anaknya." ucap wanita itu.

Luluh lantah, hancur berkeping-keping rasanya tubuh ini.
Sampai air mata ini tak mampu untuk keluar.

Ya Allah, kuatkan hati hamba, berilah kesabaran lebih atas segala apa yang menimpa diri ini.

Semua atas kehendak dan atas izin-Mu.

"Apa maksud dea tadi mas?" tanyaku pada suami.

"Apa benar semua yang di ucapkan Dea tadi mas?" sambungku.

Suamiku tidak menjawab sepatah katapun, diam sejuta bahasa.

Tiba-tiba dia mengambil hape, mungkin mau menelephone seseorang.

Benar apa dugaanku, mas Abdul sedang bicara dengan kakak kandungnya.

Mas Abdul menyuruh kakak nya untuk menjemput.

Kurang lebih 1 jam 30 menit, keluarga mas Abdul datang satu mobil.

Berita suamiku telah menghamili seorang wanita sebelum menikahi aku tersebar luas.

Gunjingan makin pedas yang aku terima. Pahit, pahit sekali.

Para keluarga berkumpul sampai menjelang pagi.
Om ku menjemput lelaki yang mengenalkan mas Abdul keluarga kami.

Dia terlihat sangat takut, mungkin karena malu dan entah apa.

Waktu menjodohkan dulu, lelaki itu bilang bahwa mas Abdul itu laki-laki baik, keturunan kyai, dan bla bla bla, pkoknya todak ada cacatnya.

Tapi pada kenyataanya mas Abdul telah menghamili seorang wanita. Sadis dan kejam.

Lelaki yang bersama omku bilang, kalau begini pernikahan tidak bisa di lanjutkan.

Aku hanya pasrah dengan keadaan. Bagai di tampar sampai kliyengan.

Keluarga mas Abdul memohon kepada ibuku, untuk mengizinkan aku di bawa ke rumah mas Abdul hanya untuk di kasih lihat orang tua mas Abdul.

Setelah mertuaku melihat menantunya, aku di izinkan pulang.

Alasan mereka , kalau mendengar pernikahan anak nya gagal, takut struknya kambuh.

Ibuku buru-buru ke belakang menemui aku.
Beliau bilang, terserah apa  alasan mu untuk menolak ajakann mereka, aku tidak ikhlas kamu di bawa ke rumah Abdul.

Dan akhirnya aku menjadi janda kembang.

Comments
0 Comments

No comments:

Translate

Artikel Terbaru

Belajar dari Rumah, Guru Asah Kreativitas Siswa Kelas 1 MIN 9 HSU

Amuntai (MIN 9 HSU) - Belajar dari Rumah bukan berarti siswa dituntut untuk terus menerus tugas. Sebagai seorang pendidik, di masa belajar d...

Powered by BeGeEm - Designed Template By HANAPI