Breaking News

29 July 2020

Begini Asal-Usul Nama Hari Arafah

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
بسم الله و الحمد لله
اللهم صلى على سيدنا محمد و على أله و صحبه أجمعين

Kata Arafah kini sudah menjadi nama hari dan nama tempat. Namun asal muasal penamaannya Arafah ini lebih dari hanya sebuah kisah. Ada yang mengatakan bahwa ketika Adam dan Hawa AS diturunkan dari surga, keduanya berpisah tempat.

Ini berdasarkan firman Allah SWT,  "Turunlah kamu berdua dari surga bersama - sama. sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (QS. Thaha 123).

Prof Dr M Mutawalli Asy Sya'rawi dalam Al Hajjul Mabrur mengatakan, Adam dan Hawa diturunkan berpisah tempat. Masing - masing mencari teman hidupnya sehingga mereka berjumpa kembali di suatu tempat bernama Arafah atau Arafa. Kisah mengenai Adam dan Hawa serta perjumpaan mereka di Arafah membutuhkan penjelasan.

"Kita membayangkan keadaan Adam dan Hawa yang semula hidup berkasih - kasihan di surga. Semua kebutuhan mereka tersedia secukupnya yang didapat langsung dari Allah SWT. Tapi kini di dunia mereka harus menerima hidup terpisah. Masing - masing mencari kebutuhannya sendiri untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya," jelasnya.

Mereka melihat ke depan, ke belakang, ke kanan dan ke kiri. Namun tidak ditemukan seorang pun jua. Kalau sekiranya mereka bertemu dengan seorang manusia lain, tentu mereka akan senang sekali. Apalagi kalau berjumpa dengan teman hidupnya sendiri yang selama ini selalu hidup bersama dengan penuh bahagia di surga.

Mereka berkeliling kesana - kemari mencari teman hidupnya dengan penuh rasa rindu, mengenangkan masa - masa lalu yang indah. Akhirnya, mereka berdua berjumpa di Padang Arafah, dan sejak itulah keduanya tidak pernah berpisah lagi, kecuali oleh maut.

Ada kisah lain yang mengatakan bahwa para malaikat mengingatkan Adam dan Hawa, setelah keduanya diturunkan ke bumi, yakni di Arafah. Ini dimaksudkan agar mereka mengakui dosa - dosanya dan memohon ampunan kepada Allah.

Adam dan Hawa mematuhi nasihat malaikat, seperti yang dipaparkan Alquranul Karim tentang doa, pengakuan dosa dan permohonan ampun mereka: "Keduanya berkata, "Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang - orang yang merugi." (QS. Al A'raf 23).

Kemudian dikatakan bahwa Adam dan Hawa telah mengetahui (Arafa) dosanya. Mereka juga mengetahui (Arafa) caranya bertaubat. 

Kisaih Ibrahim AS

Marilah pula kita simak kisah Ibrahim AS, bagaimana Allah memberitahukan kepadanya (arrafahu) tempat Arafah itu. Pada suatu petang ketika tengah tidur, Ibrahim melihat dalam mimpinya ia sedang menyembelih putranya, Ismail. Sungguh ini merupakan masalah yang amat besar, yang sulit dibayangkan dampaknya bagi jiwa sang bapak terhadap anaknya. Apalagi Ismail adalah anaknya yang cuma semata wayang.

Sungguh perkara yang amat sulit dan berat bila dia harus menyembelih anak satu - satunya itu dengan kedua tangannya sendiri. Karena itulah setelah bermimpi, Ibrahim duduk merenungi pikirannya dengan cermat.

Karena itu Hari Arafah dinamakan pula hari tarwiyah (renungan). Setelah ia yakin bahwa mimpinya benar dan ia harus menyembelih putranya, maka ia menamakan tempat mengetahui hakikat mimpinya itu dengan Arafah.

Ada pula kisah yang mengatakan bahwa Ibrahim AS diberitahu Jibril cara menunaikan manasik haji di tempat ini. Jibril bertanya, "Hal Arafta (tahukah kau)?"

Ibrahim menjawab, "Araftu (aku mengetahuinya)." Dengan demikian, bisa jadi ini berarti bahwa di tempat itu manusia mengenali Rabbnya, dan manusia datang ke tempat itu untuk mengakui dosanya serta untuk memohon ampunan Rabbnya dengan penuh kerendahan.

Walhasil, apa pun asal-muasal penamaan tempat itu Arafah dan kegiatan ibadah pada hari itu dengan Hari Arafah atau Hari Tarwiyah, tapi yang tidak diragukan hari itu merupakan hari yang mulia, yang dibanggakan Allah SWT kepada para hamba-Nya.

Ini dijelaskan Allah dalam firman Nya,  "Lihatlah kepada hamba - hamba Ku itu. Mereka telah meninggalkan semua yang dimilikinya dan mendatangi Ku dengan kusut dan berdebu, memohon ampunan dan rahmat Ku. Aku bersaksi dengan kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka".

Semua Sama dan Tanpa Sekat

Di Arafah kita melihat persamaan yang merata dan keberadaan yang utuh bagi para jamaah haji yang datang ke Baitullah Al Haram. Tidak seorang pun yang tersisa. Dalam waktu yang sama, mereka mengakhiri wukuf bersamaan dengan terbenamnya matahari di Hari Arafah. Tempat ini merupakan satu - satunya tempat berkumpul manusia dalam keadaan seperti itu dan dalam waktu seperti itu pula.

Kita memasuki Kota Makkah dalam rombongan dan waktu yang berbeda, sesuai dengan kesepakatan rombongan masing - masing. Ada yang masuk dua pekan sebelum haji, ada pula rombongan yang datang satu hari sebelum haji.

Pada waktu pulang pun masing - masing rombongan menetapkan waktunya sendiri, sesuai dengan kesepakatan rombongan. Yang tinggal di Makkah pun berbeda - beda juga sesuai dengan kemampuannya. 

Ada yang tinggal di hotel mewah, dan ada pula yang tinggal di gubuk yang murah. Bahkan ada juga yang tidur beralas pasir, sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing - masing.

Namun di Arafah, keadaan tidak demikian. Semua jenis bangsa, warna kulit dan bahasa, berbagai pangkat dan jabatan harus memperlihatkan kebersamaan yang utuh. Semua berkumpul dalam sebuah padang dan pada waktu yang sama.

Pakaian pun sama dan seragam, tidak ada bedanya antara yang kaya dan yang miskin, yang pangkatnya tinggi dan yang rendah, yang bangsawan dan rakyat biasa. Tidak ada rasa sombong dan angkuh. Semua merendahkan diri mengharap ampunan dari sang Pencipta yang Maha Agung, Allah SWT.

Di Arafah anda tidak akan menemukan orang yang berkata, "Saya si Fulan" dengan nada membanggakan diri dengan kekayaan dan pangkatnya. Semua merendahkan diri di hadapan yang Maha Tinggi.

Semua menunjukkan rasa rendah hati dan rasa takut kepada Allah. Seolah-olah kebaikan itu tidak akan meliputi semua orang, kecuali bila semua bersikap tunduk dan patuh kepada Nya. Juga tidak ada yang mencoba memisahkan diri dan menganggap diri lebih baik dari orang lain.

Pada hari ini, ketika semua orang menyingkirkan semua rasa sombong dan angkuhnya, sifat jahat dan dengkinya, Allah SWT segera menggulirkan maghfirah dan rahmat Nya. Karena memang yang memisahkan kita dari maghfirah dan rahmat Allah adalah kesombongan dan kezaliman kita.

Pada hari ini, kita menyadari bahwa apa yang kita bangga-banggakan selama ini bukan dari kita tetapi semua kepunyaan Allah SWT. Maka tergugahlah hati semua orang untuk mengabdikan diri kepada Dzat yang mencipta dan memiliki semua. Pada hari yang sama sang Pencipta berfirman, "Mereka para jamaah itu layak mendapatkan maghfirah dan rahmat Ku."

Sesungguhnya sikap keras kepala, sombong, ingin menonjolkan diri dan kelebihan pribadi terhadap saudara sesama kita, menjadi penyebab yang menyingkirkan maghfirah dan rahmat Allah.

Sebagai contoh, kami bawakan suatu peristiwa di jaman Rasulullah SAW. Pada suatu hari Rasulullah SAW keluar hendak memberitahukan kepada para sahabatnya tentang datangnya Lailatul Qadar.

Dalam perjalanannya, Rasulullah menemukan dua orang sahabatnya sedang bertengkar memperdebatkan sesuatu masalah sehingga Rasulullah lupa menyampaikan maksudnya itu.

Gara-gara peristiwa itu para sahabat dirugikan karena Lailatul Qadar berlalu tanpa setahu mereka. Jadi, pertengkaran dan permusuhan mencegah siraman kebaikan dalam masyarakat.

Sedangkan kerukunan serta persatuan yang merindukan limpahan karunia Allah SWT yang dilakukan dengan keikhlasan dan ketulusan hati akan mampu mengundang rahmat dan menerima limpahan karunia Rabb Nya.

Banyak Doa Dipanjatkan

Pada Hari Arafah banyak doa dipanjatkan. Setiap orang menengadahkan wajah ke langit dan mengangkat kedua tangannya ke atas dengan penuh khusyuk dan ikhlas.

Mereka tidak perduli dengan udara hari itu sedang membakar dengan teriknya, atau sedang membekukan dinginnya. Semua berdiri khusyuk. Semua pasrah menyerah dan merendah kepada Allah Rabbul Alamin.

Di Padang Arafah, Allah SWT menurunkan rahmat Nya kepada jamaah Arafah. Allah juga melimpahkan maghfirah Nya kepada mereka yang dengan ikhlas dan sesuai dengan bimbingan rasul Nya memohon ampunan.

Kalau anda sudah bertekad wukuf di Arafah untuk itu semua dan selama Allah sudah berkenan melimpahkan berbagai maghfirah dan rahmat Nya, maka selayaknyalah sepulang dari Arafah anda tidak berkata - kata dan berbuat sesuatu yang bisa mendatangkan murka Allah.

Manfaatkanlah kesempatan menunaikan ibadah haji karena ia berdaya guna untuk membersihkan diri dari dosa - dosa, janganlah anda tergelincir oleh bisikan setan sedikit pun. Rahmat Nya sudah memenangkan anda atas tipu daya setan. Meskipun adakalanya ia berhasil menggelincirkan anda, yakni pada saat anda lemah.

Sadarilah selalu bahwa setan tidak akan membiarkan anda sekejap pun. Setiap kali iman anda meningkat, maka setiap itu pula kegiatan setan menggoda dan menjerumuskan semakin meningkat. Mereka terus berusaha supaya anda terpedaya dan melakukan maksiat kepada Allah.

Anak cucu iblis terdiri dari setan - setan dari bangsa jin dan manusia. Mereka menggelincirkan orang dengan berbagai dosa yang lebih rendah dari keimanan. Mereka membisiki manusia agar melakukan dosa - dosa lain dengan janji kenikmatan dan kejayaan yang hampa, misalnya dalam berbuat zina, korupsi, minuman keras, judi, makan riba, dan sebagainya.

Itulah tugas tetap anak cucu iblis setiap hari. Sedangkan iblis sendiri menggerogoti keimanan kaum mukmin pada puncak akidahnya kepada Allah SWT. Ia berusaha menimbulkan keraguan anda pada keberadaan Allah, pada wahdaniyah dan kemahakuasaan Nya, kepada kebenaran Alquranul Karim, dan pada kebenaran risalah yang dibawa Muhammad SAW.

Ia senantiasa menimbulkan waswas dan ragu -ragu dalam hati dan pikiran manusia, sampai manusia merasa ragu - ragu menyandang imannya dan rela tidak beriman. Bahkan, tidak keberatan menjadi kafir.Naudzu billah min dzalik!.

5 Amalan Hari Arafah 9 Dzulhijjah dari Rasulullah SAW

Setidaknya ada lima amalan hari Arafah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Amalan-amalan ini bisa dilacak melalui beberapa hadis yang diriwayatkan dari sahabat hingga para ulama mukharrij hadis.

  1. Memperbanyak doa
  2. Berpuasa hari Arafah
  3. Bersedekah
  4. Memperbanyak berbuat baik
  5. Bertakbir hingga hari tasyriq

Pertama, memperbanyak doa.

Ali bin Abi Thalib, sahabat Rasulullah SAW sekaligus menantunya pernah bercerita bahwa sang nabi pernah bersamanya pada sore hari Arafah seraya mengucapkan sebuah doa. Doa ini bisa dilacak dalam hadis Rasulullah SAW riwayat Imam at-Thabrani.

Dalam riwayat yang lebih lengkap, riwayat Imam at-Tirmidzi, hadis tersebut juga diriwayatkan oleh sahabat Amr bin Syuaib.

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ» رواه الترمذي.

Rasulullah SAW bersabda, “Doa terbaik adalah doa hari Arafah. Dan doa terbaik yang aku dan para nabi ucapkan adalah “Laa ilaaha illallah wahdahu la syarika lahu. Lahul Mulku wa lahul hamdu wa huwa ala kulli syai’in qadir.” (H.R at-Tirmidzi)

Kedua, berpuasa.

Dalam riwayat Imam Muslim, bersumber dari sahabat Abu Qatadah dijelaskan bahwa Rasul pernah bersabda terkait keutamaan orang yang berpuasa di hari Arafah.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

Rasulullah SAW bersabda, “Pahala puasa di hari Arafah di sisi Allah adalah dihapusnya dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya. Sedangkan pahala puasa Asyura di sisi Allah adalah dihapusnya dosa selama setahun sebelumnya.” (H.R Muslim)

Yang perlu diperjelas terkait dosa yang dimaksud dalam hadis di atas adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa besar, yang salah satunya adalah syirik. Dosa syirik diperlukan taubat tersendiri dan harus dengan taubat yang bersungguh-sungguh.

Ketiga, bersedekah.

Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Abbas yang tercantum dalam beberapa kitab hadis enam (kutub as-sittah), seperti Imam Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majjah dijelaskan bahwa salah satu amalan yang utama dilakukan pada hari Arafah adalah sedekah.

Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa seorang yang keluar dari rumahnya dengan jiwanya atau hartanya adalah salah satu amal salih yang bisa dilakukan pada hari Arafah. Dalam hadis tersebut dijelaskan pada hari 10 pertama bulan Dzulhijjah. Sedangkan hari Arafah adalah bagian dari 10 hari tersebut.

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ».

Artinya, “Tidak ada hari-hari yang dicintai Allah untuk mengerjakan amal saleh kecuali hari-hari ini (10 hari pertama Dzulhijjah).” “Bahkan jihad fi sabilillah wahai Rasul?” tanya sahabat. “Iya, bahkan jihad fi sabilillah, kecuali seorang laki-laki yang keluar dari rumahnya dengan jiwa raganya dan hartanya dan tidak berharap semua balasan atas hal tersebut kembali kepadanya.”

Para ulama memaknai kalimat orang yang keluar dari rumahnya dengan hartanya sebagai sedekah. Oleh karena itu, mari perbanyak sedekah di hari Arafah.

Keempat, 

Kategori keempat ini tidak jauh beda dengan ketiga. Dalil atau argumentasinya juga sama. Para ulama memaknai hadis di atas sebagai anjuran juga untuk berbuat baik (amal saleh) dan beribadah sebanyak-banyaknya.

Kelima, 

Dalam sebuah riwayat Abdullah bin Umar diceritakan bahwa pada hari Arafah, Rasulullah SAW bersama para sahabat yang melaksanakan haji mengumandangkan takbir.

غَدَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ مِنًى إِلَى عَرَفَاتٍ مِنَّا الْمُلَبِّى وَمِنَّا الْمُكَبِّرُ

Saat kami berjalan pagi bersama Rasulullah SAW dari Mina menuju Arafah, ada sebagian dari kami yang bertalbiyah ada juga yang bertakbir.

Cerita Abdullah bin Umar di atas memang tidak secara langsung menyebutkan bahwa Rasul menganjurkan bertakbir. Namun, jika Rasulullah SAW diam saat para sahabat bertakbir atau bertalbiyah, maka itu juga bisa disebut hadis taqriri, diamnya Rasul menandakan persetujuannya.

Sebenarnya hadis di atas menggambarkan kondisi Rasulullah dan para sahabat yang sedang menjalankan ibadah haji, namun bagi kita yang tidak sedang melaksanakan haji tentu kita juga bisa mengamalkannya.

Demikianlah lima amalan utama saat Arafah. Semoga kita bisa melakukannya dengan berharap ridha Allah dan pahalanya. Amin.

ثم السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Comments
0 Comments

No comments:

Translate

Artikel Terbaru

Cara Verifikasi dan Validasi Data Nomor Ponsel Siswa, Mahasiswa dan Dosen di Emis

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته بسم الله و الحمد لله اللهم صلى على سيدنا محمد و على أله  و صحبه أجمعين Verifikasi dan Validasi Data Nomor ...

Powered by BeGeEm - Designed Template By HANAPI