Breaking News

08 October 2019

Bagaimana Buku Agama Madrasah Disusun? Ini Dasar Filosofisnya


Kemenag menggelar Workshop Penyusunan Buku Madrasah. Program yang digawangi Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah ini akan menyusun sejumlah buku pelajaran agama yang akan digunakan di madrasah.
Ada lima mata pelajaran agama di madrasah atau yang disebut dengan Dirasah Islamiyah. Kelimanya adalah Alquran Hadis, Akidah Akhlak, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab.
Sekjen Kemenag M Nur Kholis Setiawan mengatakan, Dirasah Islamiyah bisa dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu: sebagai rumpun ilmu, bidang ilmu, dan spesialisasi ilmu. “Dirasah Islamiyah sebagai rumpun ilmu pada jenjang madrasah, dari MI sampai MA; sebagai bidang ilmu pada jenjang Strata 1, sedang sebagai spesialisasi ilmu pada S2 dan S3,” kata M Nur Kholis Setiawan di Surabaya, Kamis (03/10).
Menurutnya, lima mata pelajaran agama yang diajarkan di madrasah adalah ekstrak dari Dirasah Islamiyah dengan dasar filosofis sebagai berikut:
Pertama, Al-Quran Hadis. Mata pelajaran ini mengenalkan dan mengarahkan peserta didik pada sumber segala sumber. "Sumber kebenaran dari sudut pandang manapun adalah Alquran dan sunah," ujarnya.
Kedua, Fikih. Ini merupakan mata pelajaran yang mengajarkan intelektualitas, kreatifitas berpikir dan keberanian berpikir. Mata pelajaran Fikih bukan hanya hafalan, tetapi kreatifitas berpikir. Fikih juga mengajarkan toleransi dan menghargai pendapat. "Karena dalam fikih tidak bisa dielakkan adanya varian perbedaan pendapat," jelasnya.
Ketiga, Akidah Akhlak. Mata pelajaran ini menanamkan pondasi agar siswa tidak terjebak ekstrimisme, baik kiri (liberalisme) maupun kanan (radikalisme). "Ada keseimbangan antara moraliras dan intelektualitas," jelasnya.
Keempat, Sejarah Kebudayaan Islam. Mata pelajaran ini hendak memberikan contoh. Ketika Alquran hadis mengajarkan sumber kebenaran, fikih mengajarkan intelektualitas, kreatifitas dan keberanian berpikir, maka Sejarah Kebudayaan Islam menyajikan contoh kehidupan masa lalu.
“Apa yang sudah dipraktikkan oleh para ulama. Tokoh-tokoh ilmuan Islam tidak pernah tabu berbeda pendapat, meski hubungan guru murid. Apa yang disuguhkan dalam SKI adalah contoh peradaban Islam, ada toleransi, kreatifitas berpikir, kebebasan berpikir, tetapi pada saat yang sama ada ketawadhuan (akhlak),” papar M Nur Kholis Setiawan.
Kelima, Bahasa Arab. Ini menjadi sumber utama Islam karena Alquran berbahasa Arab. Bahasa Arab diajarkan dalam rangka menggali kebenaran dari sumber kebenaran, juga dalam rangka mengkaji metode berpikir para ulama. 
“Bahasa Arab yang diajarkan di Madrasah, juga di pesantren adalah bahasa peradaban klasik. Materi Bahasa Arab sekarang hendaknya dimasukkan bahasa arab modern, sebagai modal pergaulan dunia,” tambah M Nur Kholis Setiawan.
Terakhir, M Nur Kholis Setiawan menyampaikan bahwa pada RPJMN 2020, Kementerian Agama menjadi leading sector dalam penguatan Moderasi Beragama. Untuk itu, buku yang disusun harus selaras dengan penguatan moderasi beragama sejak dini.
Comments
0 Comments

No comments:

Translate

Artikel Terbaru

CPNS Dibuka 25 Oktober, Cek 4 Formasi Terbanyak Tahun Ini

Ada kabar gembira bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang memiliki latar pendidikan di bidang seperti guru atau bidan karena kedua...

Powered by BeGeEm - Designed Template By HANAPI