Breaking News

Friday, July 29, 2016

ALASAN KENAPA MUHAMMADIYAH SELALU NAMPAK BEDA DENGAN NU



KH. Ahmad Dahlan dan Kh. Hasyim Asy’ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli hadits dan sama-sama ahli fikih. Saat hendak pulang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan Islam menurut skil dan lingkungan masing-masing. Kiai Ahmad bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan, karena berasal dari Kuto Ngayogyokarto. Sementara Kiai Hasyim memilih pendidikan pesantren karena wong ndeso, Jombang. Keduanya adalah orang hebat, ikhlas dan mulia.

Keduanya memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dengan cara melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kiai Ahmad mendirikan organisasi Muhammadiyah dan Kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu. Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain:

1.    Shalat Tarawih sama-sama 20 rakaat. Kiai Ahmad Dahlan sendiri disebut-sebut sebagai imam shalat Tarawih 20 rakaat di Masjid Syuhada Yogya. 
2.    Talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim doa dalam Yasinan dan tahlilan.
3.    Baca doa Qunut Shubuh.
4.    Sama-sama gemar membaca shalawat (Diba’an).
5.    Dua kali khutbah dalam shalat Ied, Iedul Fithri dan Iedul Adha.
6.    Tiga kali takbir, “Allah Akbar”, dalam takbiran.
7.    Kalimat iqamah (qad qamat ash-shalat) diulang dua kali.
8.    Dan yang paling monumental adalah itsbat hilal, sama-sama pakai rukyah. Yang terakhir inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar dan mana yang salah.

Semua amaliah tersebut di atas berjalan puluhan tahun dengan damai dan nikmat. Semuanya tertulis dalam kitab Fiqih Muhammadiyah yang terdiri dari 3 jilid, yang diterbitkan oleh: Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta, tahun 1343-an H. Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah mulai ada penataan praktek ibadah yang rupanya “harus beda” dengan apa yang sudah mapan dan digariskan oleh pendahulunya. Otomatis berbeda pula dengan pola ibadahnya kaum Nahdhiyyin. Perkara dalail (dalil-dalil), nanti difikir bareng dan dicari-carikan.

Disinyalir, tampil beda itu lebih dipengaruhi politik ketimbang karena keshahihan hujjah atau afdhaliah ibadah. Untuk ini, ada sebuah tesis yang meneliti hadits-hadits yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum atau pola ibadah yang dipilih.

Setelah uji takhrij berstandar mutawassith, kesimpulannya adalah: bahwa mayoritas hadits-hadits yang dipakai hujjah Majlis Tarjih adalah dha’if. Itu belum dinaikkan pakai uji takhrij berstandar mutasyaddid versi Ibn Ma’in. Hal mana, menurut mayoritas al-Muhadditsin, hadis dha’if tidak boleh dijadikan hujjah hukum, tapi ditoleransi sebagai dasar amaliah berfadhilah atau fadhail al-a’mal. Tahun 1995an, Penulis masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Soal dalil yang dicari-carikan kemudian tentu berefek pada perubahan praktek ibadah di masyarakat, kalau tidak disebut sebagai membingungkan. Contoh, ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah rakaat shalat Tarawih 8 plus 3 witir, bagaimana prakteknya?

Awal-awal instruksi itu, pakai komposisi: 4, 4, 3. Empat rakaat satu salam, empat rakaat satu salam. Ini untuk Tarawih. Dan tiga rakaat untuk Witir. Model Witir tiga sekaligus ini versi madzhab Hanafi. Sementara wong NU pakai dua-dua semua dan ditutup satu Witir. Ini versi asy-Syafi’i.

Tapi pada tahun 1987, praktek shalat Tarawih empat-empat itu diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas seruan KH. Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di Masjid al-Falah Surabaya. Beliau tampilkan hadits dari Shahih Muslim yang meriwayatkan begitu. Karena, kualitas hadits Muslim lebih shahih ketimbang hadits empat-empat, maka semua peserta tunduk. Akibatnya, tahun itu ada selebaran keputusan Majlis Tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan mushalla di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktik shalat Tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat. Inilah fakta sejarah.

Kini soal itsbat hilal pakai rukyah. Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat. Semua ahli falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa Muhammadiyah dulu dalam penetapan hilal selalu pakai rukyah bahkan dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung hingga era orde baru pimpinan Pak Harto. Karena orang-orang Muhammdiyah menguasai Departemen Agama, maka tetap bertahan pada rukyah derajat tinggi, tiga derajat ke atas dan sama sekali menolak hilal dua derajat. Dan inilah yang selalu dipakai pemerintah. Sementara ahli falak Nadhliyyin juga sama menggunakan rukyah tapi menerima dua derajat sebagai sudah bisa dirukyah. Dalil mereka sama, pakai hadits rukyah dan ikmal.

Oleh karena itu, tahun 90-an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah, sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal. Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh Departemen Agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta. Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya.

Setelah pak Harto lengser dan Gus Dur menjadi presiden, orang-orang Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak mau dipermalukan di hadapan publiknya sendiri. Artinya, jika masih pakai standar hilal tinggi, sementara mereka tidak lagi menguasai pemeritahan, pastilah akan lebaran belakangan terus. Dan itu berarti lagi-lagi kalah start dan kalah cerdas. Maka segera mengubah mindset dan pola pikir soal itsbat hilal. Mereka tampil radikal dan meninggalkan cara rukyah berderajat tinggi. Tapi tak menerima hilal derajat, karena sama dengan NU.

Lalu membuat metode “wujud al-hilal”. Artinya, pokoknya hilal menurut ilmu hisab atau astronomi sudah muncul di atas ufuk, seberapapun derajatnya, nol koma sekalipun, sudah dianggap hilal penuh atau tanggal satu. Maka tak butuh rukyah-rukyahan seperti dulu, apalagi tim rukyah yang diback up pemerintah. Hadits yang dulu dielu-elukan, ayat al-Quran berisikan seruan “taat kepada Allah, RasulNya dan Ulil Amri” dibuang dan alergi didengar. Lalu dicari-carikan dalil baru sesuai dengan selera.
Populerkah metode “wujud al-hilal” dalam tradisi keilmuwan falak? Sama sekali tidak, baik ulama dulu maupun sekarang.


Di sini, Muhammdiyah membuat beda lagi dengan NU. Kalau dulu, Muhammadiyah hilal harus derajat tinggi untuk bisa dirukyah, hal mana pasti melahirkan beda keputusan dengan NU, kini membuang derajat-derajatan secara total dan tak perlu rukyah-rukyahan. Menukik lebih tajam, yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya. Sementara NU tetap pada standar rukyah, meski derajat dua atau kurang sedikit. Tentu saja beda lagi dengan NU. Maka, selamanya takkan bisa disatukan, karena sengaja harus tampil beda. Dan itu sah-sah saja.

Dilihat dari fakta sejarah, pembaca bisa menilai sendiri sesungguhnya siapa yang sengaja membuat beda, sengaja tidak mau dipersatukan, siapa biang persoalan di kalangan umat?

Menyikapi lebaran dua versi, warga Muhammadiyah pasti bisa tenang karena sudah biasa diombang-ambingkan dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Persoalannya, apakah sikap, ulah atau komentar mereka bisa menenangkan orang lain?

Perkara dalil nash atau logika, ilmu falak klasik atau neutik, rubu’ atau teropong modern sama-sama punya. Justeru, bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan.

Hebatnya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan katanya kritis-kritis itu bungkam dan tunduk semua kepada keputusan Majlis Tarjih. Tidak ada yang mengkritik, padahal kelemahan akademik pasti ada.

Baca selengkapnya ...

Thursday, July 28, 2016

"HIMUNG JADI URANG BANJAR"

Napaan Kita Harus Himung Jadi Urang Banjar

Ulun Bangga Jadi Urang Banjar
Wayahini banyak urang Banjar nang mulai hilang jati diri Banjarnya nangkaya kada ingat lagi lawan adat budaya Banjar. Lewat tulisan ngini pambakal handak mamadahakan sebujurnya bauntung banar kita dilahirakan jadi bagian dari Urang Banjar.
  1. Banua Banjar banyak melahirakan ulama-ulama besar
  2. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan), M. Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul) dan Ustadz Arifin Ilham, tiga ulama besar urang Banjar.
    Banyak ulama-ulama Banjar nang bepengaruh wan mendunia nangkaya Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (Datu Kalampayan); Muhammad Zaini Abdul Ghani (Guru Sekumpul) sampai KH.Idham Chalid yang pernah menjabat wakil Perdana Menteri, ketua MPR/DPR, ketua NU; KH.Hasan Basri yang pernah menjadi ketua MUI hingga Ustadz Arifin Ilham. Banyak juga ulama-ulama Banjar yang menjadi ulama di luar Banua seperti KH.Abdurrahman Siddiq (Datu Sapat) di Indragiri Hilir, Riau; KH.Muhammad Syarwani Abdan Al-Banjari di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur; KH.Huhammad Yusuf Saigon al-Banjari di Saigon, Pontianak; KH.Muhammad Thoha Ma'ruf di Padang, Sumatera Barat. Bahkan banyak ulama-ulama di Malaysia adalah keturunan Banjar seperti Husein Kedah al-Banjari, Harussani Zakaria, Ishak bin Baharom, Ahmad Fahmi Zamzam, Syeikh Nuruddin Marbu al-Banjari al-Makki dan banyak lagi. Banyak juga ulama Banjar yang berada di Mekkah seperti Muhammad Husni Thamrin Al-Banjari, Syekh Abdul Karim Al-Banjari dan Syeikh Ahmad Jamhuri al-Banjari. Wajar jika bumi Banjar disebut bumi lahirnya ulama-ulama besar.
  3. Urang Banjar sudah sejak lama memiliki peradaban tinggi
  4. Artefak di situs Candi Laras peninggalan dari Kerajaan Negara Daha.
    Banua Banjar merupakan tempat berdirinya kerajaan mulai dari Negara Dipa, Negara Daha sampai Kesultanan Banjar. Urang Banjar telah dipersatukan oleh kerajaan yang beragama Buddha, Hindu dan terakhir Islam. Hal ini menunjukkan bahwa adat, budaya dan tradisi urang Banjar adalah hasil asimilasi selama berabad-abad. Urang Banjar sudah sejak lama memiliki peradaban tinggi dan beberapa peninggalan sejarah peradaban Banjar dari zaman prasejarah sampai sekarang bisa dengan mudah dilihat di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru serta situs Candi Agung dan Candi Laras.
  5. Kesultanan Banjar adalah Kerajaan terbesar di Kalimantan
  6. Kesultanan Banjar saat ini.
    Kesultanan Banjar adalah Kerajaan terbesar di Pulau Kalimantan yang wilayahnya meliputi Kalsel, Kalteng, Kaltim bahkan pengaruhnya juga sampai ke Kalbar. Kesultanan Banjar adalah salah satu kerajaan paling kuat di Kalimantan selain Kesultanan Brunei.
  7. Urang Banjar Sudah Mengenal Hukum Tertulis berlandaskan Syariat Islam Sejak Lama
  8. Undang-Undang Sultan Adam, sejak lama Urang Banjar menggunakan hukum syariat Islam.
    Sejak lama urang Banjar sudah mengenal hukum tertulis dengan adanya Undang-Undang Sultan Adam 1835 yang dikeluarakan Sultan Adam Al-Wastsiq Billah, raja Banjar yang menjabat tahun 1825-1857. UUSA yang berlandaskan syariat Islam mempunyai 38 Pasal yang mengatur keagamaan dan peribadatan, hukum pemerintahan, perkawinan, kemasyarakatan, pertanian, peradilan dan pertanahan. Tidak banyak kerajaan/daerah di Indonesia yang sudah mempunyai hukum tertulis pada saat itu.
  9. Pejuang Banjar sangat gigih berjuang melawan penjajah
  10. Perang Banjar di Sungai Barito, 1865.
    Banjar adalah salah satu daerah yang paling sulit ditaklukan Belanda. Perang Banjar (1859-1905) adalah salah satu perang perlawanan terhadap kolonial terlama di Indonesia yang terjadi selama 46 tahun. Sebagai perbandingan : Perang Aceh (1873-1904, selama 31 tahun), Perang Padri (1803-1838, selama 25 tahun) dan Perang Diponegoro (1825-1830, hanya 5 tahun). Ini bukti pejuang-pejuang Banjar sangat gigih berjuang melawan penjajah dan tidak ada kompromi sedikit. Bangga lah kita pada Pangeran Hidayatullah, Pangeran Antasari dan Demang Lehman.
  11. Pejuang-pejuang Banjar punya andil besar di NKRI dalam mempertahankan Kemerdekaan
  12. Brigjen Hasan Basry menerima rangkaian bunga beberapa saat sesudah pertemuan dengan misi militer Belanda dan utusan PBB (UNCI) di Munggu Raya, Kandangan 2 September 1949 (kiri) dan Monumen Proklamasi 17 Mei di Kandangan.
    Pejuang-pejuang Banjar juga punya andil besar di NKRI dalam mempertahankan Kemerdekaan. Pangeran Muhammad Noor yang menjabat gubernur Kalimantan pertama yg berkedudukan di Yogyakarta sudah berperan aktif di BPUPKI dan Brigjen Hasan Basry merupakan pahlawan yang berjasa menyatukan Kalimantan ke dalam Republik Indonesia pada Proklamasi Kalimantan 17 Mei 1949 sebagai reaksi atas Perjanjian Linggarjati yang menyatakan hanya pulau Jawa yang merupakan wilayah Republik Indonesia.
  13. Urang Banjar Sumber SDM di Bumi Kalimantan
  14. Idham Chalid, Saadillah Mursjid, Syamsul Muarif dan Gusti Muhammad Hatta.
    Banyak urang Banjar yang mengisi jabatan pemerintahan, mulai dari Mohammad Hanafiah (Menteri Agraria), Pangeran Muhammad Noor (Menteri PU), Idham Chalid (Wakil Perdana Menteri, ketua MPR/DPR, Menkokesra), Saadillah Mursjid (Mensekneg), ZA Maulani (kepala BIN), Djohan Effendi (Mensekneg), Syamsul Mu'arif (Menkominfo), Taufiq Effendi (MenPAN), Gusti Muhammad Hatta (Menteri LH, Menristek) hingga saat ini : Abdurahman Muhammad Fachir (Wakil Menlu) dan Mahyudin (wakil ketua MPR).
  15. Bahasa Banjar adalah salah satu bahasa dengan jumlah penutur terbanyak di Indonesia
  16. Mamanda, seni teater tradisonal bahasa Banjar.
    Bahasa Banjar masuk ke dalam 5 besar bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak di Indonesia dan dituturkan di Kalsel hingga Kalteng dan Kaltim atau bisa dibilang 3/4 wilayah Kalimantan berbahasa Banjar. Bahkan mayoritas masyarakat Indragiri Hilir, Riau dan Tanjung Jabung Barat, Jambi juga berbahasa Banjar karena mayoritas penduduk disana juga urang Banjar yang madam/merantau.
  17. Urang Banjar dikenal ahli dalam Berdagang
  18. Samarinda, ibukota Kalimantan Timur dimana Urang Banjar perantauan berperan besar dalam sektor ekonomi.
    Urang Banjar dikenal sebagai pedagang yang sukses hingga ke Kalteng, Kaltim sampai luar Kalimantan. Kota-kota besar di Kalimantan (kecuali Kalbar) mayoritas diisi urang Banjar yang menjadi pemain utama dalam sektor ekonomi.
  19. Urang Banjar adalah Pemimpin Kalimantan
  20. Pangeran Muhammad Noor, gubernur pertama Kalimantan.
    Urang Banjar banyak memberikan SDM nya hingga ke Kaltim, Kalteng bahkan luar Kalimantan menjadi pejabat pemerintahan. Banyak gubernur dan bupati di Kaltim dan Kalteng adalah urang Banjar baik yang lahir di Kalsel atau di Kaltim/Kalteng. Begitu pula sumber SDM di bumi Kalimantan adalah Banua Banjar.
  21. Urang Banjar Juga Suka Merantau
  22. Kota Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau yang 70% penduduknya adalah urang Banjar.
    Urang Banjar adalah salah satu suku perantau terbesar di Indonesia selain Jawa, Minang, Bugis dan Batak. Banyak urang Banjar di luar Kalimantan, seperti di Riau, Jambi, Sumatera Utara, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta bahkan hingga ke Malaysia khususnya Negeri Perak, Johor dan Selangor. Mereka tetap mempertahankan tradisi, budaya dan bahasa Banjar walau berada di perantauan.
  23. Kuliner Banjar Kaya dengan Beragam Makanan mulai Masakan hingga Wadai Banjar
  24. Wadai Banjar 41 macam.
    Kuliner Banjar kaya dengan bermacam-macam makanan seperti Soto Banjar, Katupat Kandangan, Apam Barabai sampai 41 macam wadai Banjar yang sudah jadi tuan rumah di Kalsel, Kalteng dan Kaltim. Di Surabaya, Yogyakarta dan pulau Jawa masakan Banjar adalah salah satu masakan luar Jawa yang mudah ditemui selain masakan Padang dan Makassar.
  25. Budaya Banjar Kaya dengan Seni dan Tradisi
  26. Tari Baksa Kembang, salah satu tari klasik Banjar.
    Budaya Banjar kaya dengan bermacam-macam seni dan tradisi dengan sistem budaya, sosial dan material budaya melalui berbagai proses akulturasi dan asimilasi sehingga tampak terjadinya perpaduan dalam aspek-aspek budaya yang dipengaruhi berbagai macam peradaban besar dan melahirkan identitas budaya Banjar seperti terlihat pada seni tari (Tari baksa kembang, radap rahayu dll), karawitan, lagu Banjar, Kuntau/silat Banjar, Mamanda/teater Banjar, Lumut, Madihin, Sinoman hadrah, pantun Banjar dan masih banyak lagi.
  27. Arsitektur Banjar juga Kaya dilihat dari Banyak Jenis Rumah Banjar
  28. Rumah Banjar Bubungan Tinggi.
    Arsitektur Banjar juga sangat kaya terlihat dari bermacam2 jenis rumah Banjar. Ada 10 jenis rumah Banjar. Yang sering ditemui yaitu Bubungan Tinggi yang menjadi rumah adat Kalsel. Selain itu ada pula jenis Gajah Baliku dan Gajah Manyusu.
  29. Banua Banjar Kaya dengan Bermacam Tempat Wisata
  30. Pasar Terapung Muara Kuin, Banjarmasin.
    Banyak tempat-tempat wisata menarik di Banua Banjar, misalnya Pasar Terapung yang menunjukkan kedekatan urang Banjar dengan sungai (sejak lama sungai sudah menjadi jalur transportasi masyarakat Banjar), pasar intan Martapura yang menjual intan dan berlian hasil bumi Banjar, bamboo rafting Loksado, wisata alam Pagat Batu Benawa, pantai Angsana yang tak kalah indahnya dengan pantai di daerah lain dan masih banyak lagi.
  31. Banua Banjar Kaya dengan Hasil Alam
  32. Intan Martapura, salah satu kekayaan alam Banua Banjar.
    Banua Banjar kaya dengan hasil alam, dari intan, batu permata, pertambangan batubara sampai minyak bumi. Itulah kekayaan yang diberikan Tuhan pada urang Banjar dan kita harus menjaga dan melestarikannya. Namun sayangnya banyak pejabat kita sendiri yang mau menjual kekayaan di banua pada orang luar hingga di Banua masih sering terjadi krisis listrik.
Baca selengkapnya ...
Powered by BeGeEm - Designed Template By HANAPI