Breaking News

10 September 2019

Doa Anak Yatim dan Kehancuran Negeri Iram


Doa anak yatim itu manjur, seperti doanya yang dilalimi. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda: “Takutlah dengan air mata anak yatim dan doa yang yang dilalimi, karena keduanya tetap berputar-putar sekalipun di waktu malam”. Doa anak yatim pernah menyebabkan kehancuran peradaban manusia; tepatnya negeri yang dipimpin raja digjaya bernama Syaddad bin Aad.
Di jaman pra sejarah terdapat 4 (empat) Maharaja yang berhasil menguasai seluruh dunia. Dua raja di antaranya Muslim yakni Nabi Sulaiman dan Raja Dzul Qarnain (Alexander) dan dua lagi melawan Tuhan, yakni Raja Namrud dan Raja Syaddad. Nama Raja Syaddad tidak diekspos dalam Alquran tetapi istana kotanya disebut di dalam QS. Al-Fajr ayat 7-8: “(yaitu) Penduduk Iram yang memiliki bangunan-bangunan mencakar langit yang belum pernah dibangun seperti itu di negeri-negeri lain”.
Iram yang disebut dalam salah satu ayat Alquran itu menurut al-Hamdani (w. 334 H./946 M.) dan Yaqut al-Hamawi (w. 627 H./1229 M) merupakan kota yang berisi bangunan mencakar langit hasil bangunan Raja Syaddad bin ‘Aad namun hilang musnah tertimbun pasir. Letak kota Iram ada yang menyebut di salah satu bagian dari wilayah ar-Rub’u al-Khali di antara Hadramaut di sebelah selatannya dan Oman di sebelah Timurnya: Satu daerah yang 80 persen daratannya merupakan gurun pasir. 
Ada pula yang menyebut berada di provinsi Aden, sebab konon Raja Syaddad terobsesi membangun kota yang mirip gambaran surga Aden dalam kitab-kitab suci yang dibacanya. Raja Syaddad merupakan sosok yang cerdas dan mempelajari semua agama, akan tetapi dirinya sama sekali tidak terketuk beriman. Sebaliknya dia ingin menyaingi Tuhan dengan cara mewujudkan gambaran surga Aden dalam kehidupan nyata pada masanya.
Diapun sudah menyiapkan isi surga buatannya dengan mengawini 990 wanita sebagai calon bidadarinya. Sementara dalam rangka mewujudkan bangunan surga itu Raja Syaddad mengumpulkan 300 devoloper yang masing-masing mempekerjakan 1.000 insinyur. Dalam rencana tata bangun kota, Raja Syaddad menginginkan dibangunkan satu kota dengan bangunan yang menjulang tinggi, taman rekreasi yang luas, yang dikelilingi kanal-kanal dan telaga-telaga yang indah –selayaknya surga. Semuanya didesain menggunakan emas, perak, dan permata.
Permintaan Raja Syaddad yang super power itu dituruti dengan persiapan selama 20 tahun. Para pekerja berkeliling dunia untuk mengumpulkan bahan-bahan terbaik yang diperlukan. Bayangkan! Jika persiapannya memerlukan waktu 20 tahun maka berapa lama waktu pembangunannya? Ada yang menyebut ratusan tahun sebab umur Raja Syaddad lebih dari 900 tahun. Areal bangunan yang dipakaipun tak terhitung luasnya karena untuk acara peresmiannya saja dikonsep menggunakan waktu 40 hari. Hal itu karena terlalu banyaknya bangunan yang perlu diresmikan Raja Syaddad.
Hanya saja konsep hunian kota surga Aden yang dicita-citakan raja Syaddad itu belum dapat dimanfaatkan karena terlebih dulu hancur akibat doa anak yatim. Rupanya pada saat akan digelar acara peresmian ada benda bertombolkan emas sebagai alat peresmian raja Syaddad. Dikarenakan seluruh bahan emas di dunia sudah dieksploitasi habis untuk material bangunan, seorang perancang yang ditugasi dengan terpaksa menarik kalung emas yang dipakai seorang anak yatim untuk menyelesaikan karyanya.
Anak yatim itu menangis tak terima kalung emasnya dirampas. Dia berdoa agar pihak yang berbuat lalim kepadanya dibinasakan. Doa anak yatim itu dikabulkan Allah Swt. Pada saat Raja Syaddad bermaksud meresmikan bangunan kota, tiba-tiba malaikat meniupkan sangkakala kehancuran. Akibatnya kota itupun hancur tersapu badai pasir, termasuk Raja Syaddad dan rakyatnya tanpa satupun yang tersisa. Na’uzdu billah min dzalik.
Comments
0 Comments

No comments:

Translate

Artikel Terbaru

Sukmawati Bandingkan Soekarno-Nabi Muhammad, Wamenag: Silakan Proses Hukum

Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid mendukung proses hukum terhadap  Sukmawati Soekarnoputri  dilaksanakan. Yang penting bagi ...

Powered by BeGeEm - Designed Template By HANAPI